Fadhilah Dan Sejarah Puasa Asyura

Diposting pada

Apa saja keutamaan dan fadhilah puasa Asyura dan bagaimanakah sejarah puasa Asyura?

Pengertian Dan Sejarah Puasa Asyura

Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharrom. diambil dari kata Asyaroh yang bermakna sepuluh atau puasa di tanggal 10 bulan Muharram. Asyura adalah hari yang mulia. Menyimpan sejarah yang mendalam dan tak bisa dilupakan.

Suatu ketika Sayyidina Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Puasa ‘Asyura di zaman Rasulullah SAW mengalami empat fase

Fase pertama: Rasulullah SAW berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.
Aisyah berkata: “Dulu orang Quraisy berpuasa Asyuro pada masa jahiliyyah. Dan Nabi pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga. Ketika puasa Ramadhon telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa”.

Fase kedua: Ketika Nabi datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa Asyura, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana keterangan Ibnu Abbas diatas. Bahkan Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk berpuasa di hari Asyura.

Fase ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban untuk berpuasa Ramadhon, beliau tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Asyuro, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah sebagaimana hadits Aisyah yang telah lalu.

Fase keempat: Pada akhir hidupnya, Nabi Muhammad SAW bertekad untuk tidak hanya puasa pada hari Asyuro saja, namun juga menyertakan hari tanggal 9 Asyuro agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi.

Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi puasa Asyuro dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani!! Maka Rasulullah SAW berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan Nabi SAW sudah wafat terlebih dahulu”.

Fadhilah atau Keutamaan Puasa Asyura

Hari ‘Asyura adalah hari yang mulia, Ada keutamaan yang sangat besar di dalam puasa di Hari Asyura.

Fadhilah Dan Sejarah Puasa Asyura
Fadhilah Dan Sejarah Puasa Asyura

Imam Izzuddin bin Abdus Salam berkata: “Keutamaan waktu dan tempat ada dua bentuk: Bentuk pertama adalah bersifat duniawi dan bentuk kedua adalah bersifat religi. Keutamaan yang bersifat agama adalah kembali pada kemurahan Allah untuk para hambanya dengan cara melebihkan pahala bagi yang beramal.

Seperti keutamaan puasa Ramadhon atas seluruh puasa pada bulan yang lain, demikian pula seperti hari Asyura. Keutamaan ini kembali pada kemurahan dan kebaikan Allah bagi para hambanya di dalam waktu dan tempat tersebut”. Diantara fadhilah dan keutamaan puasa Asyura adalah:

1 – Menghapus dosa setahun yang lalu

Rasululloh SAW bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

Imam Nawawi berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar”.

2 – Nabi sangat bersemangat untuk berpuasa di Hari Asyuro

Ibnu Abbas berkata:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ: يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Aku tidak pernah melihat Nabi benar-benar perhatian dan menyengaja untuk puasa yang ada keutamaannya daripada puasa pada hari ini, hari ‘Asyura dan puasa bulan Ramadhon.

3 – Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil

Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga”

4 – Dulu Puasa Asyura Pernah Diwajibkan

Di zaman Nabi SAW puasa Asyura pernah diwajibkan sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Hal ini menujukkan keutamaan puasa Asyura pada awal perkaranya.

Ibnu Umar Rodli Allah Anhuma berkata: “Nabi dahulu puasa Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhon, puasa Asyura ditinggalkan”

5 – Puasa Asyura Jatuh pada Bulan Allah

Nabi SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling terbaik setelah puasa Ramadhon adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharrom.

6 – Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”

Berdasarkan penanggalan kalender Ummul Qura 2015 yang beredar di Masyarakat Indonesia, Tanggal 9 dan 10 Muharram 1437 Hijriyah insyaallah jatuh pada hari Kamis, dan Jum’at, bertepatan dengan tanggal 22 dan 23 Oktober 2015. Semoga kita bisa menjalaninya dan jangan lupa sampaikan pada istri, anak, kerabat dan rekan-rekan muslim lainnya.

Baca Juga:

Referensi:

– Syarah Shahih Muslim Linnawawi
– Fathul Bari, Ibnu Hajar Asqolani
– Shohih Bukhori, Imam Bukhori
– Tuhfatul Ahwadzi, Almubarak Fury
– Qowaid al-Ahkam, al-‘Izz bin Abdis Salam
– Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi

Loading...