Oh Ternyata Seperti Ini Penampilan 7 'Maha Guru' Dimas Kanjeng saat Berjubah




Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timurtelah mengamankan 'Maha Guru' Dimas Kanjeng terkait dugaan penipuan bermodus penggandaan uang yang dilakukan oleh Taat Pribadi di Markas Polda Jatim, Surabaya, pada Senin, 7 November 2016.

Oh Ternyata Seperti Ini Penampilan 7 'Maha Guru' Dimas Kanjeng saat Berjubah
Abdul Karim alias Abah Sulaiman Agun (kiri) bersama enam rekannya yang berperan sebagai 'maha guru' Dimas Kanjeng di Markas Polda Jatim, Surabaya, pada Senin, 7 November 2016. (VIVA.co.id/Nur Faishal)


7 'maha guru' Dimas Kanjeng itu ialah Ratim alias Abah Abdurohman, Abdul Karim alias abah Sulaiman Agung, Murjang alias Abah Nogososro, Marno alias Abah Kholil, Atjep alias Abah Kalijogo, Sadeli alias Abah Etong, dan Sutarno alias Abah Sukarno.

Polisi mendandani mereka dengan jubah dan surban hitam. Mereka lalu diminta duduk di kursi yang ditaruh di depan gedung Ditreskrimum Polda Jatim. Duduk dengan menunduk, jari mereka memutar-mutar sebuah tasbih kecil berwarna hitam. Bibir mereka berkomat-kamit seperti membaca kalimat zikir.

Begitulah kira-kira aksi ketujuh 'Maha Guru' Dimas Kanjeng itu saat diminta bersandiwara oleh Dimas Kanjeng, saat pertemuan bersama pengikut Padepokan Dimas Kanjeng. Mereka diminta berperan sebagai maha guru Dimas Kanjeng untuk meyakinkan para pengikutnya bahwa Taat Pribadi mampu menggandakan uang.

Profesi para 'maha guru' itu beragam. Ada yang karyawan swasta, buruh lepas, kuli bangunan, pengangguran, bahkan ada pula yang pengemis dan gelandangan.

"Saya sudah lima tahun tak bekerja. Sebelumnya jadi buruh bangunan lepas," kata Abdul Karim alias Abah Sulaiman Agung (72 tahun), asal Jakarta.

Karim mengaku sudah dua tahun diajak bergabung di Padepokan Dimas Kanjeng. Awal direkrut, pria 30 cucu itu diajak untuk ikut bergabung pengajian Dimas Kanjeng tanpa diberitahu akan dijadikan sebagai 'maha guru'.

Sesampai di lokasi, dia didandani dengan jubah dan surban hitam lalu diminta untuk duduk di kursi besar di samping Dimas Kanjeng.

"Pulangnya dikasih amplop berisi uang satu juta dan ongkos pulang. Saya disuruh berdoa saja," ungkap Karim.

Kakek yang memiliki jenggot panjang berwarna putih itu mengaku dua kali diajak ke Padepokan Dimas Kanjeng di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dalam pertemuan bersama pengikutnya. Tahun 2016 sebelum kasus Dimas Kanjeng terungkap, dua kali pula dia mengikuti pertemuan.

"Baru-baru ini dua kali ikut pertemuan di Makassar dan Jakarta," terangnya.




loading...

close ini