Renungan Islami: Bukan Tuhan Yang Jauh, Tapi Kita Yang Menjauh




Renungan Islami: Bukan Tuhan Yang Jauh, Tapi Kita Yang Menjauh │ Ketika hidup penuh dengan masalah, beban hidup terasa berat. Setiap helaan napas terasa begitu sesak. Ingin rasanya teriak mengapa semua ini terjadi? Mengapa Tuhan memberikan cobaan bertubi-tubi? Mengapa pula Dia tidak pernah menjawab do’a-do’a selama ini? Apakah Tuhan sudah benar-benar pergi? Menjauh tanpa lagi peduli?

Itulah segelintir tanya yang sering muncul di benak manusia ketika ia tengah dilanda susah dan gelisah. Apalagi kesusahan hidup yang menimpanya tak kunjung berakhir, hingga ia menilai bahwa Tuhan sudah tiada lagi bersamanya. Jika manusia sudah sampai pada titik kesimpulan seperti itu, maka hal tersebut sangat berbahaya. Mungkin ia tak akan lagi berbuat baik karena menilai bahwa perbuatan baiknya sia-sia belaka. Toh Tuhan selalu menimpakan kesengsaraan dalam hidupnya.

Renungan Islami:  Bukan Tuhan Yang Jauh, Tapi Kita Yang Menjauh

Saudaraku, ingatlah sebenarnya bukan Tuhan yang jauh, tetapi kitalah yang menjauh. Kesengsaraan hidup yang menimpa bukan berarti Allah Subhanahu Wa Ta‘ala telah melupakan kita dan menyia-nyiakan amal kebaikan kita di dunia. Hidup senang atau hidup susah di dunia ini tidak ada hubungannya dengan jauh dekatnya Allah terhadap hambaNya.

Seorang ‘alim bernama Juna’id pernah berkata: “Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mendekati hati hamba-Nya sesuai dengan seberapa dekat hamba tersebut mendekati-Nya. Jadi, lihatlah seberapa dekat hatimu kepada-Nya”.

Maka janganlah pernah berhenti beramal baik hanya karena hidup susah di dunia dan menyangka Tuhan telah menjauh. Jika amal baik terhenti maka amal buruklah yang akan menghiasi. Dan justru banyaknya maksiatlah yang akan membuat Tuhan jauh dari hambaNya.

Maka daripada menyalahkan Allah dengan menilai bahwa Dia telah menjauh, lebih baik kita berusaha untuk mendekatkan diri pada-Nya. Seperti perkataan Junaid di atas, lihatlah seberapa dekat hatimu kepada-Nya. Jadi kunci kedekatan kita dengan sang Kholiq terletak pada hati.

Hati yang kering kerontang sudah tentu jauh dari sang penggenggam hati tersebut. Hati yang gersang akan membuat perilaku pemiliknya jauh dari nilai-nilai kebaikan. Jika ia berbicara maka kata-kata yang keluar penuh dengan kekasaran dan ucapan sia-sia belaka. Jika ia berjalan, maka kakinya akan mengantarkannya ke tempat-tempat yang jauh dari rahmat-Nya. Pun jika ia berbuat, maka perbuatannya akan mengundang murka-Nya hingga akhirnya ia semakin jauh dan jauh dari Robb-nya.

Maka untuk mendekat kepada-Nya, siramilah hati hingga ia menjadi subur. Lalu bagaimana caranya menyirami hati? Bukankah air tak bisa membuatnya basah? Salah satu cara menyirami hati yakni dengan menghadiri majlis ta’lim. Dengarkanlah ayat-ayat-Nya yang sedang dibacakan disertai dengan tafsirnya hingga kita paham akan makna ayat-ayat tersebut. Dengarkanlah pula sabda-sabda Nabi yang shahih hingga kita tak kehilangan arah dalam beramal.

Lalu setelah ilmu untuk beramal shalih kita dapatkan, maka praktikanlah. Ilmu tanpa praktik pengamalan, laksana orang yang berjalan pincang. Sedangkan beramal tanpa ilmu, laksana orang yang buta penglihatan. Mulailah dari hal-hal kecil seperti bersegera menunaikan shalat ketika sang muadzin telah mengumandangkan adzan. Malulah pada diri sendiri ketika dengan begitu cepat tergopoh-gopoh menjawab dering telepon masuk, namun dengan begitu santai berleha-leha di depan TV ketika seruanNya memanggil.

Cara kedua yang dapat ditempuh untuk menyuburkan hati yakni dengan memperbanyak membaca kalimat tahlil. Gersangnya hati merupakan salah satu tanda menurunnya keimanan seseorang. Iman seseorang memang bersifat fluktuatif hingga ia harus di charge sesering mungkin.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Perbarui iman kalian” Lalu ditanyakan: “Ya Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami?” Beliau pun menjawab: “Perbanyaklah ucapan Laa Ilaaha Illallahu”. (HR. Ahmad dan Hakim)

Demikian, semoga tulisan ini dapat menyadarkan kita semua bahwa Allah dekat dengan hambaNya. Kitalah yang menjauh darinya karena menghiasi diri dengan berbagai kemaksiatan. Maka mulailah berusaha untuk mendekat kembali padanya dengan langkah awal menyuburkan kembali hati yang gesang. Ingatlah bukan Tuhan yang jauh, tapi kitalah yang menjauh.





close ini