Hubungan Antara Haji Mencong, Betawi Dan Tanah

Diposting pada

Jangan salah paham dulu saat mendengar nama Haji Mencong!

Sebab, ini tidak bermaksud sama sekali untuk mengolok-olok atau menyematkan sebutan negatif kepadanya.

Haji Mencong yang dimaksud adalah sebutan bagi sebuah ruas jalan di dekat Jalan Ciledug Raya yang berbatasan dengan Joglo, Kreo, dan Ciledug arah pinggir selatan Jakarta.

Nama jalan itu sekarang sudah dirubah menjadi Jalan H.O.S Cokroaminoto.

Hubungan Antara Haji Mencong, Betawi Dan Tanah

Namun, meski sudah diganti dengan nama dari sosok bapak bangsa yang menjadi guru ideologi tokoh bangsa seperti Sukarno, Semaun, Alimin, dan Kartosuwiryo itu, namun masyarakat tetap akrab menyebut jalan tersebut dengan nama Jalan Haji Mencong.

Menurut salah satu penghuni yang sudah lama tinggal di kawasan tersebut, Jalan Haji Mencong itu merupakan kawasan orang ‘Betawi Ora’ (Betawi Pinggir), sebutan Haji Mencong memang lebih mudah untuk diucapkan,

“Kagak enaklah. Pakai HOS… HOS… Segala. Susah banget yak. Mantepan Haji Mencong,” kata Bang Roy, salah satu warga kampung Paninggilan yang sehari-harinya menjadi tukang ojek yang mangkal di jalan tersebut.

Dari cerita Bang Roy, Haji Mencong adalah salah satu warga Betawi yang mempunyai tanah yang luas. Karena saking luas lahannya, ketika lahannya berkembang menjadi permukiman, maka untuk mengenangnya ruas jalan yang melewati bidang tanah itu disepakat diberi ‘sebutan’  sesuai namanya.

Keturunannya yang ketiga kini masih tinggal di sana. Berbeda dengan sang engkong, lahan mereka sudah sangat menyempit akibat dijual untuk berbagai keperluan, salah satunya naik haji.

Bagi orang Betawi, tanah dan haji selalu punya hubungan yang erat. Semua sudah paham, suku yang merupakan ‘warga asli’ ibu kota ini bisa dibilang penganut Islam yang taat. Sikap istiqomah ini dulu pernah dipuji oleh Buya Hamka, dengan menyebutnya sebagai kaum yang sangat teguh memegang igame (agama).

Menurut Hamka, meski hidup serba susah, miskin, dan tinggal di rumah sederhana, namun bisa dipastikan mereka semuanya beragama Islam. Kendati ada yang klaim bahwa ada juga Betawi asli yang non-Muslim, maka itu adalah pernyataan dari orang yang melihat kaum pendatang yang datang ke Betawi pada kurun belakangan, yakni di awal abad ke-20. Data statistik menyatakan, meski ratusan tahun hidup di bawah ‘sepatu kolonial’, ternyata hanya beberapa gelintir orang Betawi yang mengganti agamanya.

Kekentalan ‘warna budaya’ Betawi dengan ajaran Islam juga dibenarkan ‘Dai Sejuta Umat’, KH Zainuddin MZ.

“Mungkin mereka tak taat betul, misalnya shalatnya bolong-bolong, namun jika agamanya dilecehkan, maka orang Betawi akan langsung bangkit tak terima. Nyawa bisa dijadikan taruhannya,” begitu kata KH Zainuddin MZ yang juga anak asli Betawi asal Kampung Gandaria itu.

Lalu bagaimana soal hubungan orang Betawi, haji, dan tanahnya?

Segitiga diatas memang unik. Almarhum Gus Dur dulu pernah berseloroh bila kenaikan jumlah calon jamaah haji asal Betawi itu berbanding lurus dengan banyaknya penggusuran.

Ini masuk akal, sebab semenjak Kota Jakarta mulai menggeliat dari ‘Kampung Besar’ menjadi kota metropolitan pada akhir tahun 50-an, pada saat itu mulai banyak penggusuran.

Proyek penggusuran pascakemerdekaan di Jakarta dimulai ketika terjadi pembangunan kawasan Jl Jendral Sudirman, MH Thamrin, MT Haryono hingga kawasan Senayan. Di sana ada pembangunan pusat perbelanjaan Sarinah, Jembatan Semanggi, hingga kompleks olahraga, gedung parlemen, studio TVRI, Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), hingga pembuatan Jl Gatot Subroto.

Dulu di Senayan misalnya terkenal sebagai kampung yang ditinggali para pembatik. Mereka kemudian dipindahkan ke Tebet. Dan tentu saja –berbeda dengan penggusuran yang kini kerap terjadi — mereka mendapat ganti rugi yang lumayan, misalnya mendapat rumah dan lahan pekarangan yang lebih luas di tempat yang tak jauh dari kampung mereka.

