Kisah Nyata: Allah Memberi Jodoh Yang Terbaik Pada Kita Menurut RencanaNya




Kisah nyata ini adalah kiriman dari pembaca kabarmakkah.com. Kirimkan informasi, kisah, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami melalui email infomakkah@mail.com


Sungguh Allah memberikan skenario hidup bagi setiap manusia sesuai rencanaNya yang indah dan penuh hikmah. itulah yang saat ini saya rasakan, Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua, Aamiin.

Setelah menginjak usia 40 tahun, dan usia pernikahan kami hampir berjalan 15 tahun. baru muncul kesadaran bahwa sudah sepatutnya saya bersyukur atas setiap ujianNya baik itu berupa ujian kesenangan ataupun sebaliknya dalam perjalanan berumah tangga.

Memiliki suami yang begitu baik, dengan segudang kesabaran. suami yang selalu berusaha untuk menyelami watak dan karakter yang saya miliki. senantiasa memaafkan dan menerima semua kekurangan saya sebagai istrinya dengan lapang dada.

Kisah Nyata: Allah Memberi Jodoh Yang Terbaik Pada Kita Menurut RencanaNya


Allah pun sudah melengkapi semuanya dengan memberikan kami sepasang anak laki dan anak perempuan yang sehat dan cerdas.

Awal perkenalan kami, sama sekali tidak ada kesan yang indah dan bukan sesuatu yang ingin diingat. karena hanya membuat saya tertegun dengan rencanaNya memilihkan pasangan hidup untukku.

Sahabat kaum muslimin muslimat, khususnya yang belum menikah. percayalah bahwa Allah senantiasa mendengar doa setiap hambaNya, terlebih bagi yang meminta jodoh kepadaNya, saya senantiasa berdoa dan bersungguh’meminta jodoh mengingat usia yang hampir mendekati kepala 3.

Tidak menunggu lama, Allah mendengar doa saya dengan mengirimkan teman yang sekarang jadi pendamping hidup saya, Insya Allah hingga nanti di syurgaNya.

Hanya saja Allah memberikan yang terbaik menurut rencanaNya, bukan terbaik menurut rencana saya.

Adapun suami yang Allah pilihkan sungguh bertentangan dengan harapan dan keinginan hawa nafsu yang ada pada diri ini. saya ingin pasangan yang berkulit putih, pegawai kantoran yang selalu berpakaian rapi dan wangi, yang romantis dan lainnya yang tidak ada sama sekali didiri pasangan saya.

Setelah saya mendapat pekerjaan di Kelapa Gading Jakarta, saya kost didekat tempat saya bekerja. Orang tua saya tinggal di daerah lain.

Hampir setiap hari, sebelum kami menikah. dia menjemput saya pulang kerja. meskipun dengan angkutan umum saya menjalaninya sambil berharap Allah mengirimkan yang lain sebagai penggantinya.

Pernah suatu ketika saat pulang kerja, saya masih ada les bahasa Mandarin di seberang kantor dan dia menjemput di depan tempat saya les. karena malu, saya bergegas keluar berlari menjauh dan tidak memperdulikan dia memanggil nama saya, sampai sudah dirasa aman dan tidak ada satu temanpun yang memperhatikan, baru saya berhenti dan memarahinya. dan mengatakan, kalau besok mau jemput cukup tunggu ditempat yang saya tentukan, cukup jauh dari tempat les.dan esok harinya dia menjemput ditempat yang sudah saya tentukan.

Banjir besar melanda Jakarta, sekitar tahun 2001. saya pun harus berjuang dari tempat kost untuk sampai ke tempat saya kerja dengan berjalan kaki, karena ternyata saya dan teman kost saya terkepung banjir dimana-mana sampai sebatas dada orang dewasa kami terus berjalan sampai kurang lebih 3 jam untuk sampai ke kantor, yang jaraknya cukup ditempuh 20 menit saja jika menggunakan angkutan umum.

