Renungan Islam: Kapan Harus Berlari Dan Kapan Harus Berjalan




Renungan Islam: Kapan Harus Berlari Dan Kapan Harus Berjalan │ Semakin dewasa diri kita, semakin jarang bibir tersenyum. Beda dengan waktu kita masih kanak-kanak, senyum merekah selalu menemani setiap hari. Walau kadang memang ada tangis, namun tak berapa lama tangis itu sudah terhapus dengan senyum bahagia. Sedangkan bibir kita saat ini, lebih banyak terkatup dari pada merekah terbuka.

Apa yang salah?

Renungan Islam: Kapan Harus Berlari Dan Kapan Harus Berjalan

Semakin dewasa kita, semakin banyak tuntutan dari berbagai penjuru kehidupan yang membebani pundak kita. Hingga kita pun menghabiskan seluruh waktu untuk menanggung beban hidup itu. Beban hidup terbesar era sekarang ini muncul dari bidang ekonomi. Himpitan ekonomi terasa begitu berat, hingga kita pun merelakan waktu dan tenaga tercurah habis untuk memenuhi kebutuhan di bidang ekonomi.

Ketika subuh menjelang, kita sudah siap sedia berangkat kerja. Terlebih jika tempat kerja kita jauh dari tempat tinggal. Ketika hari mulai petang, kita baru berhenti kerja. Waktu tempuh perjalanan balik pun cukup menguras energi. Ditambah kondisi jalanan macet, plus jika musim hujan tiba, banjir memutus akses jalan dimana-mana. Semuanya membuat mumet dan stres.

Namun besoknya tetap saja kita terjebak dengan rutinitas yang sama. Hingga kondisi tubuh pun sampai pada titik lelahnya. Tak ada tenaga lagi untuk mengerjakan hal lain dan sayangnya termasuk didalamnya ibadah. Sholat 5 waktu begitu mengganggu dan menambah-nambah pekerjaan. Jadi lebih baik tinggalkan saja lah, toh tak ada orang yang tahu.

Maka ketika subuh menjelang, gangguan kumandang adzan speaker masjid tak lagi terdengar sedikit pun di telinga. Asli, tubuh lelah ini butuh tidur. Begitu pula ketika waktu dzuhur dan ashar tiba, kerjaan dari bos nanggung sedikit lagi beres. Maghrib, isya terjebak di perjalanan. Begitu sampai rumah, tubuh perlu mandi, makan dan kembali istirahat. So, selamat tinggal sholat 5 waktu.

Begitulah kebanyakan dari kita. Kita begitu disibukkan dengan urusan dunia, dimana kita berlomba-lomba menumpuk dan memperbanyak harta. Hingga untuk urusan dunia, lari marathon tanpa henti pun pasti dilakoni. Padahal Al Qur’an telah memberi panduan, kapan kita harus berlari dan kapan kita harus berjalan.

Perhatikan ayat-ayat di bawah ini!

Ayat pertama

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah...”. (QS. Adz Dzariyat: 50)

Ayat kedua

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan sholat jum’at, maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jum’ah: 9)

Ayat ketiga

“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Robb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”(QS. Ali Imran: 133)

Ayat keempat

“....Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah: 148)

Ayat kelima

“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk: 15)

Perhatikan kata yang dicetak tebal di tiap ayat dari ayat pertama hingga ayat keempat! Disana ada kata bersegeralah dan berlombalah. Bersegera dan berlomba untuk apa? Untuk beribadah mengingat Allah, mendirikan sholat, menuju ampunan-Nya, dan berbuat kebaikan. Dan tentu saja, kata ‘bersegera dan berlomba’ tidak akan bisa diraih hanya dengan berjalan. Bersegera dan berlomba harus diraih dengan berlari sekencang-kencangnya hingga sampai pada tujuan dalam tempo yang secepat-cepatnya.

Sedangkan pada ayat kelima, ketika urusannya berkenaan dengan masalah rezeki, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dengan lafadz “berjalanlah”. Dengan kata lain janganlah berlelah-lelah berlari mengejar dunia. Untuk urusan dunia, cukup berjalanlah (di sini juga ditekankan jangan diam menanti rezeki, tapi berikhtiarlah). Namun sekali lagi, ikhtiar mencari dunia tidak usah sampai pada tahap berlari dimana seluruh tenaga kita habis untuknya dan tak ada lagi tenaga untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agama kita.

Dengan hanya berjalan saja, InsyaAllah dunia akan terasa cukup. Sedangkan mereka yang berlari mengejar dunia adalah mereka yang tidak pernah merasa cukup. Padahal rumah sudah seperti keraton, kendaraan sudah berjejer seperti prajurit, perhiasan dan uang sudah menumpuk seperti toko emas dan bank berjalan. Namun tetap saja dari hari ke hari dia hidup seperti hewan dimana rutinitasnya hanya makan, nyari rezeki, lalu tidur. Begitu berulang terus-menerus hingga akhirnya ia sampai ke liang kubur.

Maka sahabat, perhatikanlah untuk apa dan kapan kita harus berlari serta untuk apa dan kapan kita cukup berjalan.






close ini