Ustadz Ini Ceritakan Pengalamannya Ketemu ‘Hantu’ di Mekkah

Diposting pada

Hantu. Istilah tersebut biasanya disematkan pada semacam makhluk ghaib yang menyeramkan dan suka mengganggu manusia. Hantu, konon katanya seringkali muncul di tempat-tempat yang gelap, sepi dan suasananya angker, alias menyeramkan. Lalu, jika memang seperti itu, bagaimana dengan penampakan sosok “hantu” di Mekkah yang dikisahkan bertemu dengan seorang ustadz?

Bagi Anda yang tengah melakukan ibadah haji atau umrah, ataupun tengah berada disekitaran Masjidil Haram di Mekah, ataupun di Masjid Nabawi Madinah, “hantu” yang diceritakan oleh ustadz berikut ini seringkali muncul.

Ternyata di sekitar ritus suci umat Islam tersebut, ada orang jahat yang kemudian dijuluki dengan nama “hantu”. Hanti itu memperlihatkan diri bukan untuk membunuh atau melukai, tapi untuk menipu. Modusnya hantu-hantu itu berpura-pura membutuhkan dana sosial karena suatu musibah.

Soal “hantu-hantu” tersebut diungkapkan oleh Ustadz Muflih Safitra, pendakwah kondang di Kalimantan Timur. Ustadz Muflih mengaku sempat bertemu dengan penipu yang disebutnya sebagai hantu itu.

Kisah pertemuannya dengan hantu di Masjidil Haram diungkapkan Ustadz Muflih di akun Facebook pribadinya. Ustadz menuliskan kisahnya dengan judul; Kenalkan, ‘Hantu’ Masjidil Haram dan Nabawi.

Ustadz Muflih menceritakan, peristiwa itu dialami saat umrah pada awal bulan Maret 2018.

“Jama’ah haji dan umroh yang Allah rahmati,

Mungkin Anda pernah atau akan mengalami kejadian berikut ini di Al-Haram atau Nabawi. Penulis sendiri sudah sering mengalaminya.

Ada seseorang jalan atau duduk dekat Anda sambil mengatakan, “?????????” (Indonesian? – Apakah kamu orang Indonesia?). “??? ???????” (I am Palestinian – Saya orang Palestina). “??? ???? ??????? ???? ?????” (I am student and i am poor – Saya mahasiswa di sini dan saya miskin). Itu dilakukan sambil menjulurkan tangannya meminta uang.

Ada pula yang mengaku dari Palestina dan dia membutuhkan dana sosial untuk orang-orang di negaranya.

Model lain, orang berwajah India Pakistan, Bangladesh, mendekati Anda sambil mengajak bicara dalam bahasa Inggris, “Hi brother, Indonesian?” (Hai saudaraku, apakah kamu orang Indonesia?). “I am from India” (Saya dari India). “Actually i was coming for umroh and I had lost my bag, my passport and my family. Now i am poor and living in Mecca” (Saya kemari untuk umroh. Saya kehilangan koper, paspor bahkan keluarga saya. Saya miskin dan luntang-lantung di Makkah). Sambil menjulurkan tangannya dia berkata, “Please give me some money” (Tolong berikan aku uang).

Ketika Anda memberikan uang biru WR Supratman, dia akan minta lembaran merah Soekarno Hatta. Ketika Anda ternyata ‘baik hati’ (baca: terlalu lugu) dan memberikan Soekarno Hatta mereka akan minta beberapa lembar.

Jamaah haji dan umroh yang dirahmati Allah,

Orang seperti ini tidak sedikit menghantui Masjidil Haram maupun di Nabawi. Penulis kerap bertemu mereka hampir di setiap kali kesempatan umroh. Kalau tidak salah penulis pernah memberikan uang, namun tidak pernah lagi setelah tahu yang mengaku seperti itu ada banyak. Nampak jelas itu hanya modus penipuan bukan miskin betulan.

Semua orang yang pernah kuliah di Arab Saudi tahu, bahwa di Arab Saudi setiap mahasiswa (apalagi yang non Saudi) tidak membayar uang kuliah. Bahkan mereka diberi mukafaah (beasiswa) bulanan 900-3000 Riyal (silakan kalkulasi dengan kurs 3,750). Bagaimana mungkin ada orang mengaku mahasiswa miskin padahal tiap bulannya menerima mukafaah cukup besar? Mahasiswa S1 saja bisa beli gadget macam-macam atau jalan-jalan keliling Saudi bahkan sampai Mesir ketika menerima mukafaah.

Kalau mereka kehilangan tas, paspor dan keluarga sehingga tidak bisa kembali ke negaranya lalu luntang-lantung di Saudi, kenapa mereka tidak datang ke kantor kedutaan negara mereka di Saudi atau melapor ke polisi dan justru berkeliaran di sekitaran masjid menjadi peminta-minta? Toh mereka bisa berbahasa Inggris dan Arab!

Penulis rasa setiap kedutaan negara akan mencari jamaah mereka yang hilang jika memang ada. Bukankah kita masuk ke negara Saudi melalui proses imigrasi, foto, scan sidik jari, komputerisasi data, dll yang bisa mengetahui siapa masuk Saudi dan belum keluar.

Umroh Februari kemarin, penulis bertemu dengan salah satu mereka. Saat menoleh, dia langsung kabur karena itu bukan kali pertama dia meminta kepada penulis. Artinya dia masih ingat wajah”

Di akhir ceritanya, Ustadz Muflih menuliskan pesan-pesan agar tidak ada lagi jemaah asal Indonesia yang menjadi korban para hantu itu.

“Sekali lagi, jumlah mereka tidak sedikit,” tulisnya.

Loading...