Takkan Memuliakan Kecuali Orang Mulia. Takkan Menghina Kecuali Orang Yang Hina.

Diposting pada

Ada beberapa kebiasaan unik yang ditanamkan ibu saya kepada anak-anaknya. Sebuah kebiasaan yang menurut saya luar biasa. Kebiasaan pertama adalah tentang mengumpulkan pakaian bekas yang masih layak pakai untuk kemudian disumbangkan kepada pihak yang membutuhkan. Mungkin terdengar biasa saja ya? Tapi ibu saya membuat kegiatan ini  menjadi memiliki nilai tambah yang berbeda.

Jika kami mengumpulkan pakaian bekas yang ada di rumah, satu hal yang selalu ibu tekankan pada kami anak-anaknya adalah bahwa kami harus memastikan bahwa pakaian itu benar-benar layak pakai. Tidak ada yang robek, tidak lusuh, dan tidak ada yang cacat pada pakaian itu.

Gerobak

Indikator untuk menilai ini adalah apakah kami masih mau mengenakan pakaian itu jika saja pakaian itu masih cukup kami pakai atau belum ada pakaian baru yang menggantikannya. Kalau kita sendiri malu memakainya berarti itu mungkin tidak pantas lagi diberikan.

Setelah mendapatkan pakaian pantas pakai itu kami masih harus mencucinya dengan bersih. Jangan sampai kami memberikan pakaian dalam kondisi bau kamper atau sudah menjamur dan kondisi yang tidak layak lainnya. Selanjutnya ibu menyuruh kami untuk mengemas pakaian yang akan disumbangkkan itu dengan sebaik-baiknya. Kita setrika dan lipat dengan rapih, jika perlu disemprot dengan pewangi kemudian dibungkus dengan plastik bening transparan sehingga mengesankan bahwa baju itu masih baru, masih terbungkus dengan rapi dalam plastik. Dengan kondisi seperti itulah pakaian itu disumbangkan kepada yang membutuhkan.

Harapannya adalah agar sang penerima baju itu lebih bahagia dan merasa dimuliakan ketika diberi pakaian dalam kondisi sebaik itu. Tentu beda rasanya menerima pakaian yang lusuh dan bau, bahkan berjamur dan ditumpuk dalam kondisi berantakan di dalam kardus dengan pakaian yang dilipat dan dibungkus rapi dengan aroma yang wangi.

Analoginya seperti ini, tentu berbeda ketika orangtua memberi kita uang cash satu juta dengan lembut, penuh kasih sayang dan senyuman disertai doa agar uang itu bermanfaat untuk  kita dibandingkan dengan ketika beliau memberikannya dengan dilemparkan ke muka kita sambil berteriak, “nih satu juta buat kamu, dasar nggak berguna! Bisanya cuma minta aja!”.

Yang pertama akan membuat kita bahagia berbunga-bunga sedangkan yang kedua akan membuat hati kita terasa sangat sakit walaupun satu juta sudah di tangan. Padahal  sama-sama satu juta, tapi cara penyampaian membuatnya sungguh terasa berbeda sekali.

Kebiasaan yang kedua adalah tentang memisahkan botol bekas air mineral. Keluarga kami biasa membeli satu atau dua karton air mineral botolan sebagai bekal ke kantor atau ke sekolah setiap hari atau sebagai persediaan ketika akan pergi ke luar kota. Ibu selalu menginstruksikan seluruh anggota keluarga  untuk menyendirikan sampah botol air mineral tersebut di sebuah kardus bekas, dipisahkan dari berbagai jenis sampah yang lain.

Kenapa harus dipisah? Ternyata botol-botol bekas itu merupakan harta karun luar biasa bagi seorang pemulung. Harga jualnya di pengepul sampah cukup tinggi dibandingkan sampah-sampah jenis lain, terutama botol bekas air mineral merek tertentu yang memimpin pasar air mineral di Indonesia sekarang ini. Kebetulan keluarga memakai merek itu. Jadi adalah sebuah kebahagiaan besar bagi seorang pemulung jika bisa mendapatkan banyak botol  bekas air mineral yang berharga itu.

Nah, pemisahan sampah botol itu dimaksudkan agar kakek pemulung yang sering lewat di depan rumah tidak susah mengorek-ngorek sampah untuk medapatkan botol-botol bekas itu. Dengan kebiasaan sederhana itu kami bisa memberikan segunung kebahagiaan bagi kakek pemulung di kompleks rumah kami.

Coba bayangkan ada seorang pemulung tua yang sudah lelah dan kesulitan mendorong gerobak sampah tiba-tiba kita panggil. Dan dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menyodorkan satu kardus penuh botol air mineral kepadanya. Wow! Betapa bahagianya pemulung itu menerima satu kardus harta karun dari kita. Instan, tanpa harus mengorek-ngorek sampah sepanjang hari.

Kebiasaan ketiga adalah tentang prioritas sedekah. Sejak kami kecil, Ibu selalu menekan perlunya menghargai kerja keras orang lain. Terutama orang-orang kecil yang masih mau bekerja untuk mencari nafkah dan menghindarkan diri dari perbuatan meminta-minta.

