Ternyata Hewan Kurban Tidak Merasakan Sakit Saat Disembelih Secara Islami, Profesor Ini Membuktikannya




Ternyata Hewan Kurban Tidak Merasakan Sakit Saat Disembelih Secara Islami, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ternyata Hewan Kurban Tidak Merasakan Sakit Saat Disembelih Secara Islami, Profesor Ini Membuktikannya

Fenomena penyembelihan hewan kurban sudah menjadi hal yang biasa dilihat pada hari raya Idul Adha atau 3 hari sesudahnya. Memang Allah menganjurkan umat muslim yang memiliki kelebihan rezeki agar hendaknya menyembelih kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Namun pernahkah kita mengetahui bahwa ternyata hewan kurban tidak merasakan sakit ketika disembelih secara islami? Mengapa bisa demikian?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dua orang staff peternakan dari Hannover University Jerman telah membuktikan hal tersebut. Mereka adalah Profesor Wilhelm Schulze dan Dr Hazim. Keduanya ingin membuktikan sejauh mana perbedaan antara penyembelihan yang sesuai syariat islam dan penyembelihan cara barat terhadap kondisi hewan yang disembelih.

Mereka kemudian merancang sebuah penelitian yang sangat canggih dan menjadikan beberapa sapi yang sudah dewasa sebagai bahan penelitiannya.

Di dalam permukaan otak kecil sapi tersebut, peneliti memasang sepasang elektroda (microchip) yang disebut Electro Encephalograph (EEG). Nantinya sistem kerja alat tersebut akan menyentuh titik panel rasa sakit dan merekam setiap derajat sakit yang dirasakan saat penyembelihan.

Selain itu keduanya pun memasang Electro Cardiograph di jantung sapi guna merekam aktivitas jantung saat terjadinya penyembelihan.

Agar alat tersebut bisa beradaptasi di dalam tubuh sapi, mereka membiarkan alat tersebut beberapa minggu sebelum akhirnya dilakukan uji coba.

Sudah diketahui bahwa dalam syariat islam terdapat beberapa syarat penyembelihan suatu hewan yakni harus memotong 3 saluran leher menggunakan pisau yang sangat tajam. 3 saluran tersebut antara lain saluran makan, saluran napas dan dua saluran pembuluh darah yakni arteri karotis dan vena jugularis.

Penyembelihan secara islami juga tidak mengajarkan penggunaan sistem pembiusan dahulu karena beberapa alasan kini yang ternyata didapat hasilnya oleh kedua ilmuwan tersebut.

Berikut adalah hasil dari penyembelihan hewan kurban yang menggunakan syariat islam, antara lain:

1. Di 3 detik pertama setelah penyembelihan (tiga saluran leher sudah terputus), tidak terjadi perubahan grafik pada EEG. Dengan kata lain hewan kurban tidak merasakan sakit pada saat itu, meski telah disembelih.

2. Di 3 detik berikutnya, EEG mencatat adanya penurunan yang bertahap layaknya proses tidur. Sehingga sapi tersebut seperti hilang kesadaran. Selain itu ECG pada jantung mulai mengalami peningkatan.

3. ECG di jantung pada 6 detik pertama memperlihatkan adanya aktivitas jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh tubuh dan memompanya keluar.

4. Tertariknya seluruh darah keluar tubuh secara maksimal oleh jantung menjadikan daging di tubuh sapi dikategorikan daging yang sehat (Healthy meat) dan termasuk daging yang sesuai Good Manufacturing Practise (GMP)/ standar mutu makanan.

Sementara mematikan sapi lewat cara dipingsankan, dipukul kepalanya ataupun disetrum akan mengalami hasil berikut:

1. Sapi yang dipingsankan atau dipukul kepalanya akan jatuh dan roboh serta tidak bisa bergerak. Sehingga orang dapat dengan mudah menyembelihnya dan sapi seperti tidak merasakan sakit. Selain itu darah yang keluar lebih sedikit dibanding penyembelihan islami.

2. Ketika proses pemingsanan, EEG akan mengalami kenaikan, yang berarti sapi merasakan sakit yang cukup tinggi.

3. Saat EEG meningkat pesat, ECG pada jantung mengalami penurunan drastis sehingga jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik darah dari seluruh tubuh dan tidak mampu mengeluarkannya secara maksimal.

4. Darah yang masih dalam tubuh sapi akan membeku dan menjadikannya daging yang tidak sehat (Unhealthy meat) serta tidak layak untuk dikonsumsi oleh siapapun.

Pembekuan darah dalam saluran pembuluh di daging dikatakan tidak sehat karena berpotensi besar menjadi sarang bakteri pembusuk yang nantinya menyebabkan daging menjadi rusak.

Jadi apabila kita melihat seekor hewan kurban meronta-ronta setelah disembelih dan berpikir bahwa hewan tersebut tengah merasakan sakit yang amat sangat dengan goresan di leher yang menganga, maka pemikiran kita sangatlah salah. Karena kedua peneliti tersebut membuktikan bahwa pisau yang tajam tidak menyentuh saraf rasa sakit.

Sehingga merontanya hewan kurban hanya merupakan ekspresi rasa kaget dari otot dan sarafnya saja.

Karenanya benarlah syariat yang Allah berikan kepada umat manusia bahwa penyembelihan yang islami lebih besar maslahatnya.

Benarlah juga sabda Rasulullah yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih makan hendaklah kalian berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelih.”

Baca Juga:


Semoga kita semakin yakin akan syariat yang telah Allah pilihkan untuk kita selaku hamba-Nya. Dengan demikian tak ada lagi alasan untuk menolak syariat-Nya dengan pandangan dan cara pikir kita yang terbatas. Wallahu A’lam