Khutbah Gerhana Bulan
Khutbah Gerhana Bulan

Khutbah Gerhana Bulan: Meresapi Hakikat Fenomena Alam

Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat. Hal ini berdasarkan hadits:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami para sahabat –radhiyallahu ‘anhum– dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.

Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda,

” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda,

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِىَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِىَ أَمَتُهُ ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina.

Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Point Penting Tentang Khutbah Gerhana

Pertama: Keumuman khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ringkas, padat dan jelas.

Dulu sahabat ‘Ammar pernah berkhutbah begitu ringkasnya, lantas beliau menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khotbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim no. 869 dan Ahmad 4: 263. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih).

Kedua: Dilakukan dua kali khutbah.

Demikian pendapat dalam madzhab Syafi’i. Disebutkan dalam kitab Al-Umm sebagai berikut.

وقد ذهب بعض العلماء إلى أن المستحب أن يخطب خطبتين يجلس بينهما جلسة يسيرة ، كما يفعل في خطبة الجمعة ، وهذا مذهب الإمام الشافعي رحمه الله

“Para ulama berpandangan bahwa khutbah (shalat gerhana) adalah dua kali khutbah. Ada duduk yang sebentar di antara dua khutbah tadi sebagaimana dilakukan dalam khutbah Jum’at. Inilah pendapat madzhab Imam Asy-Syafi’i.” (Lihat Al-Umm, 1: 280). Lihat bahasannya di sini.

# Contoh Isi Khutbah Gerhana

Khutbah Gerhana Bulan: Meresapi Hakikat Fenomena Alam

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَاخْتِلَافَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Jamaah shalat gerhana bulan as‘adakumullah,

Setiap orang di antara kita barangkali sudah mengimani bahwa seluruh keberadaan alam semesta ini diciptakan oleh Allah subhânahu wata‘âlâ. Gunung, laut, rerumputan, binatang, udara, benda-benda langit, jin, manusia, hingga seluruh detail organ dan sel-sel di dalamnya tidak luput dari penguasaan dan pengaturan Allah. Tak satu pun makluk lepas dari sunnatullah. Inilah makna Allah sebagai Rabbul ‘âlamîn, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al-Khâliqu kulla syaî’, pencipta segala sesuatu. Apa saja dan siapa saja. Namun, apakah nilai lebih selanjutnya setelah kita mempercayai itu semua?

Allah menciptakan segala sesuatu tak lain sebagai ayat atau tanda akan beradaan-Nya. Dalam khazanah Islam lazim kita dengar istilah ayat qauliyyah dan ayat kauniyyah. Yang pertama merujuk pada ayat-ayat berupa firman Allah (Al-Qur’an), sedangkan yang kedua mengacu pada ayat berupa ciptaan secara umum, mulai dari semesta benda-benda langit sampai diri manusia sendiri.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ

“Kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (ayat) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri….” (QS Fushshilat [41]:53 )

Tanda (ayat) tetap akan selalu berposisi sebagaimana tanda. Ia medium atau perantara untuk mencapai sesuatu. Kita bisa tahu udara sedang bertiup ke arah utara ketika kita menyaksikan daun pepohonan sedang bergerak ke arah utara. Kita bisa tahu dari kejauhan sedang terjadi kebakaran saat menyaksikan kepulan asap membumbung ke udara. Dalam konteks ini, fenomena daun bergerak dan membumbungnya asap hanyalah perantara bagi yang melihatnya tentang apa yang berada di baliknya, yakni udara dan api.

Dalam skala yang lebih besar dan lebih hakiki, fenomena pergerakan benda-benda langit yang demikian tertib, agung, dan menakjubkan adalah tanda akan hadirnya Dzat dengan kekuasaan yang tak mungkin tertandingi oleh apa pun dan siapa pun. Dialah Allah subhânahu wata‘âlâ.

Dengan demikian, fenomena gerhana bulan yang kita saksikan saat ini pun seyogianya kita posisikan tak lebih dari ayat. Kita patut bersyukur mendapat kesempatan melewati momen-momen indah tersebut. Selain menikmati keindahan dan mengagumi gerhana bulan, cara bersyukur paling sejati adalah meresapi kehadiran Allah di balik peristiwa alam ini.

Jamaah shalat gerhana bulan as‘adakumullah,

Jika kita sering mendengar anjuran untuk mengucapkan tasbih “subhânallâh” (Mahasuci Allah) kala berdecak kagum, maka sesungguhnya itu manifestasi dari ajaran bahwa segala sesuatu—bahkan yang menakjubkan sekalipun—harus dikembalikan pada keagungan dan kekuasaan Allah. Kita dianjurkan untuk seketika mengingat Allah dan menyucikannya dari godaan keindahan lain selain Dia. Bahkan, Allah sendiri mengungkapkan bahwa tiap sesuatu di langit dan di bumi telah bertasbih tanpa henti sebagai bentuk ketundukan kepada-Nya.

