Anak Pendeta Baptis Ini Akhirnya 'Disadarkan' Allah Usai Wukuf Di Arafah



Anak Pendeta Baptis Ini Akhirnya 'Disadarkan' Allah Usai Wukuf Di Arafah, Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah pernah sebutkan bahwa inti daripada Haji adalah wukuf di Arafah,

عَرَفَةَ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ الْحَجُّ

Artinya: “Haji itu adalah Arafah (wukuf di Arafah) maka barang siapa yang datang sebelum shalat Subuh dari malam jama’ (malam Mudzdalifah yang mengumpulkan semua jamaah haji di sana) maka sempurnalah hajinya...” (HR Imam Ahmad dan Ibnu majah)

Maksud dari penggalan hadits tersebut adalah bahwa wukuf di Padang Arafah sedemikian penting melebihi pentingnya rukun-rukun haji lainnya, seperti thawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram, sa'i dari Shafa ke Marwa, dan kewajiban haji yang lain.

Seseorang tidak bisa disebut telah menunaikan ibadah haji jika tidak melaksanakan wukuf di Arafah. Maka mereka yang sakit pun harus datang ke Arafah untuk wukuf meski harus ditandu.

Selain itu, wukuf di Arafah merupakan pertemuan manusia terbesar di muka bumi yang berlangsung sekali setiap tahun karena pada hari itu semua jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkonsentrasi di Arafah.

Di Padang Arafah inilah mereka bertemu dan berdoa memohon ampunan dan rahmat Allah. Mereka bersimpuh di hadapan Allah dengan harapan-harapan yang sama meskipun mereka berbeda dalam warna kulit, ras, suku, dan bahasa.

Di padang Arafah ini pula mereka berbaur menjadi satu dalam kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Maka sejatinya esensi dari ibadah haji adalah kesamaan derajat diantara manusia yang disimbolkan dalam pakaian ihram yang tak terjahit. Sedangkan warna putih dari baju ihram itu sendiri menggambarkan kesucian mereka di hadapan Allah.

Oleh karena esensi ibadah haji adalah persamaan derajat antar sesama manusia, maka tidak mengherankan pengalaman spiritual ibadah haji bisa mengubah cara pandang seseorang.

Seperti yang dialami oleh Malcolm X yang semula sangat rasis kemudian berubah menjadi anti-rasis setelah disadarkan Allah usai wukuf di Arafah.

Anak Pendeta Baptis Ini Akhirnya 'Disadarkan' Allah Usai Wukuf Di Arafah
Malcolm X


Pengalaman yang berharga tersebut meyakinkan Malcolm X bahwa semua orang adalah sama. Artinya setiap orang adalah setara. Mereka harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain meskipun mungkin mereka berbeda dalam hal-hal duniawi, seperti strata sosial, warna kulit, asal usul keturuan dan sebagainya.

Yang membedakan diantara mereka adalah ketakwaan masing-masing kepada Allah. Orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji diharapkan memiliki kesadaran yang tinggi akan makna kesetaraan ini. Tidak semestinya mereka melupakan makna baju ihram yang pernah dipakainya.

Dalam Autobiographinya, Malcom X pernah menuliskan sebagai berikut:

"interacting as equals led him to see Islam as a means by which racial problems could be overcome."(Malcolm X, Autobiography, pp. 388–393; ucapan dari pp. 390–391)

Siapa Malcolm X?

Malcolm X adalah seorang kulit hitam Amerika, lahir 19 Mei 1925 dengan nama Malcolm Little, ia merupakan anak seorang pendeta Kristen Baptis.

Ia pernah dijebloskan ke penjara karena kasus perampokan yang dilakukannya pada tahun 1946 ketika berusia 20 tahun.

Di dalam penjara, ia sangat tertarik terhadap konsep-konsep ajaran Islam. Ia hidup di zaman rasisme Amerika yang berlangsung dari abad 17 hingga tahun 1964 dimana pada waktu itu orang-orang kulit hitam dilarang berbaur dengan orang-orang kulit putih. Mereka diperlakukan secara diskriminatif baik secara sosial, politik, budaya maupun ekonomi.

Sekeluarnya dari penjara pada tahun 1952, ia terus mendalami Islam dan tetap bergabung dengan The Nation of Islam. Organisasi ini terutama beranggotakan orang-orang Afro-Amerika Muslim yang berjuang untuk melepaskan diri dari Amerika Serikat dan berdiri sendiri sebagai negara yang terpisah. Di dalam organisasi ini ia terpilih menjadi juru bicara dan sering memberikan ceramah atau pidato dalam berbagai forum termasuk dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.

