Sudahkah Kita Bersyukur Saat Bangun Tidur?

Sudahkah Kita Bersyukur Saat Bangun Tidur?

Sudahkah Kita Bersyukur Saat Bangun Tidur?


Sebelum tidur, kita merencanakan apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi hari esok. Kita berpikir besok kerja mau pakai baju apa, sarapan dengan menu apa, siapa saja yang hendak kita temui. Sementara kita tidur, tubuh kita beristirahat untuk mengisi ulang energi dan pikiran kita menjadi tenang.

Semua aktivitas sebelum dan saat tidur tersebut berangkat dari keyakinan bahwa esok hari kita bisa bangun tidur, bernafas, tubuh dalam keadaan normal dan sehat lalu beraktivitas seperti biasanya. Kita yakin bisa bangun tidur karena ada alarm yang akan mengingatkan kita, ada kokok ayam yang membangunkan kita, ada keluarga terjaga di samping kita.

Tapi, bagaimana bila keyakinan kita itu sirna?

Bagaimana bila apa yang kita rencanakan dan kita harapkan di esok hari itu tidak pernah menemui kenyataan?

Bagaimana bila saat bangun tidur kita menemui kenyataan seperti ini:


  • Saat bangun tidur, kita dalam keadaan gila atau lupa ingatan.
  • Saat bangun tidur, kita dalam keadaan tuli, bisu, buta atau mati rasa di beberapa anggota tubuh.
  • Saat bangun tidur, kondisi lingkungan kita sudah berubah sama sekali.
  • Yang lebih menakutkan lagi, bagaimana bila tidur kita kebablasan tidak bisa bangun sama sekali, alias nyawa kita sudah diambil oleh-Nya?


Tidur adalah Kematian Sementara


Jangan berpikir kita tidak akan mengalami kejadian-kejadian seperti itu. Karena hidup dan mati kita sudah diatur oleh-Nya. Dan tidur, adalah kematian sementara.

Banyak orang yang mengira dia bisa bangun berkat bantuan alarm. Sebelum tidur, jam alarm disetel di waktu yang ia kehendaki. Saat terbangun, ia pun menganggap bangun tidurnya karena mendengar suara alarm. Begitu pula, banyak orang yang mengira ia bisa bangun tidur karena dibangunkan keluarganya.

Padahal, tanpa kehendak-Nya, semua cara untuk membangunkan kita tidak ada gunanya. Hanya karena kehendak Allah, kita bisa mendengar bunyi jam alarm. Hanya atas ijin-Nya, kita bisa merasakan sentuhan tangan dari keluarga yang membangunkan kita. Karena Rahmat-Nya, jiwa kita dikembalikan ke tubuh yang fana.

Sudahkah kita berdoa dan berterima kasih pada Allah, bahwa kita bisa bangun tidur tanpa kekurangan suatu apa pun?

Sudahkah kita bersyukur atas segala nikmat yang kita peroleh selepas bangun tidur?

1. Nikmat masih bisa bangun. Kita bersyukur karena kita tidak koma atau malah kebablasan tidak bisa bangun sama sekali.

2. Nikmat panca indera masih bisa berfungsi. Kita bersyukur masih bisa bangun dalam keadaan panca indera berfungsi sempurna.

3. Nikmat otak dan pikiran masih normal. Kita bersyukur masih bisa bangun tidak dalam keadaan gila atau lupa ingatan.

4. Nikmat kondisi lingkungan yang sama. Kita bersyukur masih bisa bangun di lingkungan tempat kita tidur, bukan di tengah hutan atau di tengah jalan raya.

5. Nikmat iman. Inilah nikmat yang paling besar yang harus kita syukuri. Kita bangun tidur dalam keadaan iman masih kuat, masih mampu mengingat bahwa kita hanya sekedar seorang hamba, tidak lebih dari itu.

Maka, dengan sejuta nikmat tersebut, tak ada alasan bagi kita untuk berkeluh kesah menyambut aktivitas hari ini. Sepatutnya kita yang harus bersyukur karena nikmat-nikmat tersebut.

Gunakan setiap kenikmatan yang sudah diberikan Allah saat kita bangun tidur itu dalam ketaatan. Karena jika kita tidak berusaha menggunakan nikmat dalam ketaatan, luputlah berbagai kebaikan dalam diri kita.

Bangun Tidur Wajib Bersyukur


Setiap bangun tidur wajib bagi setiap mukmin bersyukur kepada Allah SWT dengan berdoa "Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah menghidupkan kami setelah mematikan (menidurkan) semalam kepada Allah akan bangkit".

Namun tidak senua orang yang terbangun dari tidurnya bersyukur dan berdoa. Sebagian dari mereka, bahkan kita sudah dipusingkan dengan pekerjaan. Pikirannya macam-macam, ada yang mikir kerjaan numpuk di kantor, harga barang dipasar, kurs dollar, mikir pasangan hidupbya dan juga mikir utang dan kreditan. Kadang lupa terhadap Allah SWT yang telah memberikan jutaan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Bangun tidur yang dipikirkan bukan kewajiban kita kepada Allah SWT melainkan urusan dunia, Naudzubillah min dzalik.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya bersabda

"Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah SWT dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam dirinya: kebingungan yang tiada putusnya, kesibukan yang tidak ada ujungnya, kebutuhan yang tidak terpenuhi dan keinginan yang tidak tercapai”. (HR. Ath Thabrani).

Maka marilah kita mulai aktifitas pagi dengan mengucapkan Alhamdulillah atas segala karunia Allah SWT yang tak terhingga.

Selanjutnya merasa bersyukur kepada-Nya atas nikmat iman dan islam. Yang mana Allah SWT masih memberi kesehatan dan kesempatan untuk bernafas menikmati indahnya dunia.

Ketika manusia pandai bersyukur niscaya nikmat Allah SWT akan terus bertambah dan bertambah.

Sungguh beruntung sekali orang yang bangun dipagi hari, usai memuji Allah SWT kemudian mengambil air wudhu. Dilanjutkan dengan melaksanakan sholat sunnah.

Rasulullah SAW bersabda "Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." (HR. Muslim )

Makna hadis itu begitu mendalam, dimana seseorang akan merasa dekat dengan-Nya dan begitu damai dalam dekapan-Nya. Sholat itu membuat semua menjadi indah.

Jangan biarkan pagi terlewatkan begitu saja, Maka hiasilah rumah kita dengan balutan ayat-ayat suci Al-Quran, tasbih dan asmaul khusna.

Basahi bibir merah kita dengan dzikir dan sholawat dan salam atas Rasulullah SAW Agar rumah kita makin indah nan berkah. Keluarga juga sakinah, anak-anak menjadi sholih dan sholihah.

Tidak lupa ketika matahari mulai terbit dilanjutkan dengan sholat dhuha, 4 rakaat atau hingga 6 rakaat. Itulah pesan baginda Rasulullah SAW.

Begitulah nikmat dan mulianya menjadi umat Rasulullah SAW. Mulia di dunia dan kelak memperoleh syafaatnya. Aamiin.
Next article Next Post
Previous article Previous Post