Awas!! Gafatar Telah Menyusup Hingga Pelosok Desa, Orang-Orang Seperti Ini Calon Korbannya!

Awas!! Gafatar Telah Menyusup Hingga Pelosok Desa, Orang-Orang Seperti Ini Calon Korbannya!

author photo
Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) bukanlah sebuah organisasi baru. Pendeklarasian Gafatar ternyata telah dilakukan pada 21 Januari 2012 silam di gedung JIEXPO Kemayoran. Organisasi yang diketuai oleh Mahful M. Tumanurung ini dulunya namanya Komar (Komunitas Millah Abraham) dan sebelum namanya Komar mereka mempunyai Al-Qiyadah Islamiyah (Ajaran sesat dengan Nabi Palsunya Ahmad Musadek).

Karena dilarang dan dianggap sesat oleh Kemenag, Kemudian berubah nama menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA) dan sampai sekarang terkenal dengan nama GAFATAR.

Waspada!! Gafatar Telah Menyusup Ke Pelosok Desa, Jangan Sampai Lengah!


Aliran GAFATAR ini terkuak ke media setelah beberapa warga Yogyakarta dan sekitarnya diduga hilang, Ada empat orang yang berasal dari DIY hilang karena mengikuti gerakan ini. Adapun dr Rica Tri Handayani dan anaknya, Diah Ayu Yulianingsih, seorang ibu putra satu anak dari Sleman; seorang PNS RSUP Dr Sardjito berinisial ES; serta Ahmad Kevin Aprilio pelajar SMA yang hilang bersama ayahnya.

Sekarang ini, Aliran GAFATAR sudah menyebar dari Aceh sampai Papua, banyak anggota Gafatar yang telah ditangkap polisi karena menyebarkan aliran sesatnya.

Khusus di DKI, Ormas Gafatar selalu mengadakan acara Donor Darah di kantor PMI, dan juga melakukan aksi sosial lainnya, itu merupakan cara mereka untuk menutupi kesesatannya.

Untuk pengurusnya adalah Ketua Umum DPP Gafatar yaitu Mahful Muis dengan nama baiatnya Imam Hawary adalah mantan Ketua AlQiyadah Islamiyah wilayah Sulawesi Selatan (Makasar) yang sempat ditangkap dan dibawa ke sidang pengadilan.

Wakil Ketua Umum yaitu Wahyu Sandjaya dengan nama baiatnya A Ghazali Muhtadi. Untuk Pengurus Wilayah DKI Jakarta diketuai Lucky Akri Wibowo

Ciri-ciri ajaran mereka : Tidak wajib sholat lima waktu, tidak wajib puasa ramadhan, syahadat mereka berbeda, yang bukan kelompok mereka dianggap kafir.

Mereka juga tidak wajib menunaikan ibadah haji dan melaksanakan salat Jumat berjemaah di masjid bahkan mereka juga tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir.

“Kami pernah menggelar diskusi, dan memang Gafatar tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir,” kata Ali Irfan, Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Sulawesi Tenggara.

Menurut Ali, Gafatar mengakui Nabi setelah Nabi Muhammad adalah Ahmad Musadek. “Ia diakui datang ke dunia sebagai utusan Tuhan,” kata Ali Irfan.

Dalam menyebarkan ajarannya, Ali Irfan menuding Gafatar berkedok sebagai organisasi kemasyarakatan. Kelompok ini kerap mengadakan berbagai kegiatan sosial, seperti donor darah, sunat massal, aksi bersih lingkungan, hingga memberikan modal usaha dan pupuk untuk pertanian.

“Ini ajaran sesat yang dibungkus dengan kegiatan sosial. Pengikutnya disuruh menandatangani surat pernyataan yang berisi anggota Gafatar harus meninggalkan segala kegiatan yang bernuansa syariah,” kata Ali Irfan.

Atas penemuan itu, menurut Ali Irfan, pihaknya sudah menggelar rapat terpadu dua hari lalu dengan melibatkan unsur pemerintah, kepolisian, Majelis Ulama Indonesia, dan Muhammadiyah. Forum itu menginstruksikan kepada wali kota dan bupati untuk tidak memberikan izin sekaligus melarang kegiatan Gafatar di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.

