Anda Suka Selfie Berlebihan? Waspadalah, Bisa Jadi Anda Mengidap Gangguan Jiwa



Waspadalah jika Anda suka Selfie berlebihan, Karena bisa jadi tanda-tanda gangguan jiwa. Dimana seseorang sangat mengagungkan pujian atau sanjungan dari orang lain. Biasanya pelaku selfie sangat ingin mendapatkan perhatian lebih dari orang lain.

Anda Suka Selfie Berlebihan? Waspadalah, Bisa Jadi Anda Mengidap Gangguan Jiwa


Dengan selfie berlebihan akan menimbvulkan sifat takabur, ujub atau riya' dalam hati. Selfie membahayakan bagi seseorang terutama jika ia adalah seorang muslimah.

Sebagian dari mereka berusaha berpayah-payah memonyong-monyongkan bibirnya, menjulurkan lidahnya dan mengambil gambar yang menurut mereka 'terbaik'. Hal ini sudah menghilangkan sifat malu, izaah dan muru'ah pada diri seorang muslimah. Padahal rasa malu adalah sebagian dari cabang keimanan.

Islam memandang rasa malu adalah akhlak yang sangat utama di dalam agama. Bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu” (HR Ibnu Majah)

Terlebih bagi wanita, rasa malu ini adalah pakaian baginya, menjadi hiasan terbaik yang bisa dikenakan oleh seorang wanita.

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Keimanan itu ada 70 sekian cabang atau keimanan itu ada 60 sekian cabang. Seutama-utamanya ialah ucapan ‘La ilaha illallah’ dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu adalah cabang dari keimanan” (HR Bukhari Muslim)

Karenanya bahaya selfie ini dikhawatirkan akan mengantarkan kita paling banyak pada takabur, riya, dan paling sedikir sifat ujub, yang ketiganya adalah penghancur amal shalih.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa selfie pasti ujub, riya, takabbur, tidak!. Kita pun tidak membahas halal dan haramnya.

Selfie kita kembalikan lagi sebagai salah satu teknik foto, dan hukum berfoto adalah boleh. Namun bisa menjadi dosa ketika kita menjadi takabur dan riya terhadap diri sendiri.

“Tiga dosa yang membinasakan, sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya” (HR Thabrani).


loading...