Disadari Atau Tidak, Inilah Daftar Dosa Suami Pada Istri




Sejatinya, seorang suami adalah panutan dan teladan kebaikan bagi istri dan anaknya. Dari suami seharusnya seorang istri belajar teladan dalam setiap kebaikan agar kehidupan rumah tangganya berjalan harmonis.

Disadari Atau Tidak, Inilah Daftar Dosa Suami Pada Istri


Lalu bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya; Dimana seorang istri selalu merasa terdzalimi oleh suaminya? Itu artinya seorang suami sudah melakukan perbuatan dosa kepada istri yang seharusnya ia sayang dan ia bimbing menuju jalan yang benar.

Dalam mahligai rumah tangga, pertengkaran kecil semestinya dijadikan sebagai bumbu-bumbu 'pemanis' untuk menguatkan jalinan kasih sayang suami istri. Tapi bagaimana jika suami sudah sering melakukan dosa kepada istrinya? Postingan kali ini akan diulas beberapa dosa suami yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga seorang Muslim bahkan disadarinya atau tidak.

Diantara sekian banyak dosa suami kepada istri, Inilah Daftar Dosa Suami Pada Istri Yang Harus Kamu Ketahui

Buruk Sangka pada Istri

Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al Qur'an, Istri diibaratkan pakaian yang melekat di tubuh seorang suami. Oleh karenanya, seorang suami tidak bisa lepas dari istrinya, sebab istri adalah pakaian baginya.

Semestinya pula, tidak pantas bagi seorang suami untuk berburuk sangka kepada istri yang telah ia halalkan kehormatannya dengan dua kalimat syahadat. Islam melarang seorang Muslim berburuk sangka kepada Muslim lainnya, Apalagi jika itu dilakukan seorang suami kepada istrinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai,janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi danjanganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allahbersaudara.” (HR. Bukhari)

Tak Ada Rasa Cemburu pada Istri

Salah satu dosa yang seringkali dilakukan suami kepada istrinya adalah tidak atau kurang memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Jika seorang suami tak punya sifat dan sikap cemburu kepada istrinya, maka sangat mudah bagi seorang istri yang tak shalehah untuk bermain dibelakang suaminya. Tentu saja, perbuatan istri yang bernai melakukan hal itu tidak dibenarkan syariat, sebab ada lelaki lain yang dicintainya selain suaminya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya  dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (meremas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri dari sela-sela jarinya.” (HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudruzi)

Jadilah suami yang peduli pada istri, jangan sampai istri Anda mencintai lelaki lain karena Anda tidak peduli atau tidak punya rasa cemburu terhadapnya.

Meremehkan Kedudukan Istri

Suami yang meremehkan kedudukan istrinya bukanlah suami yang baik, Perbuatan ini tidak dibenarkan Agama. Seorang suami yang meremehkan kemuliaan istri biasanya karena ego suami yang terlalu tinggi dan watak kerasnya yang merasa lebih mempunyai power dibanding istrinya. Meremehkan istri terkadang tidak disadari seorang suami akibat candaan-candaannya yang berlebihan, atau dengan cara lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Saling berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum perempuan. Sebab, perempuan itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika kamu ingin meluruskannya, kamu pasti membuatnya patah. Namun, jika kamu membiarkannya, ia kan tetap bengkok. Jadi, saling berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum perempuan.” (HR. Bukhari).

Menyerahkan Kepemimpinannya pada Istri

Dalam keseharian, bahkan dalam kehidupan sebuah masyarakat Muslim sekalipun, terkadang masih ditemui kendali kepemimpinan keluarga diserahkan kepada seorang istri.  Apa artinya seorang lelaki dijadikan pemimpin jika kepemimpinannya justru diserahkan kepada istrinya.  Bukankah Allah Ta’ala telah mengatakan bahwa lelaki itu adalah pemimpin?

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda tentang satu janji bahwa tidak akan beruntung suatu kelompok jika kepemimpinannya diserahkan kepada seorang wanita. Dari Abu Bakar, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita.” (HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Memakan Harta Istri Tanpa Izin

Suami adalah orang yang bertanggung jawab mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Setiap harta atau rezeki yang Allah titipkan kepada seorang suami tentu saja akan menjadi sedekah ketika istrinya ikut menikmati sebab memang sang suami mencari rezeki untuk menafkahi keluarganya.

