Kisah Hikmah: Dikira Berumur 20 Tahun Lagi, Pria Ini Justru Meninggal Setelah 24 Jam




Kisah Hikmah: Dikira Berumur 20 Tahun Lagi, Pria Ini Justru Meninggal Setelah 24 Jam

Kisah Hikmah: Dikira Berumur 20 Tahun Lagi, Pria Ini Justru Meninggal Setelah 24 Jam

Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Jodoh, mati, umur maupun rezeki hanya Allah saja yang mengetahuinya. Seperti itulah misteri yang terjadi dan lahir di dunia ini hingga meninggalkannya.

Sebuah kisah yang menarik berkaitan dengan kematian terekam jelas dalam buku Musyahadat Thabib Qashash Waqi’iyah yang ditulis oleh seorang dokter bernama Dr.dr Khalid bin Abdul Aziz Al Jabir. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa Dr Khalid memiliki seorang pasien yang masih muda sekitar 20 tahun keatas dan harus dioperasi karena suatu penyakit. Karena merasa ketakutan, akhirnya pemuda itu pun kabur dari rumah sakit.

Namun setelah dua minggu kemudian, pemuda itu kembali datang ke hadapan Dr Khalid dan menyatakan penyesalannya telah kabur dari operasi. Setelah ditelusuri dengan berbagai pertanyaan, barulah pemuda itu mengaku bahwa saat itu ia takut akan kematian dan belum siap jika harus mati.

Mendengar pernyataannya, Dr Khalid pun menceritakan tentang dirinya yang mendatangi salah seorang temannya. Maksud kedatangannya tersebut tak lain untuk mengingatkan agar temannya itu mau menjaga shalat.

Karena temannya tidak terima mendapatkan nasehat, maka ia berkata, “Wahai Abu Ubaidillah, jika kedatanganmu hanya untuk memperdebatkan masaalah ini, lebih baik kamu bicarakan hal yang lain.”

Namun Dr Khalid tetap bersikukuh mengingatkan karena ia amat menyayangi temannya tersebut. Ia berkata, “Wahai Abu Fulan, takutlah kepada Allah! Kamu tidak tahu kapan kamu mati!”

Mendengar ucapan sang dokter, temannya itu pun semakin congkak dan berkata bahwa ia masih muda dan baru berusia 40 tahun. Sementara ayahnya meninggal pada umur 90 tahun dan kakeknya meninggal diusia 100 tahun.

Ia mengatakan bahwa akan beribadah ketika umurnya sudah 60 tahun atau sekitar 20 tahun lagi karena ingin menikmati kebebasan masa mudanya untuk berfoya-foya sekaligus menuruti keinginan duniawi.

Setelah beberapa kali diingatkan dan dijawab dengan penuh kecongkakan, akhirnya Dr Khalid pun pulang dengan kesedihan.

Namun esok malamnya, seseorang datang menemui Dr Khalid dan mengatakan bahwa Abu Fulan telah meninggal karena kecelakaan. Abu Fulan merupakan teman yang kemarin Dr Khalid nasehati agar jangan meninggalkan shalat, kini tewas dengan mengenaskan.

Keadaan yang menggetarkan tersebut bercampur dengan kesedihan karena telah melalaikan nasehat yang harusnya segera ia laksanakan.

Sebuah nasehat yang dijawab dengan angkuh akan mendirikan shalat ketika usianya bertambah 20 tahun lagi. Namun ternyata Allah justru memberinya kesempatan hanya 24 jam saja.

***

Kisah seperti ini sungguh nyata di lingkungan kita dimana banyak manusia yang tak sadar akan kematian yang bisa menjemputnya setiap saat. Ketika menghadiri pemakaman pun tak mengingatkan mereka pada kematian, namun justru keadaannya seperti sebuah pasar yang jauh dari mengingat Allah.

Mereka dengan santainya menghantarkan jenazah sembari bercanda ria ketika memasuki pemakaman. Sungguh keadaan yang sangat berbeda dengan sahabat Rasulullah yang digambarkan oleh Ibnul Qayyim.

“Jika kita merenungkan sisi-sisi kehidupan para sahabat Rasulullah, kita akan dapati mereka sangat giat beramal dengan diiringi rasa takut kepada Allah. Sementara amal ibadah kita sangat kurang, bahkan kita telah bersikap meremehkan dan merasa aman dari ujian Allah.”

Semoga menjadi pengingat kita semua bahwa kematian itu sangat dekat, bahkan kita pun tidak akan menyadari bahwa jaraknya telah satu jengkal di hadapan kita. Siapkah kita menghadapinya dengan amal yang alakadarnya ini?