Cara Gafatar Rekrut Anggota Baru

Pola perekrutan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sudah terbaca Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Cholil Nafis mengatakan bahwa Gafatar menyasar orang-orang berpendidikan tinggi yang tertarik dengan agama tapi tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mencukupi.

"Gerakan-gerakan semacam ini kan sasarannya para kaum-kaum eksekutif yang tertarik belajar agama, tapi mereka tidak mempunyai dasar pengetahuan yang cukup," kata Cholil, Selasa (12/1/2016).

Gafatar akan sangat berkembang di daerah-daerah dengan jumlah kaum muda terpelajar yang tinggi namun dengan pengetahuan agama rendah. Para kaum muda terpelajar namun tidak memiliki dasar pengetahuan kuat ini lah yang akan menjadi sasaran empuk gerakan-gerakan semacam Gafatar.

"Kenapa si orang tertarik? Karena ada semangat belajar agama tapi dasar ilmu mereka tidak memadai," jelas Cholil.

"Belajar agama itu kan berjenjang, kualitas gurunya juga harus dilihat. Tapi ini memahami agamanya secara imajinasi sesuai kualitas pemikiran mereka," tegasnya.

Cholil mengakui Gafatar sudah tersebar di beberapa daerah. Namun, pola gerakan di setiap daerah berbeda-beda.

"Ini sudah antar daerah, tidak cuma di Kalimantan, di tempat lain juga ada, Bahkan sudah masuk ke pelosok desa" tegasnya.

Dari Orang Galau Sampai Yang Pengetahuan Agamanya Kurang

Dihubungi di tempat terpisah, Pengamat Intelejen Wawan Heri Purwanto menjelaskan, salah satu pintu masuk aliran ini dengan cara mendekati orang-orang yang sedang bermasalah atau galau.

"Pola-pola perekrutannya dengan cara mendekati orang-orang yang sedang galau atau sedang bermasalah," kata Wawan, Senin (11/1/2015).

Wawan tak menampik banyak kalangan terpelajar yang mungkin ikut direkrut untuk masuk Gafatar. Hal itu dimanfaatkan mereka sebagai cara untuk mengumpulkan donasi.

"Ya banyak yang terpelajar, karena memeng mereka itu sudah discouting dulu. Mungkin disitu ada upaya mengumpulkan uang juga, golongan terpelajar kan juga memiliki uang, jadi ini salah satu cara untuk mendapatkan donasi," papar Wawan.

Di website Gafatar, organisasi ini disebut dideklarasikan di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada tahun 2012. Dasar pendirian organisasi adalah belum merdekanya Indonesia. Menurut mereka, Indonesia masih dijajah neokolonialis. Di sisi lain, para pejabat serakah dan kerap bertindak amoral. "Kenyataan ini membuat kami terpicu untuk berbuat," tulis Gafatar sebagaimana dikutip detikcom, Senin (11/1/2016).

Program kerja Gafatar sendiri di antaranya merupakan gerakan sosial ketahanan dan kemandirian pangan. Mereka memajang dokumentasi kegiatan seperti perkemahan, pelatihan kebencanaan, pelatihan untuk remaja, dan lain-lain. Beberapa orang hilang seperti dr Rica misalnya, disebut-sebut menghilang selama dua minggu dan pergi ke Mempawah atau Sanggau, Kalimantan Barat, untuk mengikuti kegiatan Gafatar.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Gafatar terkait isu-isu yang beredar. Sementara di sisi lain, usai menemukan dr Rica, Kapolda DIY menyebutkan, ada kemungkinan dr Rica memang terlibat Gafatar.

"Kalau mendengar keterangan dari suaminya, sebelum menikah (Rica) memang aktif di Gafatar. Setelah menikah mandeg," ujar Brigjen Erwin Triwanto di Mapolda DIY, Jl Ring Road Utara, Sleman, Senin (11/1/2016).

Sumber: Detik.com
Next article Next Post
Previous article Previous Post