Kisah Kesabaran Rasulullah Yang Membuat Seorang Pendeta Yahudi Masuk Islam




Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan pribadi yang sangat sempurna dan salah satu yang beliau wasiatkan adalah agar umatnya senantiasa bersabar. Bukan hanya menganjurkan, namun Rasulullah sendiri merupakan pribadi yang penyabar meskipun berada dalam situasi yang harusnya memicu amarah.

Dalam hadist riwayat Ath Thabrani dari Abdullah bin Salam Radhiyallahu ‘Anhu diceritakan bagaimana kesabaran Rasulullah yang amat tinggi bisa mengislamkan seorang pendeta Yahudi.

Kisah Kesabaran Rasulullah Yang Membuat Seorang Pendeta Yahudi Masuk Islam

Ketika itu Rasulullah bersama dengan sahabat yang sekaligus menantunya, Ali bin Abi Thalib sedang berada di luar rumah dan didatangi oleh seorang badui yang tengah naik unta. Orang badui itu pun kemudian berkata:

“Wahai Rasulullah, di desaku di Bani Fulan ada beberapa orang yang telah masuk Islam. Akulah yang berdakwah kepada mereka supaya mereka masuk Islam.

Sebelumnya harta mereka sangat melimpah, tapi sekarang mereka sedang ditimpa kekeringan dan kesulitan pangan. Wahai Rasulullah, aku khawatir jangan-jangan mereka keluar dari Islam karena ketamakan terhadap harta. Jika engkau sudi untuk membantu meringankan penderitaannya, aku siap melaksanakan apa saja perintah engkau sekehendakmu.”

Zaid bin Sa’nah yang pada saat itu ada di sana kemudian ikut berbicara dan menawarkan hutang kepada Rasulullah.

“Wahai Muhammad, sudikah engkau berhutang kurma sesuai jumlah yang engkau inginkan, yang sekarang masih berada di kebun Bani Fulan dengan tempo pembayaran sesuai dengan kesepakatan?”

Beliau SAW bersabda, “Tetapi engkau tidak boleh menyebut-nyebut kebun Bani Fulan.”

“Baiklah,” jawab Zaid bin Sa’nah.

Setelah terjadi kesepakatan, Zaid bin Sa’nah kemudian mengambil kantong-kantong miliknya dan memberikan kepada Rasulullah delapan takaran kurma sebagaimana kesepakatan. Rasulullah pun berpesan kepada orang badui tersebut agar berbuat adil kepada kaum muslim di sana.

Ketika Rasulullah keluar bersama dengan para sahabatnya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman serta yang lainnya untuk menyalatkan jenazah dan saat itu sudah jatuh tempo pembayaran, beliau didatangi kembali oleh Zaid bin Sa’nah. Saat itu Rasulullah sedang bersandar di dinding dan jubahnya ditarik oleh Zaid.

Dengan penuh kemarahan, Zaid bin Sa’nah kemudian berkata, “Hai Muhammad, tidakkah engkau akan memenuhi hakku? Demi Allah, kalian semua tentu telah mengetahui bahwa bani Abdul Muthallib memang suka mengulur-ulur waktu terhadap pembayaran hutang. Kami sudah tahu betul, karena kami sudah biasa bergaul dengan kalian.”

Mendapati sikap Zaid yang tidak sopan terhadap Rasulullah, membuat mata Umar bin khattab yang terkenal tegas langsung memerah. Umar pun memandang Zaid bin Sa’nah dengan berang.

Bukannya ikut mendukung Umar atas sikap Zaid yang tidak sopan, Rasulullah justru menyuruh Umar untuk memenuhi hak Zaid karena sudah ada kesepakatan antara Rasulullah dengan Zaid bin Sa’nah.

“Wahai Umar, aku dan dia sudah bersepakat bahwa kita memerlukan cara yang baik untuk menyelesaikannya.Seharusnya engkau menyuruhku untuk segera melunasi hutangku kepadanya dan menyuruhnya untuk memperingatkan aku. Wahai Umar, penuhilah haknya dan tambahlah pembayarannya sebanyak dua puluh ikat sebagai ganti atas ketakutannya terhadap kemarahanmu.”

Atas perintah Rasulullah tersebut, Umar kemudian mengantar Zaid bin Sa’nah untuk menerima pembayaran dan melebihkan dua puluh ikat. Zaid pun merasa heran atas tambahan tersebut, namun Umar mengatakan bahwa itu merupakan ganti rugi atas ulahnya yang telah menatap Zaid dengan berang.

Zaid bin Sa’nah kemudian mengungkapkan jati dirinya kepada Umar bahwa ia merupakan seorang pendeta Yahudi dan sedang menguji kesabaran Rasulullah. Ia pun sebenarnya mengetahui ciri kenabian Rasulullah dari wajahnya secara langsung. Namun untuk kesabaran, ia harus mengujinya dan pendeta yahudi itu pun kini yakin bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Zaid bin Sa’nah yang tak lain adalah pendeta Yahudi itu kemudian bersaksi di hadapan Umar bahwa ia mengakui Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai utusan Allah. Tak hanya itu saja, Zaid bin Sa’nah juga menyedekahkan separuh hartanya yang berupa uang untuk umat Rasulullah.

Setelah itu Umar bin Khattab kemudian membawa Zaid bin Sa’nah ke hadapan Rasulullah dan bersyahadat serta menyatakan baiatnya. Zaid bin Sa’nah pun ikut berjuang membela agama Islam dan syahid di perang Tabuk. Wallahu A’lam

Baca Juga:







loading...

close ini