Inspirasi Islami: Ternyata Inilah Kendaraan Terbaik Menuju Baitullah




Inspirasi Islami: Ternyata Inilah Kendaraan Terbaik Menuju Baitullah │ Siang itu, matahari terasa begitu terik. Panasnya menyengat walaupun baju pelindung telah menutupi seluruh badan. Angin padang pasir pun tak mau kalah, ia bertiup kencang membuat butiran-butiran halus itu beterbangan mengaburkan pandangan. Kondisi ini membuat seorang pemuda kerepotan dalam mengarungi luasnya padang pasir. Ada sedikit keraguan dalam hatinya, apakah ia harus meneruskan perjalanan dalam kondisi tersebut atau kembali pulang.

Inspirasi Islami: Ternyata Inilah Kendaraan Terbaik Menuju Baitullah

Tahun itu ia berniat pergi berhaji ke Baitullah. Segala perbekalan telah disiapkannya. Makanan, minuman, dan tempat berlindung telah disusun rapi dalam wadah yang dipikul unta kesayangannya. Namun walau ia telah siap sedia, kondisi gurun yang tidak bersahabat membuat niatnya sedikit melemah. Hingga ia dilanda keraguan apakah hendak meneruskan perjalanan atau menghentikannya.

Di tengah-tengah kebimbangannya, nampak dari kejauhan satu titik hitam yang membentuk siluet manusia. Setelah semakin dekat, barulah jelas ternyata titik hitam itu adalah seorang lelaki tua yang berjalan terseok-seok seorang diri. Pemuda itu pun turun dari untanya, kemudian menghampiri si kakek.

“Duhai kakek, kemanakah kakek hendak pergi?” Tanyanya penasaran.

“Insya Allah, aku akan pergi ke Baitullah”. Jawab orang tua itu.

“Ke Baitullah?? Dengan berjalan kaki? Seorang diri pula?”. Tanyanya keheranan.

“Betul Nak, tahun ini aku akan melaksanakan ibadah haji”. Jawab orang tua itu dengan tenang.

“Duh Masya Allah, kakek tahu kan Baitullah itu jauh sekali dari sini. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, kapan kakek bisa sampai? Bagaimana kalau nanti kakek tersesat atau mati kelaparan? Harusnya kakek menyiapkan bekal dan naik kendaraan”. Saran si pemuda.

Ia merasa heran dengan si kakek kenapa tidak mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan jauh. Ia saja yang kuat lagi muda dan menaiki unta masih merasa kesulitan dalam menempuhnya.

“Aku juga berkendaraan”. Kata si orang tua itu.

Mendengar ucapan si kakek, si pemuda menengok ke kanan dan ke kiri, ke depan ke belakang memastikan kendaraan apa yang ditunggangi si kakek. Namun tetap saja ia tidak menemukan kendaraan apa pun.

“Berkendaraan? Mana Kek, aku tidak melihat kendaraan apa pun?” Tanyanya heran. Kini ia menyangka jangan-jangan orang tua di hadapannya itu sudah tidak waras.

“Kau tidak melihat kendaraanku”. Tanya si kakek.

Sontak saja kedua alis si pemuda semakin berkerut. Orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Jangan-jangan orang tua ini memang sudah tidak waras.

“Memangnya mana kendaraan kakek? Kendaraan apa yang kakek pakai?”. Rasa penasaran membuat si pemuda kembali mengajukan pertanyaan.

Sejenak, orang tua itu hening termenung. Disapunya butiran-butiran pasir gurun dengan pandangan matanya yang tampak teduh. Didorong oleh rasa penasaran, pemuda itu sabar menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut si kakek.

“Nak, kendaraanku banyak. Kalau aku melewati jalan yang lurus lagi datar dan mudah dilewati, aku gunakan kendaraan yang bernama syukur. Sedang jika kutemui jalan yang menanjak lagi sulit didaki, maka kugunakan kendaraan yang bernama sabar”. Jawab kakek itu tenang. “Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai tujuan, maka kugunakan kendaraan yang bernama ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan tawakkal. Itulah kendaraan-kendaraanku menuju Baitullah”. Sambung si kakek.

Mendengar jawaban tersebut, si pemuda tercengang. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan pelajaran hidup yang begitu berharga dari seorang tua yang ditemuinya di perjalanan. Ia pun merasa malu akan diri sendiri yang tadi sempat berpikir untuk membatalkan perjalanan menuju Baitullah. Rasa malu itu bercampur dengan rasa bersalah karena telah sempat pula pikirannya menuduh orang tua yang begitu bijaksana itu sebagai orang yang tidak waras.

Ia pun menawarkan agar si kakek naik kendaraannya dan mereka pergi bersama ke Baitullah. Namun dengan halus, si kakek menolak tawarannya. Ia berkata jika sekarang ia menerima tawarannya, maka ia takut dirinya bergantung pada makhluk dan melupakan Sang pencipta makhluk.

***

Itulah kendaraan terbaik menuju tempat tujuan. Maka dalam hidup ini, bukan mobil mewah yang kita perlukan untuk mencapai tujuan. Bukan pula harta melimpah yang kita butuhkan sebagai bekal. Cukup dengan syukur, sabar, ridha dan tawakkal tujuan hidup akan mampu dicapai.