Kisah Hikmah: Masyaallah, Hutang Orang Ini Dibayar Lunas Oleh Allah




Kisah Hikmah: Masyaallah, Hutang Orang Ini Dibayar Lunas Oleh Allah │ Dalam hidup, tutup lobang gali lobang pinjam uang bayar hutang sudahlah biasa. Apalagi bagi mereka yang hidup dalam himpitan ekonomi. Berhutang dalam Islam memang diperbolehkan, asal saja kita memperhatikan pelunasan hutang tersebut. Jangan sampai kita menunda-nunda pelunasan hutang hingga ia semakin lama semakin menumpuk. Jika jumlahnya sudah terlalu besar, maka kitalah yang akan merasa kesulitan sendiri untuk melunasinya.

Terkait hutang, ada kisah salah seorang sahabat yang hutangnya dibayar lunas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tepat ketika keselamatan dirinya terancam oleh sang penagih hutang. Nah, hutang yang bagaimana yang dimiliki sahabat ini hingga Allah sendiri yang turun tangan? Berikut kisahnya.

Kisah Hikmah: Masyaallah, Hutang Orang Ini Dibayar Lunas Oleh Allah

Dialah Bilal bin Ra’bah Radhiyallahu ‘Anhu, seorang bekas hamba sahaya yang mengalami penderitaan hebat akan keputusannya memeluk Islam. Setelah dirinya ditebus dan menjadi orang merdeka, ia diangkat menjadi mu’adzin Rasulullah karena suaranya yang nyaring dan merdu.

Suatu hari seseorang bertanya kepada Bilal Radhiyallahu ‘Anhu: “Bagaimanakah biaya pengeluaran Rasulullah?”

Bilal menjawab: “Beliau tidak pernah menyimpan sesuatu. Sayalah yang mengurus keuangannya. Apabila datang seorang Islam yang sedang kelaparan maka beliau menyuruh saya melayani orang itu. Saya meminjam dari siapa saja untuk memberi orang itu makan”.

Hal seperti ini terus menerus terjadi, hingga suatu ketika aku bertemu dengan seorang musyrik, dia berkata: “Saya mempunyai banyak harta benda. Maka janganlah kamu meminjam dari siapa pun, apabila kamu mempunyai keperluan, berhutanglah kepada saya”.

Aku menjawab: “Apalagi yang lebih baik dari hal ini”. Maka aku pun mulai mengambil hutang dari dia. Apabila datang perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka aku datang dengan membawa pinjaman dari orang itu dan memberikan kepada orang yang beliau kehendaki”.

Suatu ketika setelah berwudhu, saya bangun untuk mengumandangkan adzan, orang musyrik itu datang bersama beberapa orang lainnya dan berkata: “Hai Habsyi!”. Maka saya pun memalingkan wajah ke arahnya, tiba-tiba dia mencaci maki dan mengeluarkan kata-kata kotor dari mulutnya, sambil berkata: “Tinggal berapa hari lagi habisnya bulan ini?”

Saya menjawab: “Bulan ini sudah hampir habis”.

Dia berkata: “Tinggal 4 hari lagi. Apabila engkau belum melunasi seluruh pinjaman kepadaku hingga akhir bulan ini, maka aku akan menjadikanmu sebagai hamba sahaya dan kamu harus mengembala kambing seperti dahulu”.

Setelah berkata demikian, dia pergi meninggalkan saya. Sesuatu yang sangat saya takutkan telah terjadi, saya merasa sangat bingung dan gelisah. Setelah shalat isya ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tengah duduk seorang diri, saya mendekatinya dan menceritakan peristiwa tadi.

Saya berkata: “Ya Rasulullah, engkau tidak mempunyai persediaan apa pun untuk membayar hutang itu saat ini. Dan saya pun tidak mempunyai apa-apa. Saya merasa orang itu akan menghinakan saya lagi. Oleh karena itu apabila diizinkan, saya akan bersembunyi, sambil menyiapkan sesuatu untuk membayar hutang. Apabila datang kepada engkau sesuatu dari mana saja, maka aku akan datang”.

Setelah berkata demikian, saya segera pulang ke rumah. Saya mempersiapkan pedang, perisai, sepatu, dan semua barang-barang untuk di perjalanan. Saya menunggu sampai datangnya waktu subuh. Ketika datang waktu subuh, saya pun siap-siap pergi tanpa tujuan. Tetapi menjelang kepergian saya itu, seorang utusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang berlari sambil berkata: “Cepatlah, datang menemui Nabi!”. Saya pun segera datang menemui Nabi dan melihat 4 ekor unta dengan muatannya sedang duduk.

Beliau berkata: “Dengarkanlah kabar gembira ini wahai Bilal. Allah telah menyiapkan sesuatu untuk melunasi hutang-hutangmu. Ambillah unta-unta ini beserta muatannya. Barang-barang ini telah dikirim kemari sebagai hadiah untukku oleh ketua kaum Fidak”.

Saya mengucapkan syukur kepada Allah dan dengan gembira membawa semua barang itu. Saya baru kembali setelah melunasi seluruh hutangku. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sedang menunggu di dalam masjid. Saya berkata: “Ya Rasulullah... Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah membebaskan kita dari seluruh hutang-hutang, dan tidak ada sesuatu pun yang tersisa dari hutang-hutang itu”.

***

Demikianlah pertolongan Allah datang di saat yang tepat kepada orang yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan agama Allah. Bilal Radhiyallahu ‘Anhu berhutang bukan untuk kepentingan pribadinya, namun untuk memberi makan saudara-saudara muslimnya yang datang kepada Nabi dalam keadaan kelaparan. Bilal berniat bersembunyi dari penagih hutang pun bukan karena ia mau lepas tanggung jawab. Namun saat itu memang dirinya dan diri Nabi-nya tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk dibayarkan. Ia berniat bersembunyi sambil menyiapkan sesuatu untuk membayar hutang.

Alhamdulillah, di saat genting itu hutangnya dibayar lunas oleh Allah. Ketua kaum Fidak digerakkan hatinya untuk memberikan hadiah kepada Rasul sebanyak 4 ekor unta beserta muatannya hingga Bilal pun mampu melunasi hutang-hutangnya. Jadi jika segala sesuatu diniatkan karena Allah, termasuk dalam mengambil hutang (misalnya untuk menyambung hidup, memberi makan anak dan istri), maka Allah jugalah yang akan memberikan jalan keluar untuk melunasinya.

Wallahu A’lam