Terima Kasih, Menantuku..

Diposting pada
Seorang pemuda yang akan menikah hendak meminta izin kepada ibunya, sembari berkata “Bunda, maukah kamu meridhoiku menikah dengan gadis impianku?”
Dengan senyuman yang lembut dari wajah penuh keriput sang ibu, ia hanya menjawab “Anakku, berdosalah orang tua yang melarang anaknya untuk membangun sebuah keluarga karena ada firman Allah yang mengatakan:
“Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)”

Terima Kasih, Menantuku..
Kemudian Ibu itu melanjutkan, “Namun anakku, alangkah bahagianya aku bila kamu mendapatkan istri yang solehah, dapat merubahmu menjadi orang yang lebih mengenal Allah, karena aku rasa aku belum cukup membimbingmu saat ini untuk lebih taat kepada Allah dan apabila ada seorang Ibu yang tidak menyukai menantunya entah dengan alasan yang jelas atau tidak, bila menantu itu begitu mencintai Allah dan memiliki sifat yang dicintai Allah dan Rasullnya percayalah bahwa sekeras apapun Ibu itu kelak ia akan tersadar sendirinya dengan sikap menantunya. Tapi bagiku asalkan kamu bahagia, itu sudah cukup”
Pemuda itu tersenyum dan menjawab “aku yakinkan pilihanku kepadanya karena aku yakin akan agamanya.”
Ibu itu pun ikut tersenyum dan mengatakan “jika memang begitu, aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan kalian berdua, serta mempercayakan kepadamu dan kepadanya biar sisanya Allah yang menentukan takdir kalian.”
Setelah selang beberapa waktu, mereka akhirnya menikah dan melakukan bulan madu keluar kota. Tak lama setelah pulang berbulan madu ibu tersenyum kepada istri anaknya.
Dia berkata, “Engkau telah membuat putraku rajin shalat ke masjid. Engkau berhasil dalam waktu 30 hari saja, padahal aku telah berusaha menasihatinya selama 30 tahun!”
Menantu itupun mengalirkan air mata…
Menantu itu berkata, “Apakah anda telah mengetahui wahai ibuku, kisah tentang batu dan harta?
Dikisahkan bahwasanya ada sebuah batu besar yang menghalangi jalannya manusia. Maka seorang laki-laki dengan sukarela berusaha memecahkan batu itu dan menyingkirkannya. Dia memukul batu itu dengan kapak hingga 99 kali, tapi batu itu tidak bergeming. Dia sangat kelelahan…
Ketika itu datanglah seorang laki-laki dan menawarkan bantuan… Dia memukul batu besar itu dengan kapak dengan sekali pukulan, tiba-tiba batu itu pun pecah!
Ternyata di bawah batu itu terdapat sekantung emas.
Berkatalah laki-laki kedua ini, “Emas ini adalah milikku, karena akulah yang telah memecahkan batu ini!”
Keduanya pun mencari keadilan kepada hakim.
Orang yang bertama berkata, “Hendaknya sebagian harta itu diberikan kepadaku, karena aku telah memukul batu itu sebanyak 99 pukulan, kemudian aku sampai kelelahan!”
Laki-laki kedua berkata, “Tidak, harta itu adalah milikku seluruhnya, karena akulah yang memecahkan batu itu!”
Hakim itu berkata, “Engkau wahai laki-laki yang pertama, engkau mendapatkan 99 bagian dari harta ini, adapun engkau laki-laki yang memecahkan batu, bagimu satu bagian saja, seandainya laki-laki pertama ini tidak memukulnya sampai 99 kali maka batu itu tidak akan pecah pada pukulan ke 100!”
Sang ibu pun menangis, dan memeluk menantunya sembari berucap, “Maha suci Allah dengan segala karunianNya, Dia telah menurunkan bidadari surgaNya untuk merawat dan mengingatkan anak-ku dengan kerendahan hati dan sikapnya. Semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada kalian berdua”
Di dalam kisah ini terdapat hikmah yang agung.
1. Seorang ibu yang telah berusaha menasihati putranya untuk shalat selama 30 tahun tanpa putus asa, kemudian dia merasa gembira dengan anaknya yang shalat karena pengaruh dari istrinya, meskipun anaknya itu tidak memedulikan nasihat ibunya selama 30 tahun!
2. Menantu yang agung akhlaqnya! Dia tidak menyematkan keutamaan kepada dirinya, bahkan dia menjadikan keutamaan itu sepenuhnya milik ibu tersebut, karena ibu itu telah meletakkan asas kepada anaknya, satu demi satu… hingga tersisa satu bagian terakhir, yang disempurnakan oleh dirinya…
Loading...