Dalam Surat al-Hadid ayat 1 disebutkan:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Artinya: “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sementara dalam Surat al-Isra ayat 44 dinyatakan:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Jamaah shalat gerhana bulan as‘adakumullah,

Apa konsekuensi lanjutan saat kita mengimani, menyucikan, serta mengagungkan Allah? Tidak lain adalah berintrospeksi betapa lemah dan rendah diri ini di hadapan Allah. Artinya, meningkatnya pengagungan kepada Allah berbanding lurus dengan menurunnya sikap takabur, angkuh atas kelebihan-kelebihan diri, termasuk bila itu prestasi ibadah. Yang diingat adalah ketakberdayaan diri, sehingga memunculkan sikap merasa bersalah dan bergairah untuk memperbanyak istighfar.

Dalam momen gerhana bulan ini pula kita dianjurkan untuk menyujudkan seluruh kebanggaan dan keagungan di luar Allah, sebab pada hakikatnya semuanya hanyalah tanda.

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,” (QS Fushilat [41]: 37).

Dalam tataran praktis, ada yang memaknai perintah sujud pada ayat tersebut sebagai perintah untuk melaksanakan shalat gerhana sebagaimana yang kita lakukan pada malam hari ini. Momen gerhana bulan juga menjadi wahana tepat untuk memperbanyak permohonan ampun, tobat, kembali kepada Allah sebagai muasal dan muara segala keberadaan.

Semoga fenomena gerhana bulan kali ini meningkatkan kedekatan kita kepada Allah subhânahu wata‘âlâ, membesarkan hati kita untuk ikhlas menolong sesama, serta menjaga kita untuk selalu ramah terhadap alam sekitar kita. Wallahu a’lam.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Loading...

Contoh Khutbah Gerhana Bulan 2

Ma’asyiral mslimin wal musllimat, Jamaah shalat gerhana yang dirahmati Allah SWT.

Pada malam hari yang penuh berkah ini, marilah kita panjatkan segala puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta. Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan matahari, bulan, bumi, dan bintang-bintang di seluruh alam semesta, termasuk kita manusia yang juga merupakan ciptaan-Nya.

Tuhan Yang Menciptakan alam jagat raya dengan kesempurnaan dan keseimbangan. Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa yang merupakan satu-satunya Sesembahan umat manusia.

Shalawat dan Salam teriring terpanjatkan untuk manusia pilihan, Nabi Akhir zaman, penghulu para Nabi dan Rasul, Baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Semoga kita termasuk sebagai umatnya yang mendapatkan syafaat nya kelak di hari kiamat. Aamiin Allahumma aamiin.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,

Kita bersyukur pada Allah swt pada hari ini atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga yang kita terima sebagai anugerah Ilahi bagi kita, dengan cara menjaga, memelihara, dan meningkatkan iman kita kepada-Nya, dengan senantiasa beribadah kepada Allah SWT dalam menjalani kehidupan ini sebagaimana firman Allah Taala:

Katakanlah: sesungguhnya shalatkuku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-An’am:162)

Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, di tempat yang berkah ini, kita umat Islam berkumpul untuk beribadah kepada Allah SWT pada saat yang bersamaan dengan peristiwa Gerhana Bulan yang terjadi pada malam ini Rabu 31 januari 2018 yang dimulai sejak pukul 19.48 WIB. Kita jalankan ini semua dalam rangka menghidupkan satu di antara sunnah Rasul kita Baginda Nabi Besar Muhammad SAW untuk kemudian mendapatkan keridhaan dan ganjaran pahala yang sebesarnya dari Allah SWT. Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahih nya,

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah” [HR Bukhari No.1044]

Matahari dan bulan adalah bagian dari makhluk yang diciptakan-Nya. Keduanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang harus didudukkan posisinya dengan benar yakni sebagai makhluk bukan sebagai Khaliq Yang Disembah.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Dia-lah yang kamu hendak sembah” (Fushilat:37)

Begitu besar dan bayaknya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang terhampar di alam semesta ini. Kaum Muslimin harus menjadi umat yang tanggap akan hal ini. Mereka tidak boleh abai apalagi lalai terhadap seluruh fenomena di alam raya ini. Mereka harus menjadi umat yang mampu mengambil ibrah dari keberadaan berbagai benda langit yang ada di dalamnya dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya.

