Sandiman, Mantan Gembong Rampok yang Kini Jadi Kyai

Diposting pada

Kisah hidup seorang manusia adalah sebuah misteri ilahi. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada esok hari. Seperti perjalanan hidup dari Sandiman Nur Hadi Widodo, pendiri dan pengasuh pondok pesantren Al-Ghifari yang berada di perkampungan Gontan, Desa Sidorejo Kulonprogo, Yogyakarta.

Laki-laki kelahiran 13 Oktober 1963 tersebut rupanya seorang mantan narapidana. Dari kecil hidupnya sangat jauh dari agama, walaupun sebenarnya dia adalah pemeluk Islam. Ketika menginjak usia 8 tahun, anak ketiga dari lima bersaudara itu sudah gemar main judi. Dunia hitam ia jalani sejak kecil, mulai dari mencuri, mabuk, merampok, berjudi, bahkan juga main perempuan.

Sandiman, Mantan Gembong Rampok yang Kini Jadi Kyai
Sandiman, Mantan Gembong Rampok yang Kini Jadi Kyai

Rumahnya yang berlokasi tak jauh dari sungai Progo ia tinggalkan ketika usianya menginjak 13 tahun. Sandiman muda malang melintang memperdalam ilmu kejawen. Tak sedikit dukun yang ia sowani untuk meminta ilmu kekebalan tubuh.

“Dulu, waktu saya muda, Puluhan dukun saya datangi untuk minta ilmu kekebalan, Alhamdulillah sekarang sudah bersih semua,” katanya dengan wajah menunduk tanda menyesal.

Di tahun 1980 Sandiman merantau ke Jakarta. Karena tak punya pekerjaan, maka mulailah dia mengaplikasikan ilmu htiamnya dengan cara merampok. Uang hasil rampok tersebut dia gunakan untuk bermain perempuan nakal, judi, dan mabuk.

Tiga tahun setelah merantau ia kembali pulang ke Kulonprogo. Di kampung halamannya, dia memperistri Ngadiyem yang masih tetangga desanya. Setelah nikah, bukannya sembuh malah kelakuan Sandiman semakin menjadi-jadi.

“Waktu itu kebutuhan makin besar karena sudah punya anak istri, jadi yang dirampok pun makin besar nilainya,” terangnya.

Sandiman yang menjadi “Gembong” di komplotan perampok sangat terkenal tak pernah gagal dalam menjalankan aksinya. Uang tunai, Emas dan harta benda lainnya pasti selalu diraihnya. Belakangan diketahui, sebelum merampok, dia melakukan ritual khusus, seperti menghitung hari dalam ilmu kejawen.

“Ada pantangan pada hari tertentu. Contohnya jika hari itu ketemu ‘Ciloko’ jika merampok tak boleh ke arah itu. Kalau tetap nekat nanti malah bahaya” tuturnya.

Aksi terakhir yang dilakukan Sandiman bersama komplotan adalah sebuah rumah milik seorang pedagang emas. Hasilnya, Sandiman dkk berhasil merampok perhiasan emas seberat 7 kilogram. Selain itu, sejumlah uang tunai dalam jumlah besar juga berhasil mereka gasak.

Namun, aksinya yang terakhir itu ternyata telah diketahui oleh polisi. Aparat berhasil mengetahui jika pelakunya merupakan kelompok Sandiman Cs. Maka, satu per satu kawanan perampok berhasil digerebek. Mendengar teman-temannya dijebloskan ke sel, Sandiman lari, kabur ke Lampung.

Dia nekat meninggalkan istri dan 2 anaknya yang masih kecil. Namun, Polisi tetap mengejarnya hingga ke Lampung dengan petunjuk dari salah satu orang dekatnya.

“Saya ditangkap di Lampung, namun berhasil lolos. Lalu kabur lagi melarikan diri ke Riau. Disana saya ditangkap kembali karena polisi diberitahu istri” kenangnya.

Selama menjalani masa hukuman di Lapas Wirogunan tahun 1995, Sandiman coba-coba untuk melaksanakan sholat. Namun, jangankan bacaannya, gerakannya saja dia tak bisa karena seumur hidupnya dia belum pernah sekali melaksanakan sholat.

