Di Daerah Indonesia Ini, Umat Islam Yang Ingin Berangkat Haji Harus Mengantre Selama 40 Tahun




Di Daerah Indonesia Ini, Umat Islam Yang Ingin Berangkat Haji Harus Mengantre Selama  40 Tahun

Di Daerah Indonesia Ini, Umat Islam Yang Ingin Berangkat Haji Harus Mengantre Selama 40 Tahun

Bagi umat islam, berangkat ke tanah suci menjadi ibadah yang sebisa mungkin diwujudkan, terutama setelah memiliki dana yang cukup. Namun sayangnya setiap tahunnya antrean umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah haji semakin panjang dikarenakan kuota yang ditetapkan oleh pemerintah tidak sesuai dengan jumlah pendaftar.

Terkadang umat islam harus menunggu beberapa tahun hingga belasan tahun, meski pembayaran Ongkos Naik Haji (ONH) sudah dilunasi. Sementara untuk ONH Plus, harganya semakin mahal bagi kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun meski demikian, tetap saja umat Islam di Indonesia memiliki semangat yang besar untuk bisa berangkat ke tanah suci.

Dilansir dari Okezone, Minggu (21/8/2016) bahwa berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, terdapat 3 daerah di provinsi tersebut yang memiliki daftar antrean paling lama yakni bisa mencapai berpuluh-puluh tahun. Ketiga daerah tersebut antara lain Kabupaten Sidrap yang harus mengantre selama 40 tahun, Kabupaten Wajo harus mengantre selama 39 tahun dan Kabupaten Gowa dimana calon jamaah haji harus menunggu selama 36 tahun.

Lamanya antrean di tiga daerah tersebut dikarenakan banyaknya warga setempat yang mendaftar untuk berangkat ke tanah suci. Karenanya daftar tunggu pun semakin panjang setiap tahunnya.

“Salah satu faktor mengapa di tiga Kabupaten itu panjang daftar tunggu hajinya karena tingginya masyarakat yang mendaftar haji. Di daerah ini, haji bahkan dianggap status sosial. Ketika dana sudah tercukupi, mereka langsung mendaftar haji,” ucap Wardi Siradj selaku Humas Kanwil Kemenag Sulsel.

Memang strata sosial di daerah tersebut dipengaruhi juga dengan sudah berangkat atau tidaknya ke tanah suci. Terlebih lagi ada adat dimana seorang haji berpakaian yang berbeda dengan umat islam yang belum berhaji.

Adapun kehidupan masyarakat di tiga Kabupaten tersebut sebagian besar merupakan pedagang, baik yang merantau ataupun yang berniaga di daerahnya sendiri.

Baca Juga:







loading...

close ini