“Poligami: antara Sunnah, Menolong Anak Yatim dan Memanjakan Birahi,” Bagikan Ke Suamimu Kalau Berani!

Diposting pada
Loading...

Suatu ketika Rasulullah SAW melihat anak kecil yang sedang menangis sesegukan di depan masjid. Waktu itu sedang hari Raya Idul Fitri. Di saat semua anak-anak riang gembira menyambut idul fitri. Mereka memiliki baju baru, sandal baru, semua serba baru. Itu semua karena orangtua mereka memperhatikan putra-putrinya.

Tapi, anak kecil yang satu ini justru menyendiri dan menangis pilu karena tidak memiliki ayah. Karena merasa aneh, dan kasihan, maka Rasulullah SAW mendekatinya, lalu berkatalah Rasulullah SAW kepadanya “apa yang menyebabkan dirimu menangis nak?

Anak kecil itu menjawab “ini gara-gara Nabi Muhammad”. Si anak rupanya tidak mengerti, jika yang bertanya itu adalah Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi SAW bertanya “memangnya kenapa Muhammad SAW”? lalu sang anak bercerita “ayahku wafat, karena dia berperang. Itu atas perintahnya’. Sekarang, saya tidak punya ayah lagi. Kemudian ibu kandungku menikah lagi dengan laki-laki lain. Hartaku dibawanya pergi. Aku ditinggal sendirian.

Mendengar keluhan itu, Rasulullah SAW mengajaknya kerumah. Kemudian Rasulullah SAW memberinya makan dan minum, baju baru, semua serba baru. Nabi SAW berusaha menyenangkan hatinya. Lalu Rasulullah SAW berbisik lembut kepada anak kecil itu “maukah engkau, jika aku (Muhammad) menjadi pengganti Ayahmu, kemudian Aisyah menjadi ibumu, Hasan dan Husain menjadi Saudaramu, dan Fatimah menjadi bibimu, Ali Ibn Abi Thalin menjadi pamanmu?

Betapa bahagianya anak kecil itu. Sambil senyum lebar bahagia, anak kecil itu mengangguk.

Kemudian anak kecil itu keluar rumah dengan baju baru dan senyuman yang renyah. Dia bermain dengan teman-temannya. Kemudian teman-temannya bertanya kepadanya “Hai, kenapa engkau sekarang bahagia, senyum-senyum dan bajumu baru”.

Dengan percaya diri, serta wajah ceria anak kecil itu berkata “sekarang, saya memiliki ayah angkat, yaitu Nabi Muhammad, ibuku Aisyah. Sedangkan saudaraku dan teman bermainku yaitu Hasan dan Husain, bibiku Fatimah, Pamanku Ali Ibn Abi Thalib.

Mendengar cerita itu, anak-anak berkata “kenapa yang meninggal dalam berperang itu bukan ayahku”. Anak-anak itu ingin sekali nasibnya seperti anak Yatim yang di mulyakan Rasulullah SAW.

Cerita itu di dendangkan oleh seorang biduan ayu berdarah Arab dengan suara sangat merdu dan mendayu-dayu. Membuat setiap orang yang ngerti bahasa Arab meneteskan air mata. Karena membayangkan keteladanan Rasulullah SAW di dalam memulyakan anak Yatim. Juga, membayangkan betapa bahagianya anak Yatim yang mendapat perlaluan istimewa dari Nabi Muhammad SAW. Tidak satupun manusia di muka bumi ini, baik tua maupun muda, laki-laki dan wanita, merasa terhormat jika menyebut Nabi Muhammad SAW, apalagi sampai mendapat pengakuan sebagai umatnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda “saya dan penyantun anak Yatim di surga (HR.Bukhori)”. Sambil mengisaratkan dua jarinya.

