Renungan: Menyesal Gara-Gara Menolak Lamaran Karena Motif Ekonomi

Diposting pada

KabarMakkah.Com – Waktu yang terus merayap membuat umurnya semakin bertambah, meninggalkan masa mudanya jauh di belakang hingga tak terasa sekarang dia sudah memasuki kepala empat. Sekilas jika diperhatikan dari luar, wanita lulusan S2 itu nampak bahagia dengan karirnya yang berada di atas puncak. Karirnya terus menanjak, seiring dengan banyaknya prestasi yang Ia torehkan. Namun jika kita teliti lebih dalam, ada kegelisahan yang terus menggelayutinya setiap malam. Kegelisahan yang menyita seluruh pikirannya. Kegelisahan yang dipicu akan jodoh yang tak kunjung datang.

muslimah merenung
Jodoh yang Tak Kunjung Datang

Sebenarnya dulu pernah ada yang mau melamarnya, walaupun belum sampai ke tahap serius bicara pada kedua orang tuanya. Sang pemuda tiada lain adalah bekas teman SMA-nya yang sekarang sudah bekerja sebagai tenaga pengajar honorer di salah satu sekolah negeri. Namun benih-benih rasa suka yang hendak ditanam sang pemuda tidak disambut hangat olehnya, malah disiramnya dengan sikap dingin sehingga sang pemuda mundur teratur.

Jika dilihat dari segi fisik, wajah sang pemuda termasuk kategori cukup tampan. Bentuk tubuhnya pun proporsional dengan tinggi badan rata-rata pemuda asia. Latar belakang keluarganya tidak ada yang jelek, semuanya baik di mata hukum dan masyarakat. Dari segi agama, walaupun tidak sampai tingkat mahir namun sang pemuda bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar. Nampaknya ia pun tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu.

Akan tetapi yang menjadi ganjalan adalah pekerjaan sang pemuda yang hanya sebagai guru honorer. Terhitung sudah berapa banyak gaji yang diterimanya tiap bulan. Terbayang kehidupannya kelak jika Ia jadi bersanding dengan sang pemuda. Apalagi gelar S2 yang disandangnya tidak sepadan dengan gelar yang disandang sang pemuda. Minimal ia harus mendapatkan pendamping hidup yang mempunyai gelar yang sama, syukur-syukur lebih. Dan tentu saja sang pendamping harus sudah bekerja dengan penghasilan mapan, bahkan melebihi gajinya sendiri.

Telah pula dilaluinya beberapa kali proses ta’aruf. Namun Ia selalu merasa belum menemukan calon yang pas dengan kriteria yang diinginkannya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun…. CV yang dikirimkannya sudah tidak lagi mendapat tanggapan. Mungkin sang murobi tidak lagi mengajukan CVnya karena tidak ada pemuda yang sesuai dengan kriterianya.

Dan inilah dia sekarang, kerutan-kerutan halus sudah menghiasi bagian bawah kelopak matanya. Make up memang bisa menyamarkan kerutan-kerutan tersebut, namun bertambahnya umur tetap tidak bisa dibohongi. Usianya tak muda lagi, sedang jodohnya tak kunjung datang.

Pernah suatu kali tak sengaja dia bertemu salah seorang teman SMA-nya. Iseng Ia tanyakan kabar sang pemuda yang dulu pernah ingin melamarnya. Dari temannya itu terkuak kabar bahwa sang pemuda kini telah menikah dan telah dikaruniai 2 orang anak. Rumah tangganya pun aman tentram, tanpa pernah diwarnai percekcokan yang berarti.

Sejenak Ia termenung… ternyata ada wanita lain yang mampu bertahan di tengah himpitan ekonomi seperti itu. Sedangkan dulu, Ia menolak sang pemuda hanya karena tidak mau hidup susah dalam kehidupan berumah tangga. Kini yang bisa dilakukannya hanya berdo’a semoga Allah mengirimkan jodoh siapa pun itu, tanpa harus lagi memenuhi kriterianya dulu.

Sepenggal kisah di atas memang hanya fiksi. Namun sekarang, kisah tersebut banyak terjadi dan menimpa kaum hawa yang ada di sekitar kita. Tingginya karir dan gelar yang disandang muslimah zaman sekarang, kadang justru menghalanginya untuk mudah mendapatkan jodoh.

Kesalahan terletak pada dirinya sendiri yang menetapkan segudang kriteria yang harus dipenuhi sang pemuda. Muslimah tersebut malu dengan lingkungan jika suaminya bergelar rendah. Sehingga para pemuda yang mungkin menaruh hati padanya pun minder mendekatinya. Ditambah sedikitnya penghasilan calon suami, membuat si muslimah takut duluan bahwa kelak hidupnya akan menderita.