Sebaliknya jika istri yang memperoleh rezeki, maka haram hukumnya bagi suami ikut memakan harta istrinya tanpa seizin sang istri. Harta suami yang dinafkahkan kepada istri adalah sebuah kewajiban suami. Sebaliknya, jika ada istri yang memberikan nafkah kepada suami, maka itu sifatnya adalah sedekah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An Nisa:4).

Imam Bukhari meriwayatkan hadits Abu Sa’id ra dalam Shahihnya, ia berkata, “Dari Abu Sa’id al Khudri ra,  Zainab, isteri Ibnu Mas’ud datang meminta izin untuk bertemu. Ada yang memberitahu, “Wahai Rasulullah, ini adalah Zainab.”

Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Zainab yang mana?”

Maka ada yang menjawab, “(Zainab) isteri Ibnu Mas’ud.”

Beliau menjawab, “Baiklah. Izinkanlah dirinya.”

Maka ia (Zainab) berkata, “Wahai, Nabi Allah. Hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah. Sedangkan aku mempunyai perhiasan dan ingin bersedekah. Namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak menerima sedekahku.”

Nabi bersabda, “Ibnu Mas’ud berkata benar. Suami dan anakmu lebih berhak menerima sedekahmu.” Dalam lafazh lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menambahkan, “Benar, ia mendapatkan dua  pahala, pahala menjalin tali kekerabatan dan pahala sedekah.”

Lupa Berbakti pada Orang Tua

Kebanyakan lelaki jika sudah menikah, seringkali ia lupa berbakti kepada kedua orang tuanya. Semestinya, menikahi seorang wanita menjadi sebuah jalan untuk menjadikan diri menjadi lebih sholeh dan lebih berbakti terhadap kedua orang tua, namun kebanyakan lelaki yang sudah menikah malah lupa dan seolah melupakan kedua orang tuanya.

Dulu sangat perhatian dengan orang tuanya, mendoakannya, mengunjunginya, menanyakan kabarnya, menyisihkan uang untuk kedua orang tuanya tapi setelah menikah, semua itu tinggal kenangan. Jarang telpon menanyakan kabar kedua orang tuanya, jarang mendoakannya dan hal-hal baik lainnya tidak ia lakukan lagi. Hal itu terjadi setelah dirinya menikah. Lalai dari berbakti kepada orang tua setelah menikah adalah satu diantara sekian banyak kesalahan yang dilakukan oleh sebagian suami.

Setiap Muslim tahu kedudukan orang tua disisinya dan tentu diantara orang yang paling berhak menerima kebaikkan kita adalah orang tua kita. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahhu ‘Alaihi Wasalam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membuka pintu maaf-Nya karena kelalaian yang seringkali dilakukan seorang lelaki untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

Suka Berselisih dengan Istri

Jangan merasa karena menjadi pemimpin keluarga lalu Anda sekehendak hati meluapkan emosi kepada istri. Ingat, wanita yang kini menjadi istri Anda adalah seorang wanita yang hakikatnya telah Allah pilihkan untuk mendampingi Anda dalam menjalani kehidupan di dunia yang singkat ini. Istri adalah teman hidup yang bisa menjadi tempat berbagi tentang semua masalah yang dihadapi bukan sebaliknya malah di ajak bertikai demi meluapkan semua emosi atau marah.

Meluapkan emosi kepada istri bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Seorang sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan, “Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah!” (HR. Bukhari).

Betapa penting akhlak seorang suami untuk menahan emosinya agar tidak diluapkan kepada istrinya. Dan betapa hancur hati seorang istri jika suaminya tiba-tiba meluapkan emosinya tanpa mau menjelaskan terlebih dulu apa yang menjadi sebab ia marah-marah  kepada istrinya. Di sinilah seorang suami harus mampu menahan emosinya dan mengisi spiritualnya agar mempunyai kelembutan.

Pelit pada Istri

Tidak sedikit suami yang jika mendapatkan rezeki kemudian disimpan sendiri di dalam dompetnya. Tak serupiah pun ia bagi kepada istrinya kecuali jika istrinya melapor karena untuk membeli kebutuhan dapur, dan anak-anaknya. Perilaku seperti ini tentu saja seolah-olah sang suami tidak mempunyai rasa percaya kepada istrinya.

Padalah dalam Islam tidaklah seperti itu. Seharusnya, setelah seharian suami bekerja dan mendapatkan uang, maka ia beri tahu dan diberikan kepada istrinya. Kepercayaan suami kepada istri dengan memberikan gaji atau uang kepada istri sepenuhnya akan membuahkan rasa cinta yang semakin berlipat. Sebab istri merasakan betapa ia benar-benar telah dipercaya untuk menjadi ‘bendahara’ bagi suaminya.