Hal itu tak menjadikannya lantas putus asa. Niatnya untuk berubah menjadi orang shaleh ternyata didukung oleh penduduk lapas lainnya yang kemudian mereka secara khusus mengajarkan sholat dan baca Quran.

“Ya nggak semua yang ada disitu mendukung, banyak juga yang menghina dan mencibir. Saya dibilang pengikut syetan sejati kok sholat,” tuturnya.

Selama berada di hotel prodeo. Sang istri sempat menjadi TKW ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya. Sandiman hanya bisa tawakkal dan memohon ampun pada Allah. Tiap hari Sandiman semakin memperdalam ilmu Islam, bahkan karena sangat rajin belajar, dalam jangka 3 bulan dia sudah fasih baca Alquran.

Amal baiknya mendatangkan berkah baginya, Sandiman memperoleh remisi selama 1 tahun. Sehingga dia cukup menjalani hukuman penjara di lapas selama 3 tahun saja.

Setelah menghirup udara bebas, Dengan niat yang ikhlas, Sandiman mulai berdakwah di kampungnya didukung oleh keluarga dan anak istrinya. Dia dengan pelan-pelan mengajak para tetangganya untuk shalat. Karena warga di kampungnya waktu itu semuanya orang kejawen yang tak pernah sholat semasa hidup mereka, Bahkan, waktu itu masjid pun belum ada di kampungnya.

Hal ini mengetuk hati Sandiman untuk mewakafkan seluruh tanah seluas 1.400 meter persegi warisan orang tuanya guna membangun Masjid Al Ghifari. Di tanah itu juga berdiri sebuah Pondok Pesantren dan Panti Asuhan.

Kemudian di tahun 1999, Sandiman membangun pondok pesantren yang sebagian dikhususkan untuk anak yatim piatu yang tidak mampu. Pada tahun 2000, pondok pesantren dan panti asuhan itu diresmikan.

Kini, Di Pondok Pesantren Al-Ghifari ada sekitar 40 santri tetap dan 48 santri pulang-pergi. Ada enam ustadz yang tinggal menetap di pondok tersebut. Seluruh santri tidak dipungut biaya. Biaya sekolah para santri menjadi tanggungan Sandiman.

“Alhamdulillah, Sekarang ini hidup saya lebih bahagia dan tentram. Alhamdulillah.. Allah telah turunkan hidayahNya waktu saya di penjara,” pungkasnya.

___________

Perjalanan hidup seorang anak manusia ketika telah dilahirkan ke dunia selalu menjadi misteri. Manusia tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Begitulah perjalanan kisah hidup manusia di dunia ini.

Ada yang ngaku kyai namun sejatinya penjahat, ada pula mantan penjahat yang akhirnya jadi kyai sejati.

Semua itu adalah sunnatullah yang sudah menjadi ketetapanNya.. Allah berhak untuk memberikan petunjuk pada siapa saja yang dikehendakiNya.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya..” (QS Al-Kahfi : 17)

Sebaliknya, Allah juga berhak untuk “menyesatkan” siapa saja yang dikehendakiNya. tentunya karena perbuatan manusia yang dzalim terhadap dirinya sendiri.

Karena Allah Maha Bijaksana, Allah Maha Adil terhadap semua ciptaanNya.

Iblis dan sekutunya tidaklah mampu menyesatkan manusia, Jika mereka mampu melakukan itu, niscaya seluruh penduduk bumi akan menjadi sesat dan kufur. Sejatinya.. Manusia sendiri yang membuat dirinya sesat karena tidak mau mengikuti jalan kebenaran yang sudah disampaikan oleh para Nabi dan utusanNya.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang selalu dilimpahi Hidayah, Inayah dan MaghfirahNya.. Diberi kekuatan Iman dalam keadaan apapun dan diberikan rejeki mati Khusnul Khotimah.. Amiin Allahumma Amiin ..

Sumber: Brilio.Net

Loading...