Rupanya, Rasulullah SAW secara khusus menjanjikan penyantun anak yatim dengan surga. Pada waktu yang sama, Rasulullah SAW menemaninya. Padahal, hadis-hadis yang menerangkan orang yang haji mabrur, sholatnya khusuk dijamin masuk surga, tetapi tidak ada embel-embelnya “bersamaku”. Luar biasa bagi orang yang suka menyantuni anak Yatim.

Nah, coba perhatikan dan renungkan. Rasulullah SAW itu menikah dengan seorang wanita yang bernama Saudah binti Zamah.

Rupanya, Rasulullah SAW sangat mengerti bahwa Saudah itu wanita Tua yang memiliki anak-anak yang masih kecil dan memerlukan pelukan ayah dan juga nafkah. Sementara, suaminya itu wafat ketika hijrah ke Habasyah. Lebih mengkhawatirkan lagi, Ayahnya masih belum memeluk islam alias masih “Jahiliyyah”. Sehingga Rasulullah SAW mengkhawatirkan nasib agamanya.

Saudah itu wanita umel (gemuk banget), juga sudah lansia (55 tahun). Sudah tidak lagi subur alias sudah (menopouse). Di samping tidak cantik, Saudah itu kulitnya tidak sebening wanita-wanita Arab pada umumnya. Sedangkan usianya Rasulullah SAW masih 51 tahun, yang masih ganteng, gagah, dan manusia paling sempurna dan mulia.

Apa yang dicari dari diri Saudah binti Zamah? Kenapa Rasulullah SAW tidak memilih wanita-wanta cantik jelita, padahal Rasulullah SAW bisa dan mampu. Wanita mana yang tidak mau menjadi istri Rasulullah SAW. Disinilah letak perbedaan mendasar antara poligami Rasulullah SAW dengan poligami ustad masa kini. Tujuan poligami Nabi SAW menoloang anak Yatim, juga menjaga keimanan istrinya yang masih dalam kurungan keluarga Jahiliyyah. perlu diketahui, bahwa apa yang dilakukan merupakan wahyu dari Allah SWT, bukan kehendak pribadi.

Jangan pernah mengatakan dan mengaku ” saya poligami itu murni sunnah Rasulullah SAW”, kemudian ternyata realitasnya justru menodai sunnah Rasulullah SAW.

Tidak sedikit, laki-laki yang bangga dengan poligami, ternyata ingin memanjakan birahinya, atau biar di katakan gagah dan perkasa.

Sementara Rasulullah SAW melakukan poligami karena atas perintah-Nya. Dibalik itu ada tujuan yang sangat mulia, menolong wanta dan juga menolong anak Yatim, pendidikan, politik. Sedangkan tujuan poligami sekarang murni karena birahi yang tinggi, dan juga karena popularitas pribadi. Namun demikian, poligami itu sah dan boleh, selama tidak menyakiti pasangan, tidak menelantarkan istri pertama dan putra-putrinya. Serta bisa berbuat adil kepada pasangannya. Karena inti dari poligami itu adalah “adil”.

Poligami itu boleh, bahkan akan menjadi keharusan jika istrinya tidak bisa memberikan keturunan (mandul), sementara suaminya sosok yang alim, cerdas, yang kelak keturunannya itu bisa bermanfaat bagi masyarakat dan umat. Sebagaimana poligami para wali, yang putra-putrinya menyebar ke seluruh pelosok negeri dan menjadi dai (dakwah).

Poligami itu boleh, tetapi bukan untuk dipamer-pamerkan, biar kelihatan keren, dan semua orang biar tahu. Karena bagi yang sudah mampu berpoligami, sama dengan menunaikan ibadah sunnah, seperti halnya sholat tahajjud, witir, puasa sunnah, dan juga sedekah. Tidak perlu dipamer-pamerkan (riya’) kepada banyak orang. Bukankah riya’ itu salah satu penyakit hati yang mengerikan. Banyak sekali kaum laki-laki yang tidak bisa dan tidak mampu menikah, karena hambatan, ekonomi, kesehatan, dan juga hambatan lainnya.

Loading...