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” (Yusuf:105)

Alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat Allah swt yang memang diciptakan-Nya untuk mendapat perhatian umat manusia dan agar mereka melihat korelasinya dengan Al-Quran yang merupakan kalam-Nya. Hal ini telah dipertegas dalam firman Nya yang haq:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fushilat:53)

Jamaah shalat gerhana yang dirahmati dan dimuliakan Allah,

Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai ibrah atau pelajaran berharga dari peristiwa alam berupa gerhana bulan ini, di antaranya adalah

Pertama, semua benda-benda langit di alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Mereka semua merupakan makhluk. Sebagai makhluk-Nya, mereka semua tunduk dengan perintah Allah untuk beribadah kepadanya. Mereka semua taat pada Allah Taala dengan menjalankan perintahnya untuk beredar pada garis orbitnya masing-masing. Tidak ada satupun benda-benda langit yang menentang perintah Allah semisal bergerak meninggalkan orbitnya untuk memasuki orbit lainnya. Ketundukan dan ketaatan seluruh benda-benda langit kepada Allah bersifat mutlak tanpa ada satupun di antara mereka yang pernah membangkang.

Sejak awal diciptakan, langit dan bumi tidak pernah melakukan pembangkangan kepada Allah SWT. Mereka diciptakan lalu diperintahkan untuk datang menghadap Allah dengan pilihan suka hati atau terpaksa. Mereka serempak menjawab memilih taat dengan suka hati

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” (Fushilat:11)

Bagi manusia yang tidak mengenal dan tidak beriman kepada Allah, mereka menyimpulkan itu sebagai hukum alam yang terjadi begitu saja. Berbeda tentunya dengan orang-orang yang beriman yang menyimpulkan bahwa seluruhnya terjadi atas ketentuan taqdir dan hukum Allah SWT. Di dalam surat Yasin, Allah berfirman

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (Yasin:40)

Kedua, Manusia sebagai makhluk sudah seharusnya membersamai sikap langit dan bumi dalam hal ketaatannya kepada Allah Taala. Lebih dari itu, manusia lah yang sejak awal diposisikan penciptaannya sebagai wakil Allah atau khalifatullah fil ardh. Simaklah iradah Allah tentang hal ini yang termaktub dalam surat Al-Baqarah,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqoroh:30)

Tugas amanah mengelola alam semesta ini diberikan kepada manusia karena memang perannya adalah sebagai khalifah yakni pemimpin. Karenanya, manusia diberi perangkat yang cukup untuk itu, baik ruh, akal, dan jasad yang sempurna.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Ath-Thin:4)

Seluruh tugas yang diberikan Allah SWT pada manusia pada dasarnya merupakan perintah untuk melakukan penghambaan kepada-Nya. Tidaklah Jin dan Manusia diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah, begitu firman Allah SWT yang ada di surat Adz-Dzariyat ayat ke-56. Penghambaan ataupun Ibadah adalah tugas suci mulia yang membawa manusia pada keselamatan dunia dan akhirat.

Kesiapan manusia bukan hanya merupakan ketentuan Allah Taala dalam penciptaan manusia sejak awal, tapi hal ini juga merupakan amanah yang sudah siap diterima oleh manusia ketika langit dan bumi tidak sanggup untuk mengangkat beban tersebut.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. (Al-Ahzab:72)

Tidak ada alasan lagi bagi manusia untuk meninggalkan dan mengabaikan amanat ini. Manusia diciptakan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif jauh melebihi langit dan bumi. Manusia pun sudah siap untuk itu semua. Amanah sudah diterima. Saatnya untuk ditunaikan.

Namun sayangnya, fakta-fakta di depan mata kita menggambarkan situasi yang berbeda. Berapa banyak dari umat manusia yang kemudian mengabaikan tugas mulia sebagai khalifah di muka bumi. Berapa banyak dari mereka yang tidak beriman kepada Allah SWT. Sekian banyak dari mereka yang dengan mudahnya meninggalkan perintah dan melanggar larangan-larangannya.

Bukannya taat, malah maksiat. Bukannya beribadah kepada Allah, malah menyembah thagut dan berhala-berhala lainnya. Inilah potret kejahatan besar manusia terhadap Allah SWT. Padahal, barangsiapa berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali pada nya. Begitu pula bila melakukan keburukan, maka hal yang serupa akan terjadi pada mereka. Karena itu, umat Islam pada malam ini harus dapat mengambil ibrah dari peristiwa gerhana bulan ini dengan membacanya dalam perspektif tersebut.