Pemimpin Jakarta mulai melakukan penggusuran karena pada saat itu mereka melaksanakan dengan sungguh-sungguh amanat Presiden Sukarno, yang kemudian diulang kembali oleh Presiden pertama RI ini  pada pidato ulang tahun Jakarta ke 435 tahun 1935:

“Kita bangun Djakarta dengan cara semegah-megahnya, megah bukan saja karena gedung-gedungnya pencakar langit, megah di dalam segala arti, sampai di dalam rumah-rumah kecil dari pada marhaen di Djakarta harus ada rasa kemegahan!”

Nah, Akibat menggeliatnya pembangunan Jakarta sebagai ibukota Indonesia, Tak ayal perubahan sosial di kalangan warga Betawi semakin menggeliat pula.

Tiba-tiba saja banyak orang Betawi memindahkan tempat tinggalnya akibat dampak proyek pembangunan. Dan, bila ada sisa sedikit uang dari hasil ganti rugi tanah, maka salah satu cara mentasarufkannya adalah dengan memakainya untuk berangkat haji.

Akibatnya, orang Betawi yang memang dari dulu sudah gemar mengenakan peci putih, semenjak peristiwa itu, jadi semakin banyak orang yang memakai peci tersebut. Tapi kini peci putih itu merupakan ‘simbol’ bahwa mereka sudah menunaikan rukun Islam kelima, yakni berhaji.

Kondisi seperti itu terus meningkat seiring munculnya kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin dan hadirnya masa Orde Baru yang membuat program ‘pemodernan’ Jakarta.

Pabrik dan kompleks industri bermunculan. Tanah di Jakarta diperjualbelikan secara bebas. Uang hasil jual beli atau akibat ‘gusuran tanah’ berhamburan di kalangan orang Betawi yang saat itu masih punya lahan yang luas.

Bukan hanya itu, naik haji pun semakin dipermudah, seiring mulai dipakainya pesawat terbang untuk mengangkut jamaah haji. Berbarengan dengan ini, harga tanah tiba-tiba melonjak drastis. Kaum Betawi benar-benar menikmati harga tanah yang ‘booming’.

Maka dapat ditengarai, ketika sekarang muncul berbagai nama jalan dan lorong gang di Jakarta yang menggunakan sebuah nama bergelar haji, maka mereka itulah yang dahulu memanfaatkan rezeki kenaikan harga tanah di Jakarta dengan pergi ke tanah suci. Haji Mencong misalnya, bisa jadi adalah salah satunya.

Dan di kalangan kampung Betawi lain yang tinggal di kawasan Kuningan pun sudah semenjak dulu muncul sebutan ‘Haji Mansur’. Namun, nama ini kemudian dipakai sebagai sebutan untuk menyebut mereka yang pergi haji karena ‘halaman (rumah) tergusur!).

Dan, jika direnungkan secara mendalam, ketika menjumpai nama jalan di Jakarta dengan nama orang ‘haji biasa’, maka bulu-kuduk bisa langsung merinding.

Di sepanjang ruas jalan itu yang ada kini tinggal anak-cucu dari sang empunya nama dengan kondisi rumah berhimpit-himpitan. Lahan engkongnya yang luas kini tinggal kenangan.

Banyak di antara mereka hanya menjadi penonton modernisasi kota Jakarta. Seperti lahan tanah yang dulu dimilikinya, nasib mereka pun ikut tergusur akibat pembangunan.

Mereka banyak yang hanya menjadi tukang antar-jemput anak sekolah di kompleks perumahan yang dahulu merupakan lahan milik nenek moyangnya. Kini banyak yang menjadi anggota ojek berbasis online.

“Padahal, zaman dulu noh, saat engkong ane mau naek haji, mereka ‘ngukur’ tanah yang akan dijual sampai pegel jalannya. Nah, sekarang, mau naik haji ngukur tanahnya sepele saja. Lagipula tanah yang dijual pun cukup secuil. Hanya dengan lahan 100 meter persegi, ane bisa bayarin naik haji empat orang sekaligus. Namun, celakanya, ketika tiba waktunya zaman tanah harganya selangit seperti saat ini, ane sudah kagak gableg tanah secuil pun. Bahkan, barang tanah sepengki saja nggak ade,” kata Bang Roy mengeluhkan kesialan nasibnya.

Itulah kesialan nasib haji sebagian orang Betawi. Hanya bisa mengelus saja bila kini melihat kenyataan itu! Haji Mencong, Haji Chaplin, Haji Mansur, Haji Kadar, Haji Cokong, Haji Muslim, Haji Beden, Haji Ipin, Haji Soleh, Haji Kamang, Haji Muntasir, Haji Sa’ba, dan berbagai nama sejenis lainnya adalah beberapa contoh di antaranya. Wallahu a’lam.

Artikel ini ditulis oleh Muhamad Subarkah di Ihram.co.id dengan judul “Hajinya Orang Betawi, Penggusuran, atau Entah Apa Namanya?”

Loading...