Belajar Ilmu Hikmah Dari Ibu Para Nabi

Diposting pada

KabarMakkah.Com – Jika bapak dari para Nabi adalah Nabi Ibrahim alaihissalaam maka Sayyidah Sarah adalah Ibu dari para Nabi. Karena setelah Nabi Ibrahim hanya Nabi Ismail dan Muhammad SAW saja yang lahir dari rahim Sarah, semua Nabi mulai dari Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa hingga Nabi Isa adalah nabi-nabi dari Bani Israil yang notabene berasal dari satu rahim, yaitu rahim dari istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah.

Wanita Sholihah
Ilustrasi Wanita Sholihah

Beberapa ahli sejarah, mengutip perkataan dari Nabi Ibrahim, sejak Siti Hawa diciptakan hingga sampai zaman itu, tak ada wanita yang lebih cantik dari Siti Sarah, kecantikan itu bukan hanya cantik dari segi lahiriah saja, namun juga sifat “shalihah” yang tampak pada diri Sarah. Sehingga akhirnya, Nabi Ibrahim pun menikahinya dan mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah.

Adalah Siti Sarah, perempuan yang pernah berbicara dengan para malaikat secara langsung dan para malaikat berbicara dengannya dan memberikan kabar gembira yang membuatnya tertawa bahagia, karena Allah SWT telah memberikan anugerah nikmat yang bisa ia lihat dengan kasat mata dan tetap berkah sepeninggalnya kemudian.

Baca Juga: Menguak Rahasia Terkabulnya Doa Bapak Para Nabi

Ada banyak pelajaran ilmu hikmah dari Sarah yang diwariskan kepada kita dan generasi mendatang, pelajaran berharga yang tak akan lekang dimakan usia dan akan selalu ada hikmah yang bisa kita petik pada setiap zaman. Berikut adalah beberapa catatan pelajaran dari Ibunda Sarah yang bisa kita petik.

Pertama, Tidak Silau Dengan Kehidupan Dunia

Bunda Sarah mengajarkan kepada kita semua, bahwa untuk menjalani hidup bahagia tidak harus hidup dengan bergelimangkan kekayaan dunia. Bahagia bisa saja diraih dengan hal-hal yang sederhana namun tetap dalam hidayah dan maghfirah Allah SWT.

Karena kecantikannya yang sangat luar biasa, tawaran untuk menjadi istri Raja pun pernah datang padanya. Suatu ketika Sarah dengan suaminya, Nabi Ibrahim pergi ke Mesir. Saat itu Mesir dipimpin oleh seorang raja dzalim yang suka berfoya-foya dan menindas rakyatnya. Raja itu bernama ‘Amr bin Amru’ Al-Qais bin Maylun.

Melihat Sarah yang begitu cantik, Sang raja berniat menjadikannya sebagai permaisuri. Namun keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam jiwanya menyebabkan beliau menolak pinangan raja dan tetap ingin menjadi istri Ibrahim, sewaktu takut dengan paksaan dari sang raja dzalim, Sarah berdoa;

“Ya Allah. Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu serta aku selalu memelihara kehormatanku. Jangan Engkau biarkan orang itu merusak kesucianku!”

Raja itu akhirnya gagal mempersuntingnya, walau sudah tiga kali berusaha, meski diiringi dengan paksaan dan janji-janji yang sangat memikat!

Kedua, Setia Mengikuti Dakwah Suami

Kesetiaan Bunda Sarah pada Sang Suami, Nabi Ibrahim layak diacungi jempol, beliau selalu setia mendampingi kemanapun suami berdakwah. Ketika Ibrahim dimusuhi Raja Namrud, Sarah selalu setia berada di sisi sang suami, bahkan ketika Ibrahim diusir dari negerinya, hanya Sarah yang mengikuti perjalanannya. Sewaktu ada tawaran menjadi istri dari Raja Mesir, Sarah pun tak bergeming, walaupun tahu dengan resiko yang bakal dihadapinya.

Ketiga, Sabar Menyandang Status Mandul

Tidak mendapatkan keturunan ketika sudah menyandang status sebagai istri tidak hanya mencabik-cabik perasaan tapi juga menekan mental yang sangat luar biasa pada seorang perempuan, begitupun yang terjadi dengan Sarah.