Manusia adalah sentral utama di alam semesta. Semua alam ditundukan Allah untuk menjadi pelayan bagi manusia, untuk tunduk kepada manusia. Kebaikan dan kerusakan alam semesta yang sudah diciptakan dengan sempurna oleh Allah Ta’ala ini diserahkan kepada manusia. Bila manusia merusaknya, maka ia akan rusak. Bila manusia menjaga dan memeliharanya, maka keseimbangan dan keindahan alam akan menjadi pemandangan yang begitu mengagumkan. Tapi itulah manusia, mereka seperti Allah katakan sebagai makhluk yang zhalim lagi bodoh, zhaluuman jahuula

Lihatlah kerusakan di berbagai tempat baik daratan maupun lautan, sungai dan tempat lainnya oleh ulah tangan jahil manusia. Empat belas abad yang lalu, manusia sudah diingatkan oleh Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Alquran,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Ruum:41)

Ketiga, peristiwa-peristiwa alam ini pada dasarnya merupakan sebuah fenomena yang kemudian harus ditelaah oleh manusia dengan pendekatan ilmiah berbasis ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, mereka kemudian akan sampai pada satu kesimpulan bahwa ini semua adalah bagian dari ke-Maha-Besaran Allah SWT dan ke-Maha-Agungan Allahu Rabbul alamin. Islam adalah agama ilmu karena Islam bersumber dari Dzat Yang Maha Berilmu Allah Azza Wa Jalla.

Dalam sejarah peradaban Islam, Kaum muslimin telah menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam hal pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Para ulama dan cendekiawan muslim hadir di berbagai zaman dan tempat sebagai para ahli di berbagai bidang disiplin ilmu. Kita mengenal Ulama-ulama kaliber sekelas Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hanifah yang merupakan para ahli fiqih sekaligus mujtahid. Pada zaman lainnya di tempat yang berbeda kita mengenal Ibnu Rusy, Ibnu Sina, Al-Jabbar, Al-Khawarizmi dan lain-lain sebagai para saintis atau ilmuwan baik di bidang sosial maupun exact.

Sejarah peradaban umat Islam sepanjang masa telah menggambarkan bagaimana mereka generasi terdahulu dari umat ini adalah kelompok umat yang memberikan perhatian besar dalam ilmu pengetahuan termasuk kajian ilmu tentang alam semesta ini. Keilmuan yang mereka miliki dan kembangkan membuat generasi terdahulu semakin menguat keimanannya kepada Allah swt. Hal ini lah yang seharusnya berulang pada generasi umat di era millennium ketiga atau di abad ke15Hijriah atau abad ke-21.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali Imran:190-191)

Memang untuk urusan ini, kaum muslimin memiliki PR yang cukup besar. Praktis, dari kondisi faktual yang ada ilmu pengetahuan khususnya kajian ilmu-ilmu exact relatif berkembang dengan begitu pesat di negeri-negeri di mana umat Islam bukan penghuni mayoritasnya. Negara-negara di Barat, Amerika Serikat, Russia, Jepang, Korea, dan China telah jauh meninggalkan negeri-negeri Islam seperti Indonesia, Mesir, Saudi Arabia, Pakistan dan lainnya dalam hal pengembangan sains.

Negeri-negeri kaum muslimin membutuhkan kepemimpinan baru dari umat yang memiliki visi yang comprehensif atau terpadu antara visi akherat dengan dunia, visi agama dengan ilmu pengetahuan, visi syariah dan peradaban. Dengan cara demikian, maka prestasi umat Islam di masa lalu secara perlahan akan kembali ke tangan mereka. Umat akan memiliki izzah dan wibawanya kembali dalam berbagai percaturan dunia, baik pada bidang politik, ekonomi, sosial dan iptek. Peristiwa gerhana bulan ini seharusnya menyentak kesadaran umat Islam akan perlunya kehadiran pemimpin yang kuat yang memiliki visi terpadu tersebut untuk mengembangkan negeri-negeri Islam.

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

Akhirnya, pada penghujung khutbah ini, marilah kita tundukan sejenak hati dan perasaan kita seraya berdoa kepada Allah SWT pada malam gerhana bulan ini. Pada malam dimana kita menghidupkan satu di antara sunnah Rasulullah SAW. Mudah-mudahan, Allah SWT berkenan mendengar dan mengabulkan doa dan munajat kita. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin.

Do’a khutbah:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

“Ya Allah, ampunilah kaum mukminin laki-laki dan wanita, kaum muslimin laki-laki dan wanita, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Mahadekat, Dzat yang mengabulkan doa.”

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu sebelum kami, dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

“Ya Allah, berilah kami keamanan di negeri kami, jadikanlah pemimpin kami dan penguasa kami orang yang baik. Jadikanlah loyalitas kami untuk orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti ridha-Mu, yaa Rabbal ‘alamin. Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk menempuh jalan petunjuk-Mu, jadikanlah sikap dan perbuatan mereka sesuai ridha-Mu, dan berikanlah teman dekat yang baik untuk mereka, yaa Rabbal ‘alamin.”

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

“Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, serta berilah rahmat kepada keduanya, sebagaimana mereka mendidik kami di waktu kecil.”

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan segala tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum yang kafir.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”

وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Loading...