Dituding Telantarkan Jamaah Haji, Begini Tanggapan Petugas Haji Indonesia



Berita Haji - Sebuah unggahan di Facebook jadi perbincangan petugas haji di Madinah. Disebutkan, ada jamaah haji yang sakit stroke dan telantar. Sejak datang 6 hari lalu, dia baru sekali ke Masjid Nabawi untuk beribadah karena tak ada yang mengantar. Benarkah postingan itu?

Dituding Telantarkan Jamaah Haji, Begini Tanggapan Petugas Haji Indonesia
Petugas mendampingi jemaah haji Indonesia. (Liputan6.com/Taufiqurrohman)


Berdasarkan unggahan, nama jamaah haji tersebut adalah Slamet bin Torye. Dia berasal dari Jember, Jawa Timur dan tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 27. Sebagaimana terlihat dalam foto di atas, pemosting berharap cerita yang diunggahnya diviralkan agar Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi merespons.

Saat dikroscek, memang benar Slamet merupakan jamaah haji asal Jember, dan benar juga bahwa dia sakit stroke. Dia tiba di Madinah pada Sabtu (5/8) dan menempati Hotel Borg Almoktarah yang berada di sektor 5 pemondokan haji Indonesia.

Dituding Telantarkan Jamaah Haji, Begini Tanggapan Petugas Haji Indonesia
Foto: Screenshot FB tentang jemaah sakit stroke dan telantar


Slamet berusia 77 tahun dan berangkat haji bersama istrinya. Keduanya tak bisa berbahasa Indonesia. Saat didatangi sekitar pukul 11.00 Waktu Arab Saudi, Kamis (10/8/2017), pasutri itu berada di dalam kamar. Slamet tertidur di ranjang, istrinya duduk-duduk.

"Dia memang seperti ini. Awalnya memaksa arbain (salat 5 waktu di Masjid Nabawi 40 kali tanpa putus) karena mengira ibadah wajib, tapi setelah dikasih tahu ya dia nggak ke masjid," kata Sri Suprihatin, teman satu kloter Slamet.

Pada saat orang sibuk beribadah, Slamet tak bisa ikut karena fisiknya lemah. Dari situlah muncul kabar Slamet telantar, tak ada yang mengurusi.

Menanggapi kabar burung tersebut, Salah satu petugas Perlindungan Jamaah (Linjam) Sektor 4, Serka Alpan Arbudi, yang mengantar petugas haji mengecek Slamet menjelaskan tidak benar ada jamaah haji yang terlantar.

"Pertama tiba ke hotel, saya dan teman-teman nggendong dia ke kamar. Kemudian saat salat Zuhur kemarin, saya gendong ke masjid," kata anggota Kodam I/Bukit Barisan ini.

Alpan juga menjelaskan bahwa Slamet bukannya tidak ada yang mengantar ke masjid, Namun karena ia sendiri yang tak mau diantarkan ke masjid.

"Dia tidak ke masjid, bukan karena tak ada yang mengantar, tapi karena kemauan dia sendiri," kata Alpan yang cukup intensif menangani jamaah sakit dan fisiknya terbatas ini.

Kabar Slamet telantar mengagetkan sejumlah petugas haji. Mereka dikontak teman-temannya menanyakan bagaimana kejadian sesungguhnya. Ternyata kabar tersebut dilebih-lebihkan. Slamet sudah ditangani sesuai prosedur tetap di Madinah. Tak hanya didampingi pada waktu tertentu, tapi kesehatannya juga dicek setiap hari.

Informasi dari media sosial mengenai adanya jamaah haji dari Jamber, Jawa Timur, tepatnya di Kloter 27 yang ditelantarkan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tidak benar. Petugas haji sejak awal ternyata sudah memperhatikan anggota jamaah calon haji atas nama Slamet bin Toryeh tersebut.

"Kami sejak awal kedatangan beliau ke Madinah sudah memonitornya. Jadi tidak benar kalau PPIH menelantarkannya," kata Anggota Perlindungan Jamaah (Linjam) Sektor 4, Daker Madinah, Serka Alpan Arbudi, saat menemani tim Media Center Haji menemui Slamet bin Toryeh di kamar 802 Hotel Al Mukhtarah Tower, Madinah, Kamis (10/8/2017)

Dituding Telantarkan Jamaah Haji, Begini Tanggapan Petugas Haji Indonesia
Slamet bin Torye bersama istrinya Juwaria Sino


Ia menyampaikan, sangatlah tidak benar jika dibilang PPIH tidak mengurus jamaah haji. Karena setiap hari jamaah  haji yang sakit ini selalu diperhatikan petugas haji. "Saya yang mengantarkan Pak Slamet ke Masjid Nabawi. Tadinya dia ngotot tetap salat lima waktu ke Nabawi untuk mengejar arbain. Tapi setelah dijelaskan, Pak Slamet enggak ngotot lagi," ucap anggota Kodam Bukit Barisan ini.

Anggota jamaah haji berusia 70-an tahun ini menderita penyakit stroke sejak 3,5 tahun lalu, sehingga tidak bisa berdiri tegap lagi. Karena itu, Pak Slamet membutuhkan bantuan kursi roda untuk kegiatan ibadah di luar hotel.

"Setiap hari saya antarkan Beliau ke Masjid Nabawi. Tapi Pak Slamet ini tidak kuat panas dan dingin. Jadi biasanya hanya sekali ke Nabawi," ujar Alpan.

Biasanya para anggota jamaah haji akan berangkat ke Masjid Nabawi di waktu Asar, lalu menunggu hingga salat Magrib dan Isya. "Nah, Pak Slamet ini kalau di dalam masjid tidak kuat AC, sedangkan di luar masjid tidak kuat panas. Saya selalu tanya Beliau mau salat di Masjid Nabawi kapan. Nanti saya antar," ungkap Alpan.

Sementara itu, dokter dari Kloter 27 Embarkasi Surabaya (SUB 27), Gini Wuryandari, juga membantah ada penelantaran anggota jamaah haji atas nama Slamet bin Toryeh. Menurut dia, calon haji ini sejak awal mendapatkan pendampingan petugas haji.

"Dari embarkasi sudah kami fasilitasi dengan kursi roda. Sejak naik bus sampai naik pesawat kami dampingi. Bahkan didudukkan di kelas bisnis bersama istrinya," jelas dia.

Begitu juga di Bandara AMAA Madinah, anggota jamaah haji dibawa dengan kursi roda dan didahulukan Petugas Haji Daker Bandara saat pemeriksaan imigrasi.

"Sampai di kamar kami juga melakukan visitasi sehari sekali. Mungkin jamaah haji yang lain tidak melihat kami mengunjungi Pak Slamet sedang salat di Masjid Nabawi. Saat kami mengunjungi Slamet di kamarnya, dia tengah ditemani istrinya, Juwaria Sino," papar Gini.

Sebelumnya beredar status di media sosial yang menyebut adanya anggota jamaah haji yang terlantar di Madinah. Anggota jamaah yang dimaksud berasal dari Jember, Jawa Timur, tepatnya Kloter 27. Dalam medsos juga dikatakan anggota jamaah haji ini menderita stroke dan sekarang berada di Hotel Al Mukhtarah Tower.

"Selama sampai di Madinah baru sekali pergi ke masjid dan itu pun ditelantarkan di luar mesjid dan di bawah terik matahari. Tolong diviralkan agar Bapak Slamet ini diperhatikan oleh petugas PPIH," sebut pemilik akun Facebook Abu Nancy.


loading...