Pelantun Qur'an Banyak Tapi Ulama Berkurang. Benarkah Tanda Akhir Zaman?




Pelantun Qur'an Banyak Tapi Ulama Berkurang. Benarkah Tanda Akhir Zaman?

Pelantun Qur’an Banyak Tapi Ulama Berkurang. Benarkah Tanda Akhir Zaman?

Saat ini begitu banyak orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang ingin menjadi seorang pelantun Al Qur’an. Memang hal itu menjadi sebuah kebanggaan dan dianggap baik oleh masyarakat. Terlebih karena merdunya suara bacaan yang disertai dengan nada yang berbeda, membuat pelantun Al Qur’an mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Namun tahukah bahwa semakin banyaknya pelantun Al Quran justru menjadi pertanda hari akhir? Bahkan kenyataan tersebut diperjelas dengan berkurangnya para ulama atau penyampai syiar-syiar agama.

Pernyataan ini bukanlah pendapat seseorang yang benci terhadap banyaknya pelantun Al Qur’an. Justru Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri yang menyebutkan mengenai hal itu dalam hadistnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Akan tiba satu zaman yang ketika itu Qurra (pelantun Al Qur’an) semakin banyak, ulama semakin sedikit, ilmu diangkat dan Al Haraj merajalela.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan Al Haraj?”

Rasulullah kemudian menjawab, “Saling membunuh diantara kalian. Setelah itu akan datang satu zaman yang pada saat itu orang-orang membaca Al Qur’an, namun bacaan mereka tak pernah melewati tenggorokan mereka. Lalu, akan tiba satu zaman yang pada saat itu orang munafik yang kafir dan musyrik mendebat orang mukmin dengan apa yang bisa ia ucapkan.”

Jadi banyaknya pelantun Al Qur’an yang menjadi tanda akhir zaman adalah ketika bacaan Qur’an tersebut hanya berkutat pada nada atau hanya sampai tenggorokan semata. Tak sedikit pun bacaan tersebut menyentuh hati karena tak pernah didalami kandungan di dalamnya.

Terlebih lagi kini semakin banyak sosok ulama yang wafat dan itu berarti diangkat pula ilmu Allah. Dan jika sudah tidak ada lagi ulama di muka bumi, maka manusia pun akan mengangkat para pemimpin bodoh yang menjawab tanpa adanya ilmu. Dan Itu berarti juga bahwa mereka telah sesat dan menyesatkan orang lain.

Abdullah ibn Amr Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dari manusia dengan sekali cabutan. Namun Dia akan mengangkat ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga ketika sudah tidak ada seorang alim pun yang hidup, masyarakat akan mengangkat pemimpin yang bodoh, yang apabila ditanya, mereka pun berfatwa tanpa landasan ilmu sehingga mereka pun sesat dan menyesatkan.”

Jadi ilmu Allah terutama untuk kehidupan akhirat tidak langsung dicabut dari para penghafalnya, melainkan melalui wafatnya para ulama yang menjadi pengembannya.

Pemberitaan telah menyebutkan bahwa saat ini begitu banyak ulama yang meninggal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Contoh ulama yang memiliki pengaruh dalam dakwah serta telah wafat antara lain Syaikh Imam Abdul Aziz Ibn Abdillah Ibn Baz, Syaikh Al Allamah Muhammad Ibn Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Al Muhaddist Muhammad Nashruddin al Albani.

Jika diperhatikan pula, banyak kini masyarakat muslim, terutama anak muda yang lebih berlomba-lomba untuk membaguskan suaranya dalam melantunkan Al Qur’an dibandingkan mempelajari dengan sungguh-sungguh ilmu syariat dan hukum-hukum Allah. Alhasil ketika ditanya kepada mereka tentang ilmu bersuci ataupun tentang sujud sahwi, mereka pun tak mampu menjawabnya dengan benar.

Maka takutlah dengan keadaan tersebut yakni lebih mementingkan suara dibandingkan keilmuan agama, meski pun yang dilantunkan adalah Kalamullah.

Baca Juga:


Semoga kita semua tak hanya berusaha membaguskan suara untuk melantunkan Al Qur’an, namun juga berusaha dengan sungguh-sungguh mempelajari ilmu syariat dan hukum-hukum Allah.

Wallahu A’lam





loading...

close ini