Kata 'Tidak Mencintai' Itu Bukan Berarti 'Membenci'




Suatu kali ketika hadir dalam ujian 'syafawi' atau ujian lisan mata kuliah tafsir tahlili pada tamhidi S 2, saya dapat bagian pertanyaan dari surat Al A’raf ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al A’raf ayat 31)

Kata 'Tidak Mencintai' Itu Bukan Berarti 'Membenci'


Yang menguji saya waktu itu adalah Prof. Dr. Sayyid Muhammad Ad Dusuki, salah satu guru besar paling senior di jurusan tafsir dan ulumul Qur’an universitas Al Azhar Kairo.

Bisa dipastikan bagaimana suasana hati waktu itu, dag-dig-dug, sampai tubuh gemetaran. Namun saya berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan diri.

Setelah disuruh membaca ayat dan penjelasan yang ada di tafsir Mafatihul Ghaib karya Imam Fakhrur Razi, beliau mulai bertanya. Alhamdulillah, sampai tujuh pertanyaan saya bisa menjawab dengan baik. Hati saya semakin tenang menghadapi pertanyaan selanjutnya. Pada pertanyaan ke delapan beliau berkata: Apa makna perkataan Allah Ta’la لا يُحِبُّ (tidak menyukai atau tidak mencintai) yang terdapat pada ayat?

Dengan mantap saya menjawab: “يكره أو يغضب” (benci atau marah).

Beliau menanggapi: “Kamu benar”. Tapi kenapa Allah menggunakan kata-kata “لا يحب”, bukan kata-kata “يكره atau يغضب”?

Ketika itu saya kaget, belum ada saya baca hal itu sebelumnya dari beberapa kitab tafsir yang disuruh untuk membacanya sebelum ujian. Dengan agak kalang kabut saya menjawab sekenanya. Mendengar jawaban saya beliau marah: “ الكلام غير العلم يا ابني”! Pembicaraanmu tidak ilmiah wahai anakku. Silahkan keluar!

Saya kaget bukan kepalang. Sudah delapan pertanyaan saya bisa jawab dengan baik, yang kesembilan salah langsung di “itla’ barah” (diusir keluar). Dengan memelas saya minta penjelasan apa jawaban benar. Akibatnya beliau semakin marah. “Hadza imtihan yabni, musy hiwar” (Ini ujian nak, bukan dialog).

Tanpa bicara lagi saya keluar dari ruangan ujian dengan mata nanar. Habis sudah harapan!

Namun alhamdulillah, setelah melengkapi dengan banyak berdo’a, akhirnya saya lulus juga.

Semenjak kejadian itu saya berusaha mencari jawaban yang benar dengan bertanya sana sini dan membaca berbagai macam kitab tafsir. Tapi tidak ada jawaban yang memuaskan.

Sampai hari kemarin, ketika makan siang bersama anak dan istri sepulang mengajar, anak saya yang kecil yang masih berumur 3 tahun membuang-buang makanan yang ada di piring.

Untuk mencegahnya supaya tidak melanjutkan aksinya itu, dengan lemah lembut saya berkata: “Nak, jangan buang-buang makanan, nanti Allah marah”!

Dengan spontan istri saya menyela dan langsung memeluknya: “Tidak nak, Allah tidak marah. Tapi Allah tidak sayang kepada orang yang buang-buang makanan”.

Lalu anak saya berkata: “Iya ya mi, Allah ga’ pemarahkan mi? Allah Penyayangkan mi?”

Subhanallah…. sudah lama saya mencari jawaban yang memuaskan, justru dari anak-istri saya baru mendapatkannya dengan momen yang tidak disengaja. Allah menggunakan kalimat lemah lembut supaya hamba-Nya tertarik untuk menerima dan tidak merasa terintimidasi. Allah Maha Tahu kejiwaan hamba-Nya”.

Di samping mendapatkan jawaban yang memuaskan, ada banyak hikmah yang saya temukan. Di antaranya, Allah memberikan ilmu kepada kita bisa jadi melalui hal yang tidak kita kira, tidak mesti harus duduk di bangku kuliah atau dengan membaca buku.

Hal ini mengingatkan saya kepada apa yang dialami oleh Ibnu Abbas pada saat beliau tidak tahu apa makna sesungguhnya firman Allah yang terdapat pada surat al Qiyamah ayat 11 (كَلا لا وَزَرَ).
Sampai pada suatu kali beliau melihat seorang anak badui memainkan semut. Anak itu menghalang-halangi semut dengan tangannya supaya tidak bisa lari sambil berkata: “La wazar…la wazar…la wazar”. Maksudnya, tidak ada jalan untuk melarikan diri.

Atau ketika beliau tidak memahami apa maksud sebenarnya dari kata (فاطر)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : ” كُنْتُ لا أَدْرِي ، مَا فَاطِرُ السَّمَوَاتِ ، حَتَّى آتَانِي أَعْرَابِيَّانِ يَخْتَصِمَانِ فِي بِئْرٍ ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا : أَنَا فَطَرْتُهَا ، أَنَا ابْتَدَأْتُهَا

Dulu aku tidak tahu apa makna firman Allah: “فَاطِرُ السَّمَوَاتِ”, sampai dua orang Arab Badui datang kepadaku untuk menyelesaikan persengketaan yang terjadi di antara mereka berdua tentang sebuah sumur. Salah seorangnya berkata: أَنَا فَطَرْتُهَا ، أَنَا ابْتَدَأْتُهَا (Aku yang menciptakannya, aku yang memulainya).

Pelajaran lain, ujian itu saya alami bulan September tahun 2006 yang lalu. Setelah berlalu hampir 10 tahun, baru Allah bukakan ilmu-Nya kepada saya. Allah memberikan ilmu dengan berangsur-angsur, sesuai keinginan-Nya, bukan sesuai kemauan kita.

Ya Allah, bukakan kepada kami pintu pengetahuan dari segala arah dan karuniakan pada kami ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

Oleh: Ustadz Zulfi Akmal





close ini