Subhanallah, Umat Islam Harus Tahu! Begini Nih Cara Sedekah Rasulullah

Diposting pada

Rasulullah SAW adalah sebaik-baik teladan bagi semua umat manusia. Dalam setiap episode kehidupannya, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil untuk kita terapkan dalam kehidupan. Dan di antara berbagai episode kehidupan Rasulullah SAW itu, ada satu yang menarik, yaitu tentang salah satu cara beliau memperlakukan orang-orang yang lemah secara ekonomi.

Suatu hari, beliau didatangi seorang lelaki yang pekerjaan utamanya adalah mengemis. Dia tidak pernah berusaha mencari pekerjaan lain. Dari wajahnya, Rasulullah SAW mengetahui orang itu berjiwa pesimistis, lemah, dan tidak memiliki rasa percaya diri. Pakaiannya compang-camping dan kondisinya sangat menyedihkan.

Melihatnya, Rasulullah SAW merasa kasihan. Nabi SAW memberinya beberapa dirham, kemudian menyuruhnya untuk membeli kapak kecil. Nabi sendiri yang akan membuat gagangnya.

Setelah kapak dibeli dan gagangnya selesai dibuat oleh Nabi SAW, beliau menyuruh lelaki itu itu untuk merobohkan semua kelemahan dirinya, membuang kebiasaan meminta-minta, serta menyuntikkan rasa percaya diri, semangat berjuang, kerja keras, dan optimisme ke dalam jiwanya.

Lelaki itu memahami dengan baik maksud dan tujuan Rasulullah SAW memberinya kapak. Rasulullah SAW menyuruhnya pergi ke suatu desa untuk mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya, serta tidak datang menemui Rasulullah SAW sebelum lima belas hari. Dengan begitu dia telah membeli kembali harga dirinya yang telah tergadai dengan kemuliaan, kesucian, dan harapan.

Benar saja. Setelah waktu yang ditentukan, lelaki itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW. Tetapi tidak seperti lelaki lima belas hari yang lalu. Dia datang dengan pakaian yang lebih baik, dengan semangat baru, jiwa baru, bahkan dengan postur tubuh baru. Kerut-merut dahinya sudah hilang. Raut mukanya juga sudah berubah cerah. Kondisinya sudah berubah sama sekali.

Saudaraku, Rasulullah SAW mampu mengubah seorang peminta-minta menjadi seorang pekerja keras dalam waktu lima belas hari.

Kisah ini memberi satu pelajaran penting bagi kaum Muslimin yang diberi kelebihan rezeki oleh Allah SWT, bahwa cara bersedekah yang baik adalah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tidak dengan memberi makan yang hanya akan habis dalam waktu beberapa jam, tetapi dengan memberi mereka harapan dan kemampuan yang dengannya mereka akan bisa mencari makan sendiri tanpa harus meminta-minta kepada orang lain.

Jenis-jenis Sedekah Menurut Rasulullah

Sedekah termasuk amalan yang bersifat sosial (al-muta’ddiyah). Artinya, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakannya, namun juga dirasakan oleh banyak orang lain. Selama ini sedekah dipahami sebatas pemberian sejumlah uang kepada orang miskin atau mereka yang tidak mampu. Sehingga, seakan-akan sedekah hanya “dimonopoli” oleh orang kaya atau kalangan tertentu yang mumpuni secara finansial semata.

Padahal sedekah bisa dilakukan oleh siapapun termasuk orang yang tak berpunya sekalipun. Sebab sedekah tidak selalu berati pemberian materi. Sedekah juga bisa bermakna pemberian yang bersifat non-materi. Semisal, membantu orang lain, menyingkirkan duri di jalan, berbicara dengan bahasa yang santun dan sopan, dan lain-lain. Pemahaman ini merujuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah berikut.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم – كل سُلامى من الناس صدقة , كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين اثنين صدقة , وتعين الرجل في دابته فتحمله عليها أ, ترفع عليها متاعه صدقة , والكلمة الطيبة صدقة , وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة , وتميط الأذى عن الطريق صدقة ” رواه البخاري ومسلم

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu menuju tempat sholat juga dihitung sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” HR Bukhari dan Muslim.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sedekah di sini adalah sedekah yang dianjurkan, bukan sedekah wajib. Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih al-Bukhari menambahkan bahwa manusia dianjurkan untuk senantiasa menggunakan anggota tubuhnya untuk kebaikan. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Subhahanu wa Ta’ala.

Penulis kitab ‘Umdatul Qari Badruddin al-Ayni berpendapat bahwa segala amal kebaikan yang dilakukan atas dasar keikhlasan, ganjaran pahalanya sama dengan pahala sedekah. Sebab itu, seluruh bagian dari anggota tubuh kita yang digunakan untuk kebaikan, dinilai oleh Allah SWT sebagai sedekah berdasarkan hadis yang disebutkan di atas.

Bahkan dalam kitab Adab al-Mufrad, al-Bukhari meriwayatkan, apabila seorang tidak mampu untuk melakukan perbuatan yang disebutkan di atas, minimal ia menahan dirinya untuk tidak menganggu orang lain. Karena secara tidak langsung, ia sudah memberi (sedekah) kenyamanan dan menjaga kesalamatan orang banyak.

Selama kita mampu melakukan banyak hal, peluang untuk bersedekah masih terbuka luas. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga memanfaatkan anggota tubuh kita untuk orang banyak.

Para ulama mengatakan, amalan-amalan yang disebutkan dalam hadis di atas hanya sekedar contoh, bukan membatasi. Penafsiran hadis ini masih bisa diperluas cakupannya.

Singkatnya, segala bentuk amalan yang dilakukan anggota tubuh kita, akan dinilai sebagai sedekah oleh Allah SWT bila dilakukan dengan penuh keikhlasan termasuk sembahyang Dhuha. Wallahu a’lam.

Loading...