Belajar dari Kehidupan Pembantu Rumah Tangga

Belajar dari Kehidupan Pembantu Rumah Tangga

author photo
Belajar dari Kehidupan Pembantu Rumah Tangga - Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Belajar dari Kehidupan Pembantu Rumah Tangga


Tiba-tiba saja, nama saya dipanggil oleh kru penerbangan Garuda untuk duduk di pesawat kelas bisnis, padahal tiket saya kelas ekonomi. Saya tentu sangat senang sekalipun saya tidak mengerti mengapa ada pemindahan itu.

Di pesawat dari Hongkong menuju Jakarta itu, saya duduk bersebelahan dengan gadis 27 tahun asal Bojonegoro Jawa Timur. Ia sangat cekatan membuka lipatan meja dan menggunakan video yang tersedia.

Bahkan saya melirik kelincahannya mengiris roti dan memasukkan mentega serta memakan semua hidangan yang disuguhkan. Saya melihatnya dengan keheranan, karena dari segi penampilan fisik, ia paling beda di antara semua penumpang kelas bisnis.

Kelincahan menikmati semua fasilitas di kelas itu, menunjukkan ia sangat sering terbang di kelas bisnis. Jauh lebih sering daripada saya sendiri.

“Saya pembantu rumah tangga dan sering diajak bos ke Cina, Australia, dan Amerika dan beberapa kali dibelikan tiket kelas bisnis” katanya.

Ia lalu bercerita mengapa ia dimanjakan oleh majikan. Pertama, ketika menjadi PRT untuk bos dari Filipina, setiap malam hari, ia mencatat kosakata dan percakapan dalam bahasa Inggris antara bapak dan anak.

Esok harinya, bahasa Inggris itu dipraktekkan sedikit demi sedikit. Akhirnya setelah tiga tahun mengikuti bos itu, ia telah mahir berbahasa Inggris.

Karena kepandaiannya dalam berbahasa Inggris, ia lalu ditawari menjadi PRT di bos tekstil dari India. Ia sangat senang karena dibayar mahal yaitu 1,8 juta per bulan.

Bayaran sebesar ini amat murah dibanding dengan PRT di Hong Kong 3.8 juta rupiah atau Taiwan sebesar 4 juta rupiah. Tapi untuk di Indonesia, gaji 1,8 juta sudah sangat mahal.

Sebagaimana ia selalu belajar dan praktek berbahasa Inggris dari bosnya di Filipina, maka ia juga selalu belajar memasak di rumah bosnya di India.

Setiap hari ia mengamati juru masak memasak makanan khas India, bahkan banyak bertanya, dan malam harinya, ia mencatatnya secara detail resep masakan itu. Suatu saat, ia mencoba membuat masakan untuk sang bos, dan ternyata ia mendapat pujian, “Masakanmu jauh lebih enak dari chef saya”.

Ketika saya tanya bagaimana pelaksanaan shalat lima waktu, dengan tegas ia mengatakan, “Sebelum menerima pekerjaan, saya selalu meminta jaminan bisa menjalankan shalat. Jika tidak ada jaminan, maka pasti saya tolak”.

Menurutnya, meminta izin melakukan shalat ketika sudah menjadi PRT, akan lebih susah daripada memintanya sebelum mulai bekerja. Ia optimis bahwa suatu saat ia menjadi juru masak terbaik dunia, dan saat itulah ia bisa membahagiakan orang tuanya lebih dari yang sekarang.

Apa yang harus kita ikuti dari jejak gadis ini?

Pertama, seberat apapun mencari rejeki, tidak boleh mengorbankan keimanan dan ibadah. Lebih baik bekerja dengan penghasilan sedikit namun berkah daripada berpenghasilan banyak namun kehilangan berkah karena iman dan ibadah dikorbannkan.

Kedua, semua jenis pekerjaan harus jelas dan tegas segala sesuatunya: apa saja imbalan yang diperoleh, apa saja yang harus dan dilarang dalam kaitan dengan pekerjaan itu.

Ketiga, nikmatilah pekerjaan apapun yang ada sekarang, namun jadikan pekerjaan itu sebagai “universitas” untuk mendapat ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Allah menyuruh hamba-Nya untuk berlajar dan praktek (learning and doing). Semua sumber ilmu dan pengalaman adalah “universitas” yang sejati.

Yakinlah bahwa keimanan dan pengetahuan membuka lebih banyak pintu kesuksesan dunia dan akhirat. Dalam mencari ilmu, jangan hanya mengerti tentang sesuatu, tapi catatlah. Jangan hanya mencatat, tapi cobalah lakukan sekecil apapun, agar tidak hanya menjadi bisul dalam dunia ide. Allah selalu menjamin adanya perbedaan nasib orang yang mau belajar dan tidak.

“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?" Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9).

Wallahu a'lam bisshawab, ..
Next article Next Post
Previous article Previous Post