Ibu Mertua Suka Bicara Nyelekit? Begini Cara Menghadapinya



Para pembaca Kabarmakkah.com yang dirahmati Allah, satu hal yang pasti akan dihadapi ketika sudah menikah nanti adalah berinteraksi dengan ibu mertua. Mau tidak mau, Berkomunikasi dengan Ibu mertua tentu menjadi sebuah keharusan, kecuali jika suami kita sudah tidak punya ibu.

Ibu Mertua Suka Bicara Nyelekit? Begini Cara Menghadapinya


Tak jarang, Dalam interaksi antara ibu mertua dengan menantu perempuannya ini ada 'ketegangan'. Bahkan bisa terbawa hingga hubungan suami istri menjadi retak. Na'udzubillah.

Tak bisa dipungkiri, Percakapan bernada 'intimidasi' kerap kita jumpai antara ibu mertua dan menantu perempuannya. Percakapan yang intinya si ibu mertua tak rela menantu perempuannya bahagia, lebih baik, atau dicintai 100 persen oleh anaknya. Padahal semisal si anak bercerai, justru ibu mertualah yang paling menanggung malu dan sedih kecewa.

"Kalau di zaman kamu sih enak, zaman Ibu dulu ...," Kata ibu mertua ketika membandingkan dirinya dengan menantu perempuannya.

Seakan-akan sang Ibu mertua tidak ikhlas menantunya lahir di zaman yang sudah enak. Padahal, itu semua sudah takdir Allah dan zaman sudah berganti.

"Si Fulan dulu kan mau diambil mantunya pejabat itu, tapi mau gimana wong dia sendiri udah punya calon," entah apa motivasi mertua bercerita seperti ini.

Bisa jadi hanya sekedar ingin menunjukkan betapa larisnya si anak atau entah alasan lainnya. Namun yang pasti berbicara seperti itu tidak etis dan tidak mencerminkan sebagai sosok ibu mertua yang bijak.
 
Nah, Jika kita berada dalam posisi 'teraniaya' tersebut, apa yang semestinya kita lakukan?

1. Sabar, jangan pernah membalas

Ingatlah dan selalu ingat, Bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Ingat juga, bahwa segala perbuatan baik atau buruk pasti akan mendapat balasannya.

Biasanya, orang yang suka bicara nyelekit atau menyakitkan membabi buta atau bicara nusuk menghina, setelahnya akan menyesal. Meskipun penyesalan setelah kejadian tersebut tidak akan berguna karena tidak akan pernah bisa mengubah yang telah terjadi.

Nah, jika disuruh memilih: menyesal setelah berkata kasar atau diam dulu jika dirasa masih emosi? mana yang akan anda pilih? Opsi yang pertama jelas berbuntut tidak menyenangkan.

Hal tersebut juga berlaku ketika berinteraksi dengan siapa saja, lebih-lebih terhadap ibu mertua yang notabene sosok terpenting dalam kehidupan suami kita sebelum menikah. Jadi biarkanlah ibu mertua bicara semaunya dan apa saja mumpung masih bisa. Kita tinggal duduk manis mendengarkan tanpa perlu ambil pusing atau memasukkannya ke dalam hati. Serahkan semua masalah itu pada Allah.


2. Jangan terlalu sering berinteraksi dengan ibu mertua, apalagi tinggal serumah dalam jangka waktu lama

Yang harus dilakukan selanjutnya adalah dengan tidak terlalu sering berinteraksi alias mandiri.

Lebih-lebih, jika sudah menikah ya memang harus mandiri, bukan?

Hormati dan berbaktilah sepenuh hati pada ibu mertua, muliakanlah, namun di sisi lain kita juga mesti mandiri dan punya kehidupan sendiri.

Jangan berekspektasi terlalu tinggi misal mengharap sikap ibu mertua sebijak di buku-buku parenting atau dalam tayangan sinetron, jangan, karena terlalu banyak berharap bisa membuat kecewa. Jika sedari awal ibu mertua memang sudah hobi berkata nyelekit, ya sudah berarti itu memang sudah karakternya. Tidak usah bermimpi untuk bisa mengubah. Kitalah yang harus mengalah dan waras, dalam artian bersikap sopan dan baik serta hormat dengan tanpa meninggalkan sisi kemandirian kita.

 
3. Dorong suami kita untuk menyayangi atau memperhatikan ibu mertua kita yang notabene adalah ibunya

Bisa jadi sikap dan ucapan ibu mertua yang nyelekit seperti itu karena luapan emosi dulu tidak diperlakukan seperti itu oleh suaminya yang notabene bapak mertua kita. Sehingga timbullah perasaan cemburu namun tidak mau mengaku.

Jika memang seperti itu maka belajarlah untuk bersikap bijak. Jangan berharap muluk dan hidup seperti di negeri dongeng atau terlalu idealis semisal dengan memiliki opini, "Seharusnya, orang yang sudah tua itu bijak karena pengalamannya sudah banyak,"

Hentikan idealisme seperti itu, daripada nanti kita menjadi gila sendiri

Kitalah yang seharusnya sadar bahwa biar gimana-gimana ibu mertua juga seorang wanita. Barangkali di masa lalunya ada sesuatu yang belum tuntas yang terbawa hingga sekarang.

Sehingga saat melihat kita begitu disayangi suami yang notabene adalah anaknya, sang ibu mertua merasa cemburu dan ingin juga diperlakukan seperti itu.

Oleh karenanya, doronglah suami kita untuk perhatian atau lebih perhatian pada ibu mertua kita yang notabene adalah ibu kandungnya. Jangan malah jadi kompor bagi suami untuk membenci ibu kandungnya sendiri.


4. Sadari bahwa ibu mertua kita tidak bahagia

Karena orang yang benar-benar bahagia dan damai hatinya (apapun kondisinya) pasti tak akan menyakiti orang lain, Apapun alasannya.

Itu sebabnya, ketika ibu mertua bicara nyelekit dan menusuk sementara kita merasa tidak berbuat aneh-aneh (enggak selingkuh, enggak neko-neko, enggak korupsi) maka doakan saja agar ibu mertua bisa bahagia dan tenang sehingga tidak lagi berbuat seperti itu.


5. Jadikan semuanya sebagai pelajaran yang berharga

Semua mertua pasti pernah jadi menantu sementara menantu belum pernah jadi mertua. Jika kita sudah tahu rasanya diperlakukan tidak menyenangkan itu menyakitkan, maka saat kelak jadi ibu mertua, Jangan sampai kita akan berbuat hal yang sama.

Demikianlah tips singkat untuk mengatasi ibu mertua yang suka bicara nyelekit, Semoga kita termasuk hamba Allah yang bisa menjaga kesucian hati dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Allah tidak pernah tidur. Allah tahu sebelum kita memberi tahu. Allah bersama orang-orang yang sabar.


Loading...