Hati-hati dengan Gelar Dunia!

Hati-hati dengan Gelar Dunia!

author photo
Di antara sebab takutnya para mulia terdahulu terhadap gelar-gelar yang disematkan pada nama mereka adalah Quran Surat Ad Dukhaan ayat 49:

ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

“Rasakanlah; sesungguhnya engkau orang yang perkasa lagi mulia!” {QS Ad Dukhaan [44]:49}

Ayat ini tertuju kepada Abu Jahal kelak ketika ia disiksa.

‘Adzab itu; zaqqum menggelegak di perut bagai didihan termulut menganga haus melampaui kepala dituangi air panas dan neraka menyala.

Adalah dulu ia mencengkram Nabi dan berkata, “Apa kau mengancamku Muhammad? Sungguh aku ini Al ‘Azizul Karim, sang perkasa lagi mulia!”

Hati-hati dengan Gelar Dunia!


Dalam riwayat lain ia berkata; “Aku Al ‘Azizul Karim; sang perkasa lagi mulia; tiada di antara gunung-gunung Makkah nan melampauiku!”

Maka selain ‘adzab pedih yang menderanya; Allah tambahkan siksa lain; berupa penghinaan. Allah menghinanya dengan gelar yang dibanggakannya.

“Rasakan; sesungguhnya kau SANG PERKASA LAGI MULIA!” {QS: 44:49}. Dalam kalimat ini ada sindiran paling menyesakkan bagi si tersiksa.

Dalam kalimat ini juga ada penistaan yang paling menusuk bagi si terhukum.

Dalam kalimat ini ada tempelak paling menampar bagi pembangga gelar.

Maka, di antara siksaan terpahit di neraka adalah, diungkit-ungkitnya gelar dunia yang disandang hamba oleh Allah untuk menghinanya.

Betapa enggan Abu Bakar dipanggil Khalifah RasuliLlah, betapa tegas Umar menolak dan betapa keras ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz tak hendak.

Betapa galaunya Imam An Nawawi ketika digelari Muhyiddin {yang menghidupkan agama}, sebab beliau takut kelak gelar itu membuatnya ternista.

Amat banyak teladan; betapa khawatir yang benar-benar hebat disebut “hebat”, betapa risih yang betul-betul mulia dipanggil “mulia”.

Sebab selain gelar itu tak menambah hakikat kemuliaan, ia hanya membuat lena; dan dikhawatirkan kelak di akhirat jadi bagian siksa.

Terlebih jika gelar itu bualan tak terbukti; seperti sedihnya diri mendengar yang bergelar miliarder hanya menggaji karyawannya 1/4 UMR.

Tapi semua ceracau ini lebih layak ditudingkan pada diri; yang hatinya masih berbunga mendengar puji dan diam-diam rindu digelari.

Semoga Shalihin dan Shalihat bermurah hati mendoakan kami yang hatinya rapuh, jiwanya rentan dan Allah tampilkan di panggung nan berat ujian.

Semoga Allah selamatkan kita dari syahwat menggagahkan diri dengan gelar dan pujian; sebab betapa sesal dan rugi jika ia jadi siksa nanti.

Doakan guru-guru kita yang dicintai ummat dan disematkan gelar pada mereka; semoga Allah mampukan dan kuatkan untuk memenuhi hak gelarnya.

Bagi kita para awam; sungguh Allah Subhanahu Wata’ala menyayangi hamba nan menginsyafi kadar dirinya; tak membebani diri dengan yang tak disanggupinya.*

Twitter @Salimafillah
Next article Next Post
Previous article Previous Post