Contohnya penjual koran di  perempatan jalan. Ibu selalu mengatakan pada kami bahwa lebih baik bersedekah kepada penjual koran itu daripada memberi uang kepada pengemis. Apalagi setelah di beberapa kota diberlakukan perda larangan memberikan uang pada pengemis di jalanan. Selain itu kini banyak terungkap  bahwa pengemis di perempatan jalan seringkali merupakan pengemis yang terkoordinir dan sejatinya merupakan orang yang tidak layak diberi sedekah.

Cara sedekah yang diajarkan ibu pun sangat berusaha menjaga agar sang penjual koran tidak merasa seperti pengemis yang diberi uang cuma-cuma. Ibu mengajari untuk membeli koran jualannya dengan memberikan uang melebihi harga koran itu. Misalnya harga korannya Rp.2.500,-, kita beri ia uang Rp.5000,-. Nah waktu tukang korannya hendak mengambil uang kembalian, dengan tersenyum kita bilang, “sudah pak, kembaliannya buat bapak aja.” Lalu sempatkan melihat ekspresi kaget dan bahagia tukang koran itu. Dan rasakan kebahagiaan yang meluap-luap dalam hati kita melihat orang lain bisa begitu berbahagia hanya dengan uang Rp.5000,- kita.

Hal yang serupa juga dicontohkan ibu ketika bertemu orang-orang kecil lain yang bersemangat bekerja walaupun susah. Misalnya nenek atau kakek tua yang menjual buah-buahan hasil kebun sendiri, jajanan pasar atau apapun untuk menyambung hidup, kepada tukang sapu jalanan, tukang becak yang sudah renta, dan sebagainya.

Ibu juga sering memberi teladan luar biasa kepada kami tentang cara beliau memperlakukan orang-orang kecil. Salah satunya yaitu Ibu mau menyetir mobil sendiri masuk gang-gang sempit mencari rumah mantan pembantu yang sudah lama berhenti bekerja karena menikah untuk menyerahkan bingkisan lebaran. Padahal ibu tidak terlalu suka menyetir sendiri, apalagi lewat gang sempit yang tentunya sangat menyulitkan. Padahal orang lain mungkin akan mencibir,”Ya ampun, sama bekas pembantu aja sampai segitunya sih?!”

Ketiga kebiasaan sederhana yang ibu tanamkan kepada anak-anaknya itu berawal dari semangat untuk selalu memuliakan orang lain, untuk selalu berusaha membahagiakan orang lain, terutama orang-orang yang sering dianggap remeh oleh masyarakat. Semakin rendah kedudukan orang tersebut di mata orang lain, maka kita harus semakin berusaha untuk memuliakannya, mengangkat derajatnya, memperlakukan dia sebaik-baiknya, seperti kita memperlakukan orang-orang lain yang memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat.

Dan sungguh, adalah kebahagiaan besar bagi mereka ketika ada orang-orang seperti kita yang memperhatikan mereka, berusaha membahagiakan mereka. Namun, juga merupakan kebahagiaan yang jauh lebih besar bagi kita ketika kita mampu membuat mereka tersenyum bahagia dengan pemberian dan perhatiann kita yang sejatinya tak seberapa itu.

Dari apa yang telah diajarkan dan dicontohkan ibu, saya memahami bahwa tidak akan bisa memuliakan orang lain, kecuali orang-orang yang mulia. Orang yang memuliakan orang lain pasti di dalam dirinya berlimpah kemuliaan sehingga ingin berbagi kemuliaan itu kepada orang lain. Karena orang yang tak punya apa-apa tak kan pernah bisa memberi apa-apa. Ia hanya bisa memberi apa yang ia punya. Teko berisi teh hanya bisa mengeluarkan teh, tak bisa mengeluarkan kopi atau susu.

Sebagai manusia tentu saja kita menginginkan menjadi orang yang mulia di hadapan orang lain, apalagi di sisi Allah. Namun, seringkali kita berusaha meraih kemuliaan itu dengan merendahkan orang lain. Kita begitu mudah menginjak orang lain agar kita menjadi lebih tinggi.

Padahal tidaklah seseorang itu merendahkan orang lain kecuali bahwa ia sedang merendahkan dirinya sendiri. Ia hanya sedang mengumumkan kepada khalayak tentang kehinaan dirinya. Ia hanya bisa merendahkan karena dirinya sendiri juga rendah. Lalu bagaimana Allah akan memuliakan kita jika memuliakan orang lain saja kita tidak mampu? Jika yang bisa kita lakukan hanya menyakiti  dan merendahkan?

Maka mari kita berkaca, masihkah kita gemar merendahkan orang lain? Adakah kita masih suka menginjak orang lain untuk mengemis kemuliaan pada kehampaan? Sudahkah kita memuliakan orang lain dengan berusaha membahagiakannya? Sudahkan kita peduli dengan orang-orang kecil di sekitar kita? Sudah pantaskah mahkota kemuliaan itu kita miliki?

Sungguh, takkan memuliakan kecuali orang mulia. Takkan menghina kecuali orang yang hina.

Penulis: aditya putra priyahita
Sumber

Loading...