Subhanallah.. Inilah Mahar Yang Lebih Utama dari Apapun

Diposting pada

KabarMakkah.Com – Zaid bin Sahl adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang memiliki suara keras menggelegar. Ia lebih akrab dipanggil dengan julukan Abu Tholhah. Ia juga telah masuk Islam sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah.

Kisah keislamannya tergolong unik. Ia adalah seorang pemuda tampan, kaya dan dari golongan bangsawan di Madinah, perempuan manapun pasti tidak akan menolak jika dipersuntingnya. Pada akhirnya pinangannya jatuh bukan pada gadis. Namun pada seorang janda muslimah bernama Ummu Sulaim yang sudah memiliki anak, yang sangat teguh dengan agamanya.

Subhanallah.. Inilah Mahar Paling Utama dari Apapun

Sewaktu ia mengajukan lamaran pada Ummu Sulaim, ia mendapatkan jawaban yang tak disangka-sangka,

“Wahai Abu Tholhah, Demi Allah.. tak ada perempuan yang akan menolak lamaran orang terhormat sepertimu. namun aku seorang perempuan muslimah dan engkau adalah seorang yang kafir, karenanya aku tidak dibolehkan menikah denganmu. Jika engkau mau, silahkan masuk Islam, itulah mahar yang kuminta, dan aku tak akan meminta mahar yang lainnya lagi!”

Sebenarnya akan lebih gampang bagi seorang Abu Tholhah jika mahar yang diharapkan Ummu Sulaim adalah uang, kekayaan, perhiasan atau harta dunia lainnya, yang umumnya sangat disukai oleh kaum wanita, tetapi ini “keyakinan”nya? Agak cukup lama ia mempertimbangkan mahar yang diminta oleh Ummu Sulaim.

Akan tetapi ternyata kehendak Allah SWT telah menggiringnya untuk memperoleh hidayah lewat jalan pernikahan ini.

Ia pun kemudian menyetujui permintaan Ummu Sulaim. Ia menikah dengan mahar keislamannya. Dan ternyata kemudian ia menjadi salah seorang sahabat Anshor yang sholih dan dermawan.

Seorang sahabat Nabi yang bernama Tsabit berkata,

“Aku tak pernah mendengar seorang perempuan yang mahar pernikahannya lebih utama daripada mahar Ummu Sulaim ketika dinikahi Abu Tholhah.”

Pernah pada suatu hari ia sedang mendirikan sholat di kebunnya, Tiba-tiba saja melintas seekor burung cantik yang tersesat diantara rerimbunan daun di kebunnya, matanya mengikuti gerakan burung tersebut sehingga ia jadi lupa dengan jumlah rekaat sholatnya. Ia sangat menyesal dengan kelalaiannya ini, Setelah sholatnya selesai kemudian ia bertanya pada Rasulullah, “Wahai Utusan Allah, baru saja aku tertimpa musibah karena hartaku, karena itu sekarang kebunku akan kuserahkan untuk Allah. Silahkan engkau pergunakan sesuai keinginanmu Wahai Rasulullah.”

Abu Tholhah merupakan sahabat Anshor yang memiliki banyak kebun di Madinah. Salah satu kebun terbaik yang pernah dimilikinya terletak tidak jauh dari masjid Nabawi. Di dalamnya terdapat air telaga yang sangat menyejukkan. Tak jarang Rasulullah SAW sering bersilaturrahim pada Abu Tholhah di kebunnya.

Kebun ini dikenal dengan nama ‘Birha’. Sewaktu turun ayat Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 92, “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Abu Tholhah segera bergegas menemui Nabi Muhammad SAW, dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat mencintai Birha, Namun karena Allah telah memerintahkan untuk menafkahkan harta yang paling dicintai di jalanNya, maka saya pasrahkah Birha ini untuk dibelanjakan di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendaki-Nya”

“Inilah salah satu pemberian yang mulia di sisi Allah,” Jawab Rasulullah SAW dengan penuh gembira, “Akan tetapi menurutku, Kebun itu akan lebih bermanfaat jika engkau bagikan pada kerabatmu sendiri”

Abu Tholhah pun menerima nasehat mulia Nabi Muhammad SAW tersebut dan membagikan kebun tersebut pada kerabat dan saudaranya yang tidak mampu.

Di masa tuanya pada masa kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan, Sewaktu ia sedang membaca Surat At Taubah, di ayat yang ke 31, dimana Allah berfirman, “Berangkatlah kamu (untuk berjihad), baik dalam keadaan merasa ringan ataupun berat,”

Tiba-tiba saja ia tersentak kaget dan merenung sejenak, kemudian ia berkata kepada anak-anaknya, “Wahai anakku, persiapkan bekalku, persiapkanlah bekalku!”

Anaknya dan beberapa orang yang hadir mencoba menghalau keinginan Abu Tholhah tersebut, mereka berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat padamu, engkau telah sering berjihad bersama Rasulullah SAW, bersama Sayyidina Abu Bakar dan juga Sayyidina Umar hingga mereka semua wafat di jalan Allah, biarkan kami saja yang berjuang dan engkau tinggal di sini.”

“Tidak,” tegas Abu Tholhah, “Persiapkan bekalku sekarang!”

Keluarga dan para kerabatnya pun tak bisa menahan keinginannya untuk berjihad, mereka mempersiapkan perbekalan. Ia pun akhirnya ikut berjuang bersama pasukan yang berperang menyeberangi samudera.

Di dalam salah satu pelayarannya, ketika di tengah lautan lepas, Abu Tholhah meninggal dunia. Selama tujuh hari tidak ditemukan pulau untuk menguburkannya, namun jasadnya tidak berubah sedikitpun. Masyaallah.. Begitulah akhir kehidupan yang khusnul khotimah.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.. Amiin Ya Rabbal’alamiin

Loading...