Mengintip “Peusijuek”, Prosesi Unik Pelepasan Calon Haji di Serambi Mekkah

Diposting pada

19 Calon Jamaah Haji asal Desa Lambaro Skep Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, dilepas sore kemarin. Mereka satu persatu dipeusijuek (tepung tawari) oleh seorang tetua adat. Prosesi pelepasan calon jamaah yang akan berangkat menunaikan ibadah haji ini digelar di masjid desa setempat.

Usai salat Ashar, sejumlah masyarakat Desa Lambaro Skep kembali memadati masjid. Kali ini bukan untuk melaksanakan salat lagi. Mereka datang untuk menyaksikan prosesi peusijuek calon jamaah haji. Prosesi ini merupakan sebuah tradisi dalam adat Aceh yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Haji Aceh
Peusijuek Adat Haji Aceh

Tak lama berselang, 19 calon jamaah haji duduk di depan. Di belakang mereka sebuah tabir dinding khas Aceh yang terbuat dari kain terpasang. Mereka duduk berbaris menghadap masyarakat yang hadir. Usai pembacaan ayat suci Al-quran dan nasihat, seorang pria mengenakan peci dan kain sarung berdiri dan kemudian duduk di depan tamu Allah tersebut.

Lelaki tersebut kemudian mengambil alat-alat peusijuek yang telah disiapkan seperti daun cocor bebek atau biasa disebut dengan on seunijuek dan sejumlah dedaunan lain yang sudah disatukan. Sesekali, on senijuek dicelupkan ke dalam wadah plastik dan kemudian memercik ke semua calon jamaah haji.

Calon jamaah haji pria dipeusijuek oleh laki-laki sementara calon jamaah haji perempuan dipeusijuek oleh perempuan. Sebelum memakai alat-alat tepung tawari, pria tersebut terlebih dahulu menaburkan beras padi. Setelah itu, semua calon jamaah ini mengambil sedikit nasi ketan untuk dimakan.

“Semoga jamaah yang dipeusijuek hari ini jiwanya bisa tenang,” kataKepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Amiruddin Husin, dalam nasihatnya, Jumat (5/9/2014).

Di Aceh, prosesi peusijeuk merupakan sebuah tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang. Tujuannya, untuk bersyukur kepada Allah. Biasanya, prosesi ini digelar terhadap benda atau manusia dengan harapan memperoleh berkat,selamat, atau akan berada dalam keadaan yang baik.

Peusijuek sendiri berarti mendinginkan atau menenangkan hati. Di Aceh, peusijuek dilakukan saat seseorang mendapat kebagian atau rahmat dan juga kala seseorang terlepas dari suatu musibah yang menimpanya.

Saat prosesi peusijuk digelar, orang yang dipercaya untuk mempeusijuek orang lain terlebih dahulu membaca Basmallah dan doa. Proses peusijuek kemudian diakhiri dengan makan nasi ketan bersama.

Ketua Majelis Adat Aceh, Badruzzaman Ismail, mengatakan, peusijuek sudah menjadi tradisi masyarakat sejak zaman dahulu. Tujuannya untuk membangun silaturrahmi dengan kerabat maupun keluarga. Saat prosesi peusijuek digelar, keluarga dan warga sekitar biasanya turut diundang. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan rasa senang atau rasa sedih ke orang lain.

“Peusijuek ini sebagai bentuk bersyukur kepada Allah,” kata Badruzzaman kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Menurut Badruzzaman, prosesi peusijuek dilakukkan pada kegiatan-kegiatan tertentu dalam kehidupan masyarakat Aceh, seperti peusijuek pada kenduri perkawinan, kenduri sunatan, saat pelepasan calon jamaah haji dan berbagai kegiatan lainnya. Peusijuk bukan hanya dilakukan pada saat-saat upacara tertentu saja. Ada juga peusijuk yang dilakukan setelah terjadinya perdamaian antara dua atau beberapa orang yang sebelumnya bertikai.

“Peusijuek itu ada bermacam tempat dilakukan. Tapi cara dan doanya sama semua,” jelasnya.

Prosesi peusijuek tidak dilakukan sembarangan orang. Untuk melakukannya diutamakan dilakukan oleh orang yang memahami dan menguasai hukum agama sebab prosesi peusijuek ini diisi dengan acara mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bersama sesuai dengan agama Islam yang dianut secara umum oleh masyarakat Aceh

Peusijuek
Peusijuek

Dalam peusijuek digunakan sejumlah bahan seperti beras padi, rumput hijau atau on sinijuek, dan air. Menurut Badruzzaman, bahan yang digunakan tersebut hanya simbol bukan suatu kepercayaan. “Masak upacara tidak ada visual jadi bahan itu semua hanya simbol,” jelas Badruzzaman.

Bahan atau alat yang digunakan tentu mempunyai arti tersendiri. Beras padi, misalnya mencerminkan sumber kehidupan. Sebab, masyarakat Aceh zaman dahulu tidak bertani tapi hanya makan beras dari padi. Selain itu, memercik air dan on senijuek berarti untuk mendinginkan. Ia mencontohkan, jika sebelumnya orang terlihat marah-marah tapi setelah dipeusijuk jiwanya akan tenang kembali.

Sementara nasi ketan mempunyai arti sebagai perekat antara satu orang dengan orang lain. Setelah prosesi peusijuek selesai digelar, nasi ketan ini selanjutnya dibagi kepada warga yang hadir untuk dimakan secara bersama-sama.

Peusijuek
Adat Haji Aceh

Dalam peusijuek, juga diatur cara-caranya. Namun kadang tata cara pelaksaan peusijuek ini berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. “Beda caranya saja. Kadang daerah tidak beraturan seperti itu,” ungkap Badruzzaman.

Ritual peusijuek ini mirip dengan tradisi tepung tawar dalam budaya Melayu. Di Aceh yang melakukan acara peusijuek adalah tokoh agama maupun adat yang dituakan ditengah masyarakat. Bagi kaum lelaki yang melakukan peusijuek adalah tokoh pemimpin agama Teungku (Ustadz) sedangkan bagi wanitanya adalah Ummi atau seorang wanita yang dituakan ditengah masyarakat.

Hukum peusijuek, menurut Badruzzaman yaitu mubah artinya boleh dilakukan boleh tidak. Ia tidak sependapat dengan orang-orang yang menyebut peusijuek mubazir dilakukan karena membuang-buang beras padi. Meskipun demikian, ada juga hal-hal yang harus dihindari saat prosesi peusijuek.

“Jangan sampai merusak aqidah gara-gara peusijuek, cuma itu yang harus dihindari,” ungkap Badruzzaman. (detik)

Loading...