Karena itu, janganlah seorang suami bersikap kikir (pelit) kepada istrinya, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang bersikap seperti itu. Dari Aisyah ra yang menyatakan bahwa Hindun binti Utbah pernah mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan (suamiku) tidak memberikan nafkah yang cukup kepadaku dan kepada anak-anakku.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ambillah hartanya dengan cara yang ma’ruf (baik) sebanyak yang dibutuhkan olehmu dan anak-anakmu.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Hadits di atas menegaskan tentang dua hal; pertama, larangan pelit bagi seorang suami kepada istri-istrinya. Kedua, tidak berdosa seorang istri mengambil harta suaminya demi memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya. Tidak berdosa sebab istri dan anak-anak adalah tanggungan suaminya.

Banyak Mencela dan Mengkritik Istri

Banyak suami yang merasa tidak berdosa jika ia mencela dan mengritik istrinya. Padahal, hati seorang wanita itu sangat lembut, halus dan sensitif. Karena itu, berhati-hatilah jika bicara kepada istri, sebab bisa jadi niatnya baik untuk menasihati atau memotivasi, tapi karena kata-kata yang diucapkan tidak dengan lemah lembut, akhirnya membuat istri tersakiti. Tak ada yang membuat seorang istri menangis kecuali jika hatinya terluka.

Mencela memang tidak boleh dilakukan oleh seorang Muslim kepada Muslim lainnya, terlebih lagi jika dilakukan suami kepada istrinya sendiri. Mengkritik sah-sah saja selama kritik itu justru membangun dan memotivasi istri untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri dan keilmuan agar menjadi istri dan ibu yang shalehah. Tapi tentu saja, kritik membangun itu tetap harus disampaikan dengan kata-kata lembut yang penuh kasih sayang.

Suami yang lemah lembut (berakhlak mulia), merupakan lelaki yang sempurna imannya sebab ia telah berbuat baik kepada istrinya. Hal ini seperti diingatkan dalam sebuah hadits. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya dan orang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi).

Tidak Berdoa Ketika Menggauli Istri

Islam adalah agama beradab yang mengajarkan kepada setiap pemeluknya agar berakhlak mulia dalam memperlakukan istri termasuk saat menggaulinya. Ada kelembutan, kasih sayang, dan tentu saja berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat akan menggauli istri agar mendapat keberkahan dari Allah Ta’ala. Tapi hari ini, tak sedikit suami yang menggauli istrinya tanpa membaca doa. Sebabnya entah ia tidak memahami adab berjima’ (bersetubuh) atau memang ia lupa karena buncahan nafsu yang bergejolak.

Padahal sejak 1400 tahun lalu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengajarkan kepada setiap suami agar berdoa kepada Allah sebelum ia menyetubuhi istrinya. Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Maka, bila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” (HR. Bukhari)

Menyebarkan Rahasia Ranjang pada Orang Lain

Tentu bukan sikap yang teramat buruk jika ada seorang suami yang tanpa merasa berdosa menceritakan rahasia ranjang bersama istrinya kepada orang lain. Selain secara akal sehat adalah sebuah prilaku yang tidak bisa diterima akal sehat, juga dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda, “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Ibn Abi Syaibah, Ahmad, dan Muslim)

Menggauli Istri ketika Haid dan Melalui Anusnya

Di antara dosa seorang suami yang sering dilakukan kepada istrinya adalah menggaulinya saat ia haid atau menggaulinya melalui anus (dubur)nya. Istri memang pakaian bagi suaminya, tapi bukan  berarti seorang suami bebas menggauli istrinya melalui anus atau menggaulinya saat istri sedang haid.

Firman Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ’Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari  wanita (istri, red) di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai mereka suci. Bila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 222)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dilaknat, orang yang mendatangi perempuan pada duburnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasaa’i)

Diriwayatkan oleh Ash-habus Sunan, kecuali an-Nasa-i, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mencampuri wanita (isteri) yang sedang haidh atau (mencampuri) wanita pada duburnya, atau (mendatangi) dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa (wahyu) yang diturunkan pada Muhammad.” (HR. At-Tirmidzi)

Itulah beberapa dosa suami yang sering dilakukan kepada istrinya entah disadari atau tidak. Masih banyak dosa-dosa suami yang dilakukan kepada istrinya yang belum disebutkan dalam tulisan singkat ini. Sebagai seorang suami, semestinya berhati-hati dan bercerminlah pada akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memperlakukan istri.

Wallahu A'lam.