Tanda Hitam Di Dahi, Ahli Ibadahkah?




Tanda Hitam Di Dahi, Ahli Ibadahkah? │Seringkali banyak dari kita yang menganggap bahwa tanda hitam di jidat merupakan sebuah tanda kekhusyukan dalam ibadah. Padahal tidak sedikit dari hadist yang menerangkan bahwa tanda seperti itu justru memiliki dampak yang negatif.

Contohnya seperti yang dipertanyakan oleh Manshur kepada Mujahid tentang firman Allah, “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”. Yang menjadi pertanyaan apakah tanda tersebut memang kiasan ataukah nyata terdapat bekas pada dahi?

Tanda Hitam Di Dahi, Ahli Ibadahkah?

Mujahid mengatakan bahwa tanda itu bukanlah bekas pada dahi karena diantara mereka yang memiliki tanda hitam di jidat pun terkadang merupakan orang yang bejat. Sementara tanda yang Allah maksudkan disini adalah tanda kekhusyukan. Keterangan ini didapat pada riwayat Baihaqi dalam kitab Sunan Kubro.

Sementara itu Ahmad Ash Showi mengatakan bahwa ayat Allah diatas bukanlah ditujukan untuk orang yang tukang riya yakni tanda hitam di dahi dikarenakan hal tersebut merupakan ciri dari khawarij.

Dari Al Azroq bin Qois, sesungguhnya Syarik bin Syihab mengatakan, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang sahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadist tentang khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para sahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakan kepadaku hadist yang kau dengar dari Rasulullah tentang khawarij.”

Dalam hadist riwayat Ahmad tersebut, Abu Barzah kemudian menceritakan bahwa sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah dan kemudian Rasul pun membagi-bagikannya kepada masyarakat yang ada pada waktu. Setelah itu datang seorang yang kepalanya plontos dengan tanda hitam di dahinya. Dia pun mengenakan dua lembar kain berwarna putih seraya mendatangi Rasul dari sisi kanan beliau. Harapannya tentu saja ingin agar Rasulullah memberikan dinar tersebut langsung kepada dirinya. Akan tetapi Rasulullah justru tidak memberikannya. Dengan sedikit kesal pria itu pun berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil.”

Tak pelak, ketika mendengar ucapan itu, Rasulullah marah dan mengatakan, “Demi Allah setelah aku meninggal dunia, kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku.” Seperti itulah yang diucapkan oleh Rasulullah dan beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca Al Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudian mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah kepala plontos dan mereka akan selalu muncul.”

Karena hal tersebut, maka sudah selayaknya kita bersikap biasa-biasa terhadap orang yang memiliki tanda hitam di dahi dan tidak menjadikannya sebagai suatu bukti dari ibadah yang penuh kekhusyukan. Dengan begitu, kita akan lebih bisa memandangnya secara proporsional dan tidak menjadikan sebagai buah celaan.

Bisa jadi orang tersebut memang tidak menginginkannya dan terjadi karena terlalu menekan saat sujud sehingga hasilnya adalah sebuah tanda hitam di jidat.

Semoga kita bisa lebih bijak dalam menyikapi fenomena ini agar tidak terjadi pandangan dan sikap yang berlebihan terhadap muslim seperti ini serta tidak pula menjadikan bahan celaan.

Wallahu A’lam





loading...