Coba kita bandingkan kisah di atas dengan kisah Asma binti Abu Bakar R.A beikut ini:

Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, diceritakan bahwa Asma R.A berkisah: “Ketika saya menikah dengan Zubair r.a, dia tidak memiliki harta apapun. Tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk meringankan pekerjaan, juga tidak memiliki sesuatu apapun. Yang kami miliki hanyalah seekor unta yang biasa digunakan untuk membawa air dan rumput juga seekor kuda.


Saya yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tadi. Saya yang mengisi tempat air sendiri, apabila embernya pecah maka saya pula yang memperbaikinya sendiri. Selain itu, saya yang merawat kuda, mencarikan rumput dan memberikannya makan. Saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang diri. Dan yang paling sulit adalah memberi makan kuda.


Karena saya kurang pandai membuat roti, maka biasanya saya hanya mencampurkan gandum dengan air kemudian saya bawa kepada seorang wanita Anshar untuk dimasaknya. Dia adalah wanita yang sangat ikhlas dan dialah yang memasakkan roti untuk saya.


Ketika Rasulullah SAW hijrah ke madinah, maka beliau telah menghadiahkan sebidang tanah kepada Zubair r.a yang letaknya kurang lebih 2 mil dari Madinah. Lalu kami menanam pohon-pohon kurma di atas tanah itu. Pada suatu hari saya sedang berjalan di kebun sambil membawa kurma yang saya letakkan di atas kepala saya. Tiba-tiba saya berjumpa dengan Rasulullah dan beberapa sahabat Anshar yang sedang menunggang unta. Rasulullah SAW menghentikan untanya setelah melihat saya. Kemudian beliau mengisyaratkan saya agar menaiki unta beliau. Saya merasa sangat malu dengan kaum lelaki lainnya dan saya merasa sangat khawatir karena suami saya Zubair r.a sangat pencemburu. Saya khawatir dia akan marah. Rasulullah SAW memahami perasaan saya hingga akhirnya beliau meninggalkan saya.


Kemudian saya segera pulang ke rumah dan sesampainya di sana saya menceritakan kejadian tadi pada suami saya. Saya berkata bahwa saya khawatir suami saya akan cemburu dan marah kepada saya. Zubair r.a berkata : “Demi Allah saya lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa kurma-kurma di atas kepalamu sedangkan saya tidak dapat membantumu”.

Lihatlah bagaimana Asma R.A tidak menolak untuk menikah dengan Zubair R.A padahal saat menikah, Zubair R.A tidak memiliki harta apa pun kecuali seekor unta dan kuda. Dan lihatlah betapa Asma R.A mau bersusah payah mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang begitu berat. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk mengajukan gugatan cerai pada sang suami. Tidak pula pekerjaannya dibarengi dengan keluh kesah dan kemarahan akan ketidakmampuan sang suami menyenangkan hidupnya.

Di tengah kesulitan hidup yang dialaminya, Asma R.A tetap menjaga perasaan sang suami. Ia takut jikalau sang suami cemburu yang seterusnya akan mendatangkan kemarahannya melihat Ia diberi tumpangan unta oleh Rasulullah SAW. Ia lebih memilih untuk pulang jalan kaki menempuh jarak 2 mil ketimbang mengorbankan perasaan sang suami.

Beda halnya dengan muslimah-muslimah yang sudah bersuami di zaman sekarang ini. Saling menjaga perasaan sudah tidak berlaku lagi. Jangankan ada yang menawari tumpangan, tak ada yang menawari pun sang muslimah mengajukan diri untuk ikut serta dibonceng.

Kembali ke masalah jodoh. Pernikahan di zaman Rasulullah SAW tidak pernah dipersulit. Apalagi dipersulit dengan berbagai kriteria kemapanan ekonomi yang harus dipenuhi calon suami. Fatimah R.A, putri Rasulullah SAW sendiri dinikahkan dengan Ali R.A dengan mahar hanya sebuah baju besi. Bahkan jika tidak mempunyai sesuatu apapun yang dapat diberikan, hafalan Al Qur’an yang dijadikan mahar pun tidak jadi soal.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa dalam memilih pasangan hidup ada 4 kriteria yang harus dipertimbangkan; yang pertama adalah bentuk fisiknya (kecantikan/ketampanan), yang kedua keturunannya, yang ketiga hartanya dan yang keempat adalah agamanya. Jika kita lebih mengutamakan kriteria yang keempat, maka hal itu lebih baik bagi kita.

Kecantikan, ketampanan, keturunan dan harta benda bisa hilang dimakan waktu. Namun kesholehan dalam segi agama akan mengantarkan pada kehidupan kekal bahagia kelak di akhirat sana. Lebih baik mempunyai seorang suami yang marah jika anak istrinya tidak menunaikan sholat ketimbang punya suami yang sibuk bekerja dan pulang kantor membawa seabreg hadiah tanpa pernah bertanya tentang amal ibadah anak istrinya sekalipun. Dan bagaimana mau bertanya atau mengajarkan anak istri beramal ibadah, dirinya sendiri sudah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Tuhan.

Wallahu A’lam.

Loading...