Pengalaman Wukuf di Arafah

Pada tahun 1964, Malcolm X melaksanakan ibadah haji di Makkah dan mendapatkan pengalaman dahsyat sewaktu wukuf di Arafah. Malcolm X adalah orang yang sangat benci kepada orang-orang kulit putih sebagai reaksi keras atas sikap diskriminatif mereka terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, ia justru 'disadarkan' ketika mendapati banyak orang yang sedang menunaikan ibadah haji di Makkah ternyata berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru.

Kenyataan tersebut sangat mengejutkan dirinya sebab di Amerika hal seperti ini tidak ia jumpai. Hal yang ia ketahui sebelum keberangkatannya ke Makkah adalah bahwa Islam itu bukan agama untuk orang-orang kulit putih, namun untuk mereka yang berkulit hitam seperti dirinya dan orang-orang berkulit warna seperti ras Asia.

Puncaknya adalah ketika Malcom X berwukuf di Padang Arafah di mana ia makan sepiring dengan orang-orang kulit putih. Ia minum dengan gelas yang sama dengan orang-orang kulit putih. Ia istirahat dan tidur sebantal dengan orang-orang kulit putih. Ia melaksanakan sholat berjamaah dengan orang-orang kulit putih. Ia berdoa bersama orang-orang kulit putih.

Orang-orang kulit putih yang ia jumpai sedang beribadah haji itu adalah orang-orang paling putih diantara yang putih. Mereka bermata paling biru diantara yang bermata biru. Mereka berambut paling pirang diatara yang berambut pirang. Namun mereka semua beragama Islam dan berlaku ramah terhadap semua jamaah, tak terkecuali yang berkulit hitam.

Di sinilah di Padang Arafah Malcolm X menyadari bahwa wukuf di padang Arafah sejatinya tidak hanya berdiam diri, Namun sebagai simbol persatuan dan ta'aruf antara sesama umat manusia:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan besuku-suku agar kalian saling mengenal.

Kata لتعارفوا dalam ayat di atas artinya “supaya saling mengenal”. Kata تعارفوا itu sendiri berasal dari akar kata عرف yang artinya mengenal. Disinilah ada hubungan yang jelas mengapa padang tempat wukuf itu disebut Padang Arafah, yakni karena di padang ini umat Islam seluruh dunia berkumpul menjadi satu pada hari dan tanggal yang sama untuk saling mengenal dengan cara berinteraksi satu sama lain.

Puncak wukuf di Arafah adalah khutbah wukuf. Dalam setiap khutbah wukuf, selalu diperdengarkan khutbah Rasulullah SAW yang pernah beliau sampaikan pada saat melaksanakan Haji Wada` sekitar tahun 10 Hijriyah. Diantara isi khutbah Rasulullah adalah sebagai berikut:

"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, dan kebangsaan, tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang berkulit terang dengan orang berkulit hitam; dan sebaliknya orang berkulit hitam dengan orang berkulit terang, kecuali karena takwanya kepada Allah.”

Isi khutbah Rasulullah SAW di atas menyadarkan Malcolm X bahwa Islam yang dia pahami dalam The Nation of Islam belum sesuai dengan Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Islam ternyata adalah agama universal untuk seluruh bangsa tanpa memandang warna kulit. Maka sekembalinya Malcolm X ke Amerika Serikat dan berganti nama menjadi El-Hajj Malik El-Shabazz, ia menyatakan keluar dari organisasi itu dan mengikuti paham Islam Sunni.

Dikenang sebagai Tokoh Perdamaian

Ketokohannya hampir menyaingi popularitas Presiden John F. Kennedy pada waktu itu. Ia tampil sebagai tokoh yang bisa diterima banyak kalangan termasuk mereka yang berkulit putih. Di kemudian hari ia mendapat pengakuan dari pemerintah Amerika Serikat sebagai tokoh perdamaian setelah berakhirnya politik rasisme di negara itu.

Nama Malcolm X pun diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota New York setelah ia meninggal dunia tertembus peluru pada tanggal 21 Februari 1965 ketika sedang berpidato. Penembakan itu dilakukan oleh sebuah konspirasi politik yang tidak menginginkan reputasinya terus menanjak menyaingi tokoh-tokoh lainnya di Amerika Serikat, Tokoh muda Muslim ini wafat dalam usia 39 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.


Penulis: Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


loading...