Selang satu hari setelah banjir, saya demam tinggi dan mulai timbul bercak seperti cacar air, lalu saya berobat ke klinik dan dokter menyatakan jika saya terkena herpes. tandanya seperti orang terkena sakit cacar air hanya bedanya bercak seperti koreng itu melingkar seperti gambar ular mulai dari dada sampai punggung. rasanya seluruh badan pegal, gatal dan panas. dikarenakan virus yang datang bersamaan dengan banjir yang merendam tubuh saya yang sedang kurang fit. dokter menyarankan agar tetap mandi dan menjaga kebersihan tubuh,juga kebersihan makanan yang dikonsumsi.

Sepulang dari berobat, dia menyarankan sesuatu hal yang membuat saya marah, lalu saya meludahinya, mengusirnya pergi dari tempat kost hanya karena kesal, tetapi dengan hati besar dia tekan bel dan meminta ibu kost untuk membukakan pintu untuknya, dan dia kembali dengan alasan ingin membantu saya yang sedang sakit, dan ibu kost mempersilahkan dia untuk masuk.

Masya Allah, bisa dilihat jika kepribadian seseorang itu memang baik. seburuk apapun situasinya senantiasa berpikir baik. sehingga hasilnya akan baik.

Karena kondisi saya sakit herpes di dada dan melingkar sampai ke punggung, saya tidak bisa menggunakan baju, jadi hanya menggunakan kain sebagai penutup. sehingga aurat saya terlihat oleh orang yang belum jadi mahramnya. salutnya dia tidak melihat jijik ataupun bernafsu, tatapan matanya menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam ketika melihat saya kesakitan dan tidak bisa tidur dengan posisi normal.

Selang satu minggu setelah saya sembuh dari sakit, dia melamar saya untuk dijadikan istrinya.

Meski dengan setengah hati, karena masih berharap datang yang lain, pendamping hidup yang sesuai harapan dan kriteria yang saya inginkan, saya menjalani proses lamaran dan menunda waktu pernikahan sampai beberapa bulan kedepan.

Takdir Allah berkata ikuti dan patuhi rencanaNya. sekuat apapun saya menentang takdir, mama saya menguatkan bahwa beliau sudah melakukan shalat istikhoroh memohon petunjuk Allah SWT, jawabannya adalah Insya Allah dia pasangan hidup yang Allah pilihkan untuk saya.

Alhamdulilah, meskipun terlambat menyadari betapa berharganya suami yang dipilihkan Allah untukku. betapa selama ini saya selalu melihat kekurangannya dari pada kelembutan hati dan kesabarannya dalam membimbingku menjadi istri yang baru saja bisa menerima takdir Allah.

Bahkan ke 4 adik lelaki saya pernah bercanda, bahwa jika bukan dia suami yang dipilihkan Allah untuk saya -yang memiliki kesabaran yang tinggi- mungkin saya tiap hari akan mengadu dipukul, benjol dll atau bahkan sudah mati dibunuh, bahkan dimutilasi karena saking buruknya perilaku saya sama suami selama ini.

Alhamdulilah, terima kasih Ya Allah atas hidayah yang Engkau berikan. terima kasih karena sudah memilihkan pasangan hidup yang terbaik untukku.

Semoga saya dan semua keturunan saya juga pembaca yang baik, senantiasa diberi keselamatan dalam setiap ujian hidup baik diuji dalam kesenangan maupun sebaliknya. semoga Allah mengampuni sebesar apapun dosa saya selama 14.5 tahun menjadi pendamping hidupnya, Aamiin.

Demikianlah, semoga bisa diambil hikmah dan pembelajaran dari pengalaman saya diatas.

Bahwa kita tidak selalu menerima apa yang kita inginkan,karena Allah memberikan segala sesuatu itu sesuai rencanaNya yang indah.

Wallahu A’lam bisshawab.


Pengirim : Expose Digital (exposedigital09@gmail.com)




loading...

close ini