Kebesaran Allah: Pasukan Rayap Memakan Kertas Surat Perjanjian Penting Dan Menyisakan Lafadz ‘Allah’




Kebesaran Allah: Pasukan Rayap Memakan Kertas Surat Perjanjian Penting Dan Menyisakan Lafadz ‘Allah’

Kebesaran Allah: Pasukan Rayap Memakan Kertas Surat Perjanjian Penting Dan Menyisakan Lafadz ‘Allah’

Dalam masa pengucilan oleh kaum Quraisy, Rasulullah beserta para sahabatnya mengalami sebuah penderitaan yang sangat memilukan. Bahkan jika pun dialami kita yang hidup saat ini, tentulah rasa putus asa sudah dirasakan sejak awal. Pasalnya pengucilan atau embargo ini telah menyebabkan para sahabat Rasul harus rela menyantap ranting dan daun karena tidak adanya makanan yang bisa dibeli.

Ketika itu setiap kali para sahabat akan membeli suatu makanan dari para pedagang, dengan congkahnya Abu Lahab berkata, “Wahai pedagang, naikkan harga kalian untuk para sahabat Muhammad, agar mereka tidak bisa membeli makanan sedikit pun.” Karena ketakutan dengan ancaman Abu Lahab, para pedagang pun menaikkan harga makanan tersebut dengan sangat tinggi. Akhirnya para sahabat pun pulang dengan tangan hampa.

Setelah tiga tahun pengucilan tersebut, kalangan Bani Qushayy mengecam tindakan Abu Lahab tersebut karena merasa kasihan dengan keadaan para sahabat Rasul. Mereka pun hendak membatalkan perjanjian pengucilan yang sebelumnya telah mereka sepakati. Namun di sisi lain, Allah justru telah melakukan sebuah pengajaran kepada kaum Quraisy dengan mengirimkan pasukan rayap untuk memakan lembaran perjanjian embargo atau pengucilan kepada Nabi dan para sahabatnya.

Dan Allah pun sengaja memerintahkan kepada pasukan rayap itu untuk menyisakan lafadz ‘Allah’ sebagai bukti yang tak terbantahkan.

Apa yang diperbuat oleh Allah Ta’ala tersebut disampaikan kepada Nabi dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menyampaikannya kepada Abu Thalib selaku pamannya.

“Apakah Tuhanmu telah mengabarimu tentang itu?” Tanya Abu Thalib

“Ya, benar.” Jawab Rasul.

Abu Thalib kemudian mendatangi kaum Quraisy dan meminta ditunjukkan lembaran perjanjian tersebut. Maka mereka pun mengambil lembaran yang tergulung itu dari dinding Ka’bah yang masih dalam kekuasaan kaum Quraisy.

Dengan penuh keyakinan, Abu Thalib kemudian berkata, “Sesungguhnya keponakanku tidak pernah berdusta kepadaku. Ia mengatakan bahwa Allah telah mengirimkan pasukan rayap untuk memakan lembaran perjanjian yang berisi pemutusan silaturahmi ini. Jika memang benar, segera tinggalkanlah pikiran buruk yang kalian pendam. Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan Muhammad hingga orang yang terakhir kami meregang nyawa. Namun jika yang dikatakannya tidak terbukti, kami akan menyerahkan Muhammad kepada kalian dan kalian boleh melakukan apapun kepadanya.”

Dengan gembira bercampur congkah, kaum Quraisy pun berkata, “Baiklah, kami setuju.”

Allahu Akbar, ketika gulungan perjanjian tersebut dibuka, semua tulisan perjanjian kaum Quraisy telah habis dimakan rayap. Yang tersisa hanya lafadz ‘Allah’, tepat seperti yang disampaikan Rasulullah.

Namun karena kekafirannya yang nyata, kaum Quraisy tetap kukuh dalam pendiriannya meski bukti nyata ada di hadapan. Dengan ketus mereka berkata kepada Abu Thalib, “Semua ini hanyalah sihir dari keponakanmu.”

Demikianlah orang yang telah Allah tutup mata hatinya, meski telah nyata kebesaran Allah di hadapan.

Semoga menjadi ibrah bagi siapa saja yang sombong dan angkuh, baik karena jabatan, harta ataupun keturunan di kehidupan dunia ini agar tidak merendahkan kaum yang lemah karena Allah-lah penolongnya.

Wallahu A’lam





loading...