Bertetangga Ada Adabnya, Begini Etika Bertetangga Yang Diajarkan Nabi




KabarMakkah.Com - Manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidupnya. Tanpa adanya orang lain, seseorang tidak akan bisa bertahan hidup dengan baik. Maka kehadiran tetangga dalam kehidupan keseharian sangatlah penting. Namun banyak muslim yang tidak paham bahwa mereka membutuhkan tetangga, sehingga mereka berbuat seenaknya terhadap tetangga. Padahal tetangga sudah seharusnya diperlakukan dengan baik.
Ilustrasi bertetangga
Ilustrasi bertetangga
Allah SWT berfirman:

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh” (QS. An Nisa: 36)

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda: “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya”. (HR. Bukhari)

Lalu, bagaimana praktek amalan berbuat baik terhadap tetangga? Berikut cara Rasulullah bertetangga dengan baik:

1. Memuliakan Tetangga

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaqun ‘alaihi).

Betapa tegas perintah Rasulullah SAW tersebut, hingga kedudukan memuliakan tetangga di sejajarkan dengan keimanan seseorang terhadap Allah SWT dan hari akhir. Artinya barangsiapa yang tidak memuliakan (berbuat baik) terhadap tetangganya, maka ia dikategorikan sebagai orang yang tidak beriman terhadap Allah dan hari akhir.

Terkadang kita sebagai umat muslim hanya berbuat baik terhadap tetangga yang muslim saja. Padahal pada QS. An Nisa ayat 36 di atas tidaklah dibatasi jenis tetangga tersebut. Dengan demikian, walaupun di samping kita terdapat tetangga non muslim, tetap kita berkewajiban untuk memuliakannya.

Kita juga jangan terpaku bahwa yang namanya tetangga adalah dia yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kita. Ayat di atas jelas menerangkan bahwa tetangga ada yang dekat dan ada yang jauh. Maka perhatikanlah pula tetangga jauh itu dan muliakanlah mereka.

2. Membangun Rumah Tanpa Mengganggu Tetangga

Ketika kita akan membangun rumah, usahakan agar bangunan rumah tidak sampai menghalangi sinar matahari tetangga. Letak bangunan pun jangan sampai melampaui batas tanah milik orang lain. Perhatikan pula tanaman-tanaman kita yang cabang-cabangnya melewati rumah tetangga. Karena jika melewati pekarangan tetangga, kita tidak boleh melarang mereka untuk memetik buahnya atau menebas cabangnya karena cabang tanaman tersebut memang sudah menjadi hak milik tetangga kita.

Adab bertetangga lainnya yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yakni: “janganlah seseorang dari kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya”. (HR. Abu Hurairah)

Namun sebagai tetangga kita pun punya etika yang harus dijaga. Walaupun menancapkan kayu di dinding orang lain tidaklah dilarang, namun jangan sampai kita merusak atau merobohkan dinding tersebut. Selain itu peletakan kayu tersebut bukan didasarkan karena main-main tapi karena kebutuhan yang tidak ada jalan lain selain melakukannya.

3. Memelihara Hak Tetangga, Terutama Tetangga Yang Paling Dekat

Pernah suatu ketika Aisyah R.A bertanya: “Ya Rasulullah, aku memiliki dua tetangga manakah yang aku beri hadiah? Rasulullah menjawab: “Yang pintunya paling dekat dengan rumahmu”. (HR. Bukhari, Ahmad dan Abu Dawud).

Tetangga yang paling dekat lebih berhak didahulukan daripada tetangga yang letak rumahnya jauh. Tetangga yang paling dekat akan menjadi orang pertama yang menolong kita disaat kita terkena musibah. Karenanya berbuat baik terhadap tetangga yang paling dekat diutamakan dalam Islam.

Selain mengutamakan tetangga yang paling dekat, hak tetangga lainnya yang harus kita penuhi diantaranya adalah menjaga harta dan kehormatannya dari gangguan orang jahat, baik tetangga tersebut sedang ada di rumah maupun sedang di luar rumah. Ulurkanlah tangan, berilah bantuan juga pada tetangga yang sedang membutuhkan. Lalu jagalah pandangan kita dari anggota keluarga tetangga kita yang wanita. Selain itu rahasiakanlah aibnya jangan justru kita umbar kemana-mana.

4. Tidak Mengganggu Ketenangan

Terlarang bagi seorang mukmin mengganggu ketenangan tetangganya sendiri. Larangan keras ini dapat kita baca dalam hadist yang diterima dari sahabat Abu Hurairah, dimana Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya”.

