Kritik Untuk Penyelenggaraan Haji Indonesia

Diposting pada

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, indonesia adalah penyelenggara haji terbesar dan merupakan contoh bagi penyelenggara haji yang lainnya. bahkan penyelenggaraan haji indonesia adalah yang terbaik menurut data World Hajj And Umroh Convension. silahkan buka http://whuc.org/whuc-awards/ 

Namun pada kenyataan di lapangan, menurut saya penyelenggaraan haji indonesia masih dibawah kualitas “good”. sebagai contoh kecil untuk masalah transportasi bus sholawat. tidak ada keterbukaan dari pihak kemenag berapa jumlah bus yang disediakan. karena yang saya lihat di lapangan bus sholawat sering untel-untelan penuh, sangat sesak ketika mengangkut jamaah haji tahun kemarin.untuk tahun ini alhamdulillah kualitas bus sudah diperbaiki, akan tetapi untuk kuantitas saya tidak tahu, karena pihak kemenag sendiri tidak terbuka dalam hal ini.

Kemudian menu makanan di arofah dan mina, banyak jamaah haji indonesia yang mengeluh. bukan karena apa-apa. tapi karena rasa makanan tersebut yang sangat hambar. bagaikan daging yang hanya diberi garam dan air saja. waktu di arofah disediakan nasi box. akan tetapi lauknya hanya 2 nugget ayam kecil yang hambar dan 1 saus sachet kecil. padahal di puncak ibadah seperti ini seharusnya jamaah haji diberi makanan yang bergizi yang bisa memberikan energi penuh pada jamaah. ironisnya, box bertuliskan selamat menikmati dari kemenag yang membungkus nasi di arofah harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan isi boxnya.

Yang paling menonjol adalah ketika jamaah haji indonesia landing di muzdalifah. betapa kacaunya pelayanan yang diberikan oleh pihak maktab. sehingga banyak jamaah yang pingsan di muzdalifah. karena harus mengantri dalam pagar besi yang sempit. yang lebih parah, jamaah haji indonesia disuruh mengantri sambil berdiri berjam-jam dalam pagar yang kecil itu. dalam hal ini saya tidak menyalahkan petugas haji. tapi menyalahkan pihak kemenag kenapa handling di muzdalifah dipegang oleh pihak maktab?

Kritik Untuk Penyelenggaraan Haji Indonesia
Pagar Besi Muzdalifah

Untuk masalah pekerja temus (tenaga musiman) sebaiknya perlu ditambah. jamaah haji tahun 2014 ini sekitar 168.000 kemudian pekerja temus hanya 500. itupun yang efektif di lapangan sekitar 350 an (bahkan ada yang di shift) bandingkan 168.000/350 – apakah 350 orang akan efektif melayani 168.000 orang?

Banyak diantara petugas haji indonesia yang tidak efektif melayani jamaah haji. misalnya saja ketua kloter yang kerjaannya hanya tidur-tiduran atau malah sering plesiran di tanah suci daripada melayani jamaah haji.

Seharusnya di sekitar masjidil haram, para petugas haji standby disana untuk mengantisipasi banyaknya jamaah yang hilang atau tersesat ketika di masjidil haram. lebih efektif kalau bukan hanya di satu titik, minimal ada 4 titik dan diberi tanda bendera indonesia yang besar. karena yang saya lihat di musim haji tahun kemarin banyak jamaah yang tersesat dan tak jarang tidak ada petugas haji yang menolongnya sama sekali.

Persoalan dan berbagai masalah yang saya sebutkan diatas hanyalah sebagian kecil berbagai keruwetan penyelenggaraan ibadah haji indonesia. saya tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. akan tetapi akan lebih baik kalau kita saling bekerjasama untuk membenahi sistem penyelenggaraan ibadah haji. mari kita kawal penyelenggaraan ibadah haji indonesia demi kebaikan dan kemaslahatan bagi kemenag sendiri dan peningkatan pelayanan untuk kaum muslimin indonesia yang sedang berhaji.

Postingan ini adalah bentuk apresiasi atas pernyataan Menag yang baru Lukman Hakim Saifuddin, di http://poskotanews.com/2014/06/20/menag-kritik-masyarakat-untuk-tingkatkan-pelayanan/

Loading...