Namun, sabar dan do’a tidak pernah henti dilakukan oleh Sarah, sehingga akhirnya kabar gembira yang dinanti-nantikan itu akhirnya datang juga. Istimewanya, kabar gembira itu langsung disampaikan oleh Malaikat, sebagai utusan Allah SWT datang secara langsung pada dirinya.

Suatu hari, para malaikat yang menyamar sebagai tiga orang anak muda tampan bertamu ke rumah mereka, betapa bahagianya mereka karena kedatangan tamu tersebut, senyuman tulus menyambut dan hidangan terbaik pun disediakan.

Namun karena yang datang bukanlah sembarang makhluq, makanan itupun akhirnya tidak bisa dinikmati oleh tamunya, setelah selesai basa-basi tamu tersebut menyampaikan berita “Kami para malaikat yg berjalan melewatimu” dan mereka menjelaskan kepada Nabi Ibrahim bahwa mereka diutus untuk pergi kepada kaum Nabi Luth yangg berdosa, dan mereka menenangkan Ibrahim serta memberi kabar gembira kepada beliau.

Allah SWT berfirman

“Mereka berkata “Janganlah kamu takut” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya degan (kelahiran) anak yg alim (Ishaq)” (QS. Adz-Dzaariyat:28).

Ketika Sarah mendengar kabar gembira dari para malaikat itu, Sarah pun kaget dan nyaris berteriak seraya berkata dengan nada heran

“Aku seorang wanita tua yang mandul?”

“Apakah aku akan hamil, melahirkan dan menyusui?”

“Padahal umurku lebih dari 90 tahun dan aku sejak usia remaja mandul tidak bisa melahirkan?”

Sarah bertanya-tanya lagi dengan berkata “Sungguh aneh, apakah aku akan melahirkan, padahal aku sudah tua? Suamiku juga sudah tua? Ah, ini sesuatu yang aneh”

Namun, Para Malaikat itu berkata “Ini bukan doa dari kami, namun hal ini adalah firman Allah SWT, dan para malaikat tersebut segera menghapus kesan kemustahilan dari Sarah dengan menjawab,

“Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”

Baca Juga: Begini Cara Nabi Ibrahim Menjamu Para Tamunya

Sarah kemudian melahirkan ketika berumur 99 tahun, sedangkan Ibrahim waktu itu berumur 100 tahun, artinya mereka sangat sabar dan tidak kenal lelah dalam berdoa selama lebih dari 60 tahun menanti-nanti keturunan, Subhanallah.. sebuah kesabaran yang sangat luar biasa.

Keempat, Hidup Di Poligami

Ciinta suci Sarah pada Ibrahim tidaklah bertepuk sebelah tangan. Sewaktu Sarah dirundung duka karena belum bisa memberikan keturunan, Ibrahim dengan sabar dan ikhlas tetap mendampingi Sarah, tanpa pernah berpikir untuk poligami apalagi mencari pengganti Sarah.

Namun cinta Sarah bukanlah cinta buta yang menolak munculnya orang ketiga, Sarah selalu berpikir bagaimana caranya meminta Ibrahim untuk menikah lagi agar suaminya bisa mempunyai keturunan. Dalam doa dan munajatnya, Sarah teringat kepada Hajar. Ya, Hajar, seorang perempuan hadiah dari Penguasa Mesir, Hajar yang selama ini hidup bersama keduanya, Sarah selalu memantaunya, Hajar juga selalu menjaga kesucian baik hati maupun jiwanya.

Sarah berkata kepada suaminya “Wahai suamiku, Hai kekasih Allah, inilah Hajar, kuberikan padamu untuk dinikahi, semoga Allah SWT menganugerahkan kita keturunan darinya”

Subhanallah, sungguh kesabaran dan kesucian hati yang benar-benar tulus, yang dilandasi dengan ketaqwaan, sehingga tidak ada sedikitpun rasa kebencian dan kecemburuan di hati Sarah pada Suaminya, Ibrahim dan madunya, Hajar. Semua itu Bunda Sarah lakukan demi meraih keridhoan Allah dan suaminya semata.

Berkat berbagai hikmah yang diberikan Bunda Sarah pada kita, Allah SWT telah mengangkat Martabatnya sebagai ibu yang melahirkan para Nabi dan sempat melihat anak dan cucunya menjadi Nabi dan utusan Allah SWT.

Loading...