Rasulullah SAW sendiri mensejajarkan antara iman kepada Allah dan hari akhir dengan larangan mengganggu tetangga. Artinya barang siapa yang mengganggu tetangganya berarti ia tidak beriman terhadap Allah dan hari akhir. Orang seperti ini tentunya akan mendapat adzab yang sangat besar kelak di akhirat sana.

Faktanya sekarang ini banyak sekali kaum muslimin zaman sekarang yang tidak menaruh perhatian akan hal tersebut. Dengan seenaknya mereka menyalakan radio atau televisi dengan suara yang sangat keras, padahal disampingnya ada tetangga yang sedang sakit. Atau dengan tanpa merasa bersalah mereka menutup akses jalan yang biasa dilalui para tetangganya.

5. Tidak Kikir Dalam Memberi Nasihat Dan Saran

Amal ma’ruf nahi munkar sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim, salah satunya terwujud lewat pemberian nasihat. Rasulullah SAW bersabda: “Agama itu nasihat” Kami (para sahabat) bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin”. (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i).

Maka janganlah kita kikir dalam memberikan nasihat atau saran yang bertujuan untuk kebaikan tetangga kita. Namun yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya jangan sampai menyinggung perasaan atau menjatuhkan martabat mereka. Jika hal ini terjadi, niat dan tujuan yang asalnya baik justru akan berdampak buruk.

Sampaikanlah nasihat dengan hikmah, diantaranya dengan tidak menyebut orang yang dituju dan dengan tidak dilakukan secara frontal di depan umum.

6. Memberikan Makanan

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim)

Kiranya hadist ini sudah jarang dipraktekkan di zaman sekarang. Ketika seseorang memasak makanan, jarang ia ingat akan tetangganya. Ia hanya menyiapkan makanan tersebut sebanyak porsi anggota keluarganya. Padahal saling memberi makanan adalah salah satu adab bertetangga yang bisa menjadikan hubungan baik antar tetangga semakin rekat.

7. Ikut Bergembira Dan Berduka

Ikut bergembira saat tetangga mendapat kebahagiaan dan ikut berduka saat mereka ditimpa kemalangan adalah adab bertetangga selanjutnya. Perasaan empati ini lahir dari kasih sayang pada tetangga sehingga bahagianya adalah bahagia kita dan dukanya adalah duka kita.

Rasa empati ini merupakan cerminan akhlak yang mulia yang akan membuat kita menjadi orang terbaik yang disebutkan Rasulullah SAW, yakni: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi).

Contoh kecilnya yaitu dengan menjenguk tetangga yang sedang dilanda sakit. Iringi kedatangan kita dengan mendo’akan kesembuhan bagi si sakit. Jika ada rezeki, jangan lupa membawakannya sedikit buah tangan (jika tidak ada pun tak mengapa). Selain itu biasakan juga berbagi kebahagiaan dengan sesekali mengundang tetangga untuk datang ke rumah kita dalam rangka berbincang dan menyantap jamuan.

8. Tidak Mencari-Cari Kesalahan Tetangga

Daripada mencari-cari kesalahan tetangga lebih baik kita mencari-cari kesalahan diri sendiri. Kemudian kesalahan demi kesalahan pribadi tersebut sedikit demi sedikit diperbaiki hingga menjadi manusia yang lebih baik lagi. Memang mencari kesalahan orang lain itu begitu mudah, beda dengan mencari kesalahan sendiri. Ibarat pepatah semut di seberang lautan kelihatan sedangkan gajah di pelupuk mata tidak terlihat.

Sebagai tetangga yang baik, kita seharusnya tidak mencari-cari kesalahan tetangga. Bahkan jika mereka berbuat salah pun, sebaiknya kita menutupi aib mereka dan memberikan nasihat bijaksana agar mereka tidak terjerumus kedalam kealpaan yang sama.

9. Sabar Atas Perlakuan Buruk Tetangga

Adakalanya tetangga yang kita hadapi adalah orang-orang yang tidak mengerti akan agama sehingga mereka tidak berbuat ihsan akan orang-orang di sekitarnya termasuk pada diri kita. Mereka senantiasa mengganggu dan menyakiti diri kita.

Jika ini terjadi, pertebal kesabaran dan tahanlah amarah kita. Ingatlah bahwa Allah SWT berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali imran: 133-134)

Rasulullah SAW pun bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah. Disebutkan diantaranya: ‘seseorang yang memiliki tetangga, ia selalu disakiti oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad)

Semoga kita semua bisa bertetangga dengan baik dan menjalin ukhuwah yang erat antar tetangga baik secara duniawi maupun ukhrowi sebagaimana yang telah Rasulullah contohkan.

Wallahu A’lam





loading...