Hikmah Kasus First Travel: Urusan Ibadah Jangan Tergiur Promo Dan Diskon



Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

Hikmah Kasus First Travel: Urusan Ibadah Jangan Tergiur Promo Dan Diskon


Kasus First Travel yang mencuat saat ini jangan sampai malah menjadikan kita sebagai orang-orang nyinyir saja, apalagi jika kita bukan merupakan korban tapi malah asyik menyalah-nyalahkan korban karena tidak berhati-hati memilih travel, atau asyik menggosipkan owner travel yang diduga telah melakukan penipuan. Harus ada pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil dari kasus terlantarnya puluhan ribu jamaah umroh ini.

Barangkali 3 hikmah berikut ini bisa menjadi bahan introspeksi bersama:

1. Jangan tergiur embel-embel promo dan diskon, terutama untuk urusan ibadah

Memang, sudah menjadi kodratnya jika manusia lebih memilih sesuatu yang harganya lebih murah dibandingkan penawaran lainnya, akan tetapi kita perlu berhitung dengan logika... agar tidak terjebak pada penipuan yang pada akhirnya justru merugikan diri sendiri.

Terutama untuk berhaji dan umroh, ketika mengambil harga promo kita bisa terlebih dulu menghitung biaya akomodasi, penginapan, makan, dan fasilitas lain-lainnya yang dijanjikan, apakah harga tersebut masuk akal atau justru sudah terlihat keganjilan dari perhitungan di atas kertas yang telah kita lakukan.

Jika sedari awal sudah terlihat gelagat mencurigakan, baik dari harga yang ditawarkan, fasilitas yang dijanjikan, dan lain-lainnya, maka berfikirlah secara rasional.


2. Jauhilah hidup bermegah-megahan

Banyak berita yang memuat tentang kehidupan glamor yang dijalani pasutri pemilik First Travel. Koleksi tas yang masing-masingnya seharga dua ratusan juta Rupiah, Gorden rumahnya yang berharga 720 juta, pakaian-pakaian mewah dan mahal, seharusnya kemewahan ini tidak membuat kita iri atau berdecak kagum, melainkan 'takut'.

Semestinya, orang yang beriman takut dengan gaya hidup bermegah-megahan, karena bukankah setiap harta benda yang kita miliki akan dipertanyakan dari mana asalnya dan untuk apa dipergunakannya?

Lagipula kecenderungan gaya hidup mewah adalah melalaikan, punya harta banyak boleh kok... tapi bergaya hidup mewah jangan!

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu... kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takatsur: 1 dan 8)

3. Istidraj tanda Allah tak peduli, Teguran tanda Allah Cinta

Ketika seseorang dibiarkan oleh Allah dalam kelalaian dan kesesatannya, atau ditangguhkan pembalasan kejahatannya... maka itulah pertanda Allah sudah tak lagi peduli pada seorang hamba.

Namun, ketika seseorang melakukan kesalahan lalu langsung mendapat teguran, langsung ketahuan, maka sesungguhnya ada potensi orang tersebut merupakan hamba yang dicintai Allah dan tak diizinkanNya untuk tersesat lebih jauh.

Baca Juga:




Jika kita mau menggunakan kacamata dari segi ini, semestinya kita tak lagi asyik mencaci orang lain, bisa jadi teguran dari Allah ini adalah bukti cinta Allah pada mereka agar mereka bertanggungjawab dan kembali pada jalan yang benar.

Wallahu A'lam.


loading...