Pahamilah Dengan Baik: Makkah itu Memang Tanah Suci, Tapi Warga Atau Penduduknya Tidak




"Pahamilah dengan baik: Makkah itu memang tanah suci, tapi warga atau penduduknya tidak. Maka diharap waspada!" Begitu nasihat yang dilontarkan KH Hasyim Muzadi beberapa hari sebelum pelaksanaan ibadah puncak haji, yakni wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina. Nasihat mantan ketua umum PBNU saat menjabat sebagai amirul haj dituturkan pada sebuah perbincangan ringan di kantor Daker Makkah yang berada di wilayah Sisya, Makkah.

Pahamilah Dengan Baik: Makkah itu Memang Tanah Suci, Tapi Warga Atau Penduduknya Tidak
Suasana di Pelataran Masjidil Haram


"Jadi, jamaah haji jangan terkecoh dengan penampilan. Jangan pula menganggap orang yang berada di Makkah itu suci semua. Hati-hati," kata Abah Hasyim, panggilan akrab KH Hasyim Muzadi.

Kala itu para petugas haji memang mendapat laporan terkait banyaknya kejadian penipuan yang menimpa para jamaah haji. Abah Hasyim pun diminta komentarnya oleh para wartawan mengenai munculnya aksi kejahatan tersebut, terutama terkait sebuah peristiwa sepasang suami-istri asal Nusa Tenggara Barat yang melaporkan kehilangan uang dalam jumlah yang lumayan (sekitar Rp 30 juta) ketika sedang berada di pelataran Masjidil Haram.

Kisahnya begini. Pada sebuah siang menjelang waktu Dzuhur sepasang suami-istri calon haji asal Lombok itu sampai di pelataran Masjidil Haram. Keduanya berniat ingin melaksanakan shalat berjamaah di pelataran Ka’bah. Namun, karena tempat shalat laki-laki dan perempuan terpisah, keduanya pun mencari tempat shalat yang berbeda. Sekilas keduanya ragu ketika akan berpisah karena sama-sama takut tersesat jalan, terutama ketika harus pulang ke pemondokan.

Nah, di tengah keraguan tersebut, tiba-tiba muncul seorang lelaki asal Indonesia menyapanya. Mereka makin terkejut karena lelaki itu menyapanya dengan bahasa daerah asalnya: Lombok. Akhirnya, terjadi perbincangan hangat antara sepasang suami-istri ini dengan lelaki tersebut memakai bahasa daerah mereka.

Perbincangan semakin akrab karena kemudian lelaki menyebut asal-usulnya yang juga dari Lombok. Sepasang suami-istri itu pun terpesona terhadap lelaki yang baru saja dikenalnya.

Tanpa sungkan, sang suami kemudian mengeluhkan perasaannya karena takut sewaktu-waktu istrinya tersesat di Makkah. Katanya: "Jika sampai terpisah, istri saya tak bisa pulang ke pemondokan.”

Mendengar keluhan tersebut, lelaki yang mengaku dari Lombok itu pun tersenyum. Sesaat kemudian ia menjawab sembari berkata: "Jangan khawatir pak. Saya tungguin Bapak di sini. Silakan saja Ibu masuk ke dalam masjid dulu. Nanti selepas shalat, cari saya di sini," sahut lelaki itu. Maka sang istri pun masuk ke dalam masjid terlebih dahulu meninggalkan suami dan lelaki asal Sumbawa itu di pelataran.

Setelah sang istri pergi masuk ke dalam masjid bersama jamaah perempuan lainnya, perbincangan ringan dilanjutkan. Bahkan, keduanya kemudian mencari tempat yang teduh, yang berada di pinggir pelataran halaman Masjidil Haram. Dengan menggunakan bahasa daerahnya, mereka pun berbincang dengan topik apa saja, misalnya soal pekerjaan dia selama di Arab Saudi, penghasilannya, hingga soal berapa lama sudah tinggal di Makkah.

Tanpa dirasa azan Dzuhur berkumandang. Jamaah lain pun sudah memenuhi area masjid. Sang suami pun sadar harus masuk ke dalam masjid untuk segera mengikuti jamaah shalat Zhuhur.

"Pak, apakah sudah berwudhu? Jangan-jangan Bapak tanpa sadar wudhunya sudah batal" kata lelaki itu memperingatkan sang suami. Dan suami tersebut pun tersadar bahwa dia seharusnya berwudhu lagi karena mungkin saja sudah batal.

"Ayolah, Pak, wudhu di sana itu. Turun ke bawah seperti jamaah yang lain," kata lelaki itu seraya menunjukkan lokasi tempat wudhu yang berada tak jauh dari pinggir pelataran masjid yang lokasinya berada di dekat Hotel Dar At Tawhid.

Mendengar perintah lelaki tersebut, sang suami pun segera beranjak hendak mengambil wudhu. Namun, sesaat sebelum berangkat, lelaki itu berkata.

"Kalau ke bawah jangan bawa-bawa tas. Di sana penuh sesak. Nanti tas Bapak malah hilang. Titipkan saya aja, biar saya tungguin tas Bapak disini," pinta lelaki itu.

Layaknya terkena hipnotis, sang suami dengan entengnya memberikan tas tersebut.

"Tolong jagain, ya," kata sang suami.

“Beres, Pak. Jangan khawatir. Insya Allah Saya tunggu di sini, tapi jangan lama-lama, ya,’’ jawab lelaki tersebut.

Kemudian sang suami pun pergi mengambil wudhu. Dengan ringan hati dia memberikan tasnya tanpa curiga sedikitpun. Dia kemudian masuk ke tempat wudhu yang waktu itu memang mulai penuh sesak. Lima menit kemudian setelah mengambil air wudhu dia pun kembali ke tempat semula untuk mengambil barangnya yang ia titipkan kepada lelaki yang mengaku berasal satu daerah dengannya.

Celakanya, ketika sampai di tempat semula, dia tak menemukan lelaki itu. Dia pun kemudian berusaha mencari-carinya di sela keramaian jamaah yang hendak pergi shalat Dzuhur. Namun, orang yang dicari-carinya tak menampakkan diri. Lelaki itu raib bak ditelan bumi.

Maka pada titik itulah, sesaat kemudian dia tersadar telah menjadi korban penipuan. Dan tubuhnya pun langsung terasa lemas ketika sadar bahwa uang sebanyak Rp 30 juta yang berada di dalam tas yang dititipkan itu telah dibawa pergi lelaki yang baru saja dikenalnya.

"Saya ditipu orang," kata sang suami ketika melapor kepada petugas haji yang saat itu berjaga di pelataran Masjidil Haram.

Dan petugas itupun hanya bisa menjawab, "Istighfar, Pak. Astaghfirullahaladzim."




loading...

close ini