'Pasanganmu Adalah Busanamu'.. Begini Tafsirnya!




Dalam suatu ayat di Surat Al Baqarah, Allah SWT pernah berfirman, Yang bahwasanya seorang suami atau istri adalah pakaian bagi pasangannya yang lain,

'Pasanganmu Adalah Busanamu'.. Begini Tafsirnya!


Dibolehkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian untukmu, dan kamu pun adalah pakaian untuk mereka. …” (QS Al Baqarah: 187)

Dalam ayat diatas, Al Quran memberikan sebuah analogi yang simple dalam menjelaskan sesuatu. Dan inilah satu contoh teknik dalam memberikan pencerahan kala berdakwah, sehingga mudah dipahami bagi siapapun termasuk kalangan awam.

Cara penggambaran sederhana dengan teknik analogi ini memungkinkan kita untuk menelaah dengan cepat dan mudah tentang apa yang dimaksudkan dalam sebuah nash. Dalam ilmu psikologi komunikasi, menyampaikan pesan harus dilakukan sesederhana mungkin sehingga mudah dipahami bagi yang mendengarkannya, Karena menyampaikan suatu pemahaman dengan cara yang njlimet, bisa jadi merupakan bukti ketidakpahaman penyampai dengan materi yang disampaikannya.

Begitu juga dalam Islam, Al Quran mengumpamakan suami dan istri layaknya pakaian. Ada banyak makna yang bisa kita gali dari analogi ‘pakaian’ ini, kata yang sederhana namun sarat akan makna dan hikmah dari kitab ilahi:

– Dalam dunia fashion, Pakaian mempunyai filosofinya sendiri. Diantaranya, Pakaian haruslah sesuai dengan karakter dan suasana hati si pemakainya. Pakaian yang dipakai untuk musim apa dan suasana hatinya sedang bagaimana. Begitu juga dengan bentuk, warna dan ukurannya. Begitu juga seorang istri harus sesuai dan sepadan dengan suami, sejalan dengan pemikiran dan kepribadian pasangannya. Karena jika tidak serasi maka hancurlah biduk rumah tangga yang telah dibina.

– Dalam kalangan tertentu, Pakaian merupakan hiasan bagi pemakainya. bentuk dan warna pakaian adalah sumber kenyamanan. Seorang istri pun demikian suaminya. Dialah sumber ketentraman bagi pasangannya.

– Pakaian adalah sesuatu untuk menutup aurat, karena jika aurat terbuka sama halnya dengan membuka aib pemiliknya. Maka suami dan istri sudah seharusnya menutupi aib dan kesalahan pasangannya, tidak mudah menutup aib rumah tangga pada pihak lain. Keduanya harus saling mengerti dan menutupi serta menjaga kehormatan masing-masing demi tercapainya keluarga sakinah mawaddah warahmah.

– Sudah diketahui secara umum bahwa pakaian merupakan sumber perlindungan, bisa melindungi manusia ketika panas menerjang maupun dingin menghantam. Suami dan istri pun merupakan sumber kehangatan bagi masing-masing pasangan. Seorang istri akan selalu menjaga rumah tangganya dari berbagai bahaya yang datang dan selalu berusaha mempertahankan hangatnya kehidupan.

– Pakaian adalah simbol kehormatan manusia. Siapapun yang tidak berpakaian akan mengundang hinaan dari orang lain. Begitu juga tidak menikah atau tinggal tidak seatap dengan pasangan dalam kurun waktu yang lama akan mendatangkan celaan dan menyebabkan penyimpangan sosial. Maka Nabi menganjurkan pada umatnya yang masih membujang untuk segera menikah, karena menikah merupakan sunnah yang sangat dianjurkan.

– Ketika cuaca dingin, Orang terbiasa memakai pakaian tebal yang bisa menghangatkan tubuh, Namun di saat musim panas manusia seharusnya memakai pakaian yang terbuat dari katun tipis. Jika sebaliknya, bisa dianggap tidak normal. Artinya, suami istri harus menyesuaikan pasangan masing-masing. Jika suami marah seorang istri harus bisa meredamnya dengan sikap lemah lembut, jika marah jangan dilawan dengan marah pula, bisa terjadi ‘korsleting’. Jika suami lelah, seorang istri sholihah haruslah berusaha menghibur dan mengurangi rasa lelah suaminya.

– Manusia harus menjaga pakaiannya dari kotoran dan bahaya yang bisa merusak. Pun suami istri harus selalu menjaga pasangannya dari perbuatan dosa dan maksiat yang dilarang oleh Allah, karena perilaku buruk salah satu pasangan akan membuat kotor bahtera yang sedang ditumpangi bersama.

Wallahu A'lam