Berilah Sebelum Diminta

Berilah Sebelum Diminta

author photo
Dalam Kitab Sifatush Shafwah diceritakan, Saat keponakan Abu Bakar Muhammad bin Sauqah meminta sesuatu kepadanya, dia menangis.

Keponakannya pun berkata, “Paman, seandainya permintaanku menyebabkan engkau begini, pasti aku tidak akan meminta kepadamu.”

Berilah Sebelum Diminta


Ia menjawab, “Aku tidak menangis karena kamu meminta kepadaku, tetapi aku menangis karena tidak memberimu lebih dahulu sebelum kamu meminta.”

Ibnu Sauqah mengajarkan kepada kita jangan menunggu diminta baru berderma karena ksatria pantang baginya untuk meminta-minta.

Kitalah yang semestinya lebih peka terhadap sesama. Menangislah jika sampai ada saudara yang memberanikan diri meminta karena berarti kita telah lalai memahami kondisinya.

Mungkin selama ini kita abai ketika langkah saudara kita mulai tertatih walaupun di wajahnya masih terhias senyum yang indah.

Kita tak peka saat saudara bolak-balik datang ke rumah dengan suara serak tertahan karena tak punya persediaan beras di rumah sementara untuk meminta ia menjaga kehormatannya.

Kita tak peduli saat jam makan siang ada rekan kita memilih tiduran di lantai pabrik karena tak punya bekal untuk disantap. Kitalah yang seharusnya membuka ruang untuk mengerti.

Karena sesungguhnya empati adalah nikmat. Siapa yang kehilangan empati kepada orang lain, maka ia telah kehilangan sebagian imannya. Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Permisalan orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menaruh simpati di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit maka seluruh tubuh saling merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.”

Seorang mukmin yang shalih tampak dari kilatan cahaya kedermawanan yang memancar dari matanya.

Dari lisannya senantiasa keluar kata-kata yang baik dan senyum indah. Dari perbuatannya tercium energi positif yang membaut orang lain merasa bahagia. Ketiadaan mereka membangkitkan orang-orang yang lalai. Kematian mereka menumbuhkan kilat kebaikan dari orang-orang yang tidak pernah berbuat kebaikan.

Peduli kepada sesama dan menolong mereka bisa dengan apa saja. Dengan harta, tahta, tenaga, ataupun doa. Pertolongan yang diberikan akan sama dengan kadar imannya. Semakin lemah iman seseorang akan semakin lemah pertolongannya. Semakin kuat keimanan akan semakin kuat pertolongan.

Rasulullah adalah orang yang paling besar pertolongannya kepada para sahabatnya. Bagi kita yang mengaku sebagai umatnya akan memberikan pertolongan kepada orang lain sesuai kadar ittiba’nya kepada beliau.

Maka tolonglah orang mukmin dengan cara apa saja yang kita bisa. Selama dalam diri kita masih ada sisa-sisa kehidupan dan dalam hati kita masih ada sisa-sisa keimanan. Ringan bagi kita bisa memberi arti besar bagi sesama.

Next article Next Post
Previous article Previous Post