Din Syamsuddin: Kurang Toleran Apa Umat Islam di Indonesia?




Belakangan ini kerap terjadi kasus intoleransi beragama. Jika pemerintah tidak segera mengambil sikap secara serius, bukan suatu hal yang mustahil akan terjadi perpecahan. Kasus yang terbaru, adalah terkait penertiban Warung Tegal Bu Saeni di Serang, Banten yang dibesar-besarkan dan mendapat respon yang menuai pro dan kontra dari banyak kalangan.

Din Syamsuddin: Kurang Toleran Apa Umat Islam di Indonesia?


Bahkan malah muncul isu Pemerintah sengaja ingin membatalkan peraturan daerah bernuansa Islami. Namun hal itu segera diklarifikasi oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Terkait masalah ini juga termasuk ranah toleransi kerukunan umat beragama.

Cendikiawan muslim sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin mengatakan, melihat sejauh ini toleransi di Indonesia masih cukup tinggi.

"Toleransi di Indonesia ini relatif tinggi dan bagus," kata Din Syamsuddin di kantor MUI, Jakarta Selasa kemarin.

Din menambahkan bahwa saat ini umat Islam muslim hanya perlu diperlakukan adil dalam kehidupan masyarakat dan tidak menuntut hak istimewa.

“Jangan dibilang umat Islam tidak toleran. Umat Islam tidak menuntut hak istimewa, hanya perlu diperlakukan berkeadilan,” kata Din.

Di beberapa daerah, Lanjut Din. "Masih ada masjid yang tidak boleh didirikan. Bahkan mencari lahan pemakaman untuk Muslim saja susah. Ini apa kurangnya umat Islam bertoleransi. Oleh karena itu kita lihat secara proporsional dan keadilan. Tanpa keadilan dengan adanya satu kasus tentu diungkap kemudian, seolah Islam dituduh sebagai yang intoleran. Enggak akan seperti ini kalau Islam tidak toleran." jelasnya

Terkait kasus warteg Ibu Saeni di Serang, Din menyakini jika itu sudah disetting pihak tertentu.

"Ini berbahaya. Saya berpesan, jangan ada kelompok yang melakukan seperti itu." Katanya.

Intoleransi terhadap umat Islam juga tercermin pada kasus Tolikara tahun silam, tidak banyak dari pihak pemerintah pusat yang turun ke lapangan. begitu juga yang terjadi di Aceh Singkil baru dikaitkan dengan Islam.

"Ini ketidakadilan yang nyata bagi kehidupan bernegara kita. Nah ini justru tidak baik untuk pembangunan toleransi. Umat Islam sudah jelas toleran. Lebih dari cukup" jelas Din.

Din juga menambahkan bahwa umat muslim sudah bertoleransi kepada penganut agama lain, misalnya saat Hari Raya Nyepi di Bali.

“Di Bali saat Nyepi tidak boleh naik motor ke masjid. Penggunaan toa (pengeras suara, Red) pun memang tidak diperbolehkan sebelumnya,” pungkasnya.




loading...

close ini