Inilah 9 Amalan Di 10 Hari Terakhir Ramadhan Yang Dilakukan Rasulullah Dan Sahabatnya



Inilah 9 Amalan Di 10 Hari Terakhir Ramadhan Yang Dilakukan Rasulullah Dan Sahabatnya, Yuk Kita Amalkan,

Inilah 9 Amalan Di 10 Hari Terakhir Ramadhan Yang Dilakukan Rasulullah Dan Sahabatnya


1. Mandi Besar, Berpakaian Indah Dan Berwangi-wangian

Bukan menjadi rahasia lagi, jika ingin bertemu dengan orang tersayang, pasti kita akan mempersiapkannya seindah mungkin? Begitu juga jika kita ingin menghadap Allah SWT; kekasih abadi yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Sesungguhnya, Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. Berpakaian bersih dan memakai minyak wangi ketika ingin beribadah bukan saja mengikut sunnah Rasulullah SAW tetapi ia juga bisa membuat ibadah menjadi khusyuk.

2. Sering Beriktikaf di Masjid

Iktikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat untuk mendekatkan diri dan hati kepada Allah SWT. Sahabat Abu Said Al-Khudri meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW sering beriktikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan.

3. Mengingatkan dan Membangunkan Keluarga Untuk Beribadah

Rasulullah SAW bukan saja bangun untuk mendirikan sholat malam sendirian,  Namun beliau juga meningatkan keluarga dan kerabat dekatnya agar bisa memperoleh kemuliaan bulan Ramadhan. Baginda Nabi Muhamamd juga mengajak mereka sama-sama menghidupkan malam terakhir tersebut.

“Adalah kebiasaan Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan): menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya dan mengikat pinggangnya.” (Hadis Riwayat Muslim)

4. Beruzlah (Tidak Mendekati) Isteri

Kebiasaan Baginda Nabi SAW dan para salhabat di 10 hari terakhir Ramadhan adalah memperbanyakkan ibadah serta mengasingkan diri daripada mendekati isteri masing-masing. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan;

“Apabila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan) Rasulullah SAW mengikat kainnya, menjauhkan diri dari menggauli isterinya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

5. Memperbanyakkan Amal Ibadah Dan Qiyamullail di Masjid Atau Mushala

Rasulullah SAW sering mendirikan malam pada bulan Ramadan dengan ibadah Qiyamullail. Baginda Nabi SAW bersabda;

“Barangsiapa menghidupkan bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala daripada Allah SWT, maka akan segala dosanya yang terdahulu akan diampuni” (Hadis Riwayat Bukhari)

6. Bersholat Tarawih dan Sholat Sunnah Lain

Diantara ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat untuk menghidupkan 10 malam terakhir ialah dengan mendirikan sholat sunnah seperti Tarawih, witir, dan tahajjud. Firman Allah SWT yang bermaksud;

“Dan, pada sebagian malam, laksanakanlah sholat Tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkat dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra' : 79)

7. Memperbanyakkan Dzikir (Bertasbih, Tahmid, Takbir, Istighfar)

Selain mendirikan solat, pengakhiran Ramadan juga boleh diisi dengan amalan seperti berdzikir (tasbih, tahmid, tahlil, istighfar) seperti yang dilakukan oleh para salafussaleh terdahulu. Dzikir merupakan sebuah jalan untuk selalu mengingat Allah SWT. Dengannya maka hati akan menjadi tenang.

8. Membaca Dan Bertadarus Al-Quran

Malaikat Jibril sentiasa bertadarus Al-Quran dengan Rasulullah SAW setiap hari sepanjang bulan Ramadan. Para sahabat juga sering melantunkan Al-Quran di bulan Ramadan.

Bahkan, mereka para sahabat mengkhatam Al-Quran dalam masa tiga hari, sebagian yang lain 7 hari atau 10 hari pada bulan Ramadhan.

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW; Sayyidina Utsman bin Affan mengkhatam Al-Quran setiap hari dalam bulan Ramadhan.

9. Sering Membaca Doa Lailatul Qadar

Do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu do’a: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.

Maksud dari “innaka ‘afuwwun” adalah yang banyak memberi maaf. Demikian kata penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi.

Para ulama menyimpulkan dari hadits di atas tentang anjuran memperbanyak do’a “Allahumma innaka ‘afuwwun …” pada malam yang diharap terdapat lailatul qadar. Do’a di atas begitu jaami’ (komplit dan syarat makna) walau terlihat singkat. Do’a tersebut mengandung ketundukan hamba pada Allah dan pernyataan bahwa dia tidak bisa luput dari dosa. Namun sekali lagi meminta ampunan seperti ini tidaklah terbatas pada bulan Ramadhan saja.

Al Baihaqi rahimahullah berkata, “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam lailatul qadar saja.” (Fadho-ilul Awqot, hal. 258).

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan menarik,

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

“Bukanlah orang yang arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 362-363).

Hadits ‘Aisyah di atas juga menunjukkan bahwa do’a di malam lailatul qadar adalah do’a yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasul mengenai do’a apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut.

Hadits ‘Aisyah juga menunjukkan bahwa jika seseorang berdo’a pada Allah diperantarai dengan tawassul melalui nama-nama Allah. Seperti dalam do’a terlebih dahulu memuji Allah dengan ‘Allahumma innaka ‘afuwwun, yaitu Ya Allah yang Maha Pemberi Maaf’. Bentuk do’a semacam ini adalah bertawassul terlebih dahulu dengan nama atau sifat Allah yang sesuai dengan isi do’a.

Dalil di atas juga menunjukkan bahwa sifat ‘afwu (pemaaf) adalah di antara sifat Allah. Maksud ‘afwu adalah memaafkan dosa yang diperbuat hamba. Begitu pula hadits tersebut menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah. Penetapa sifat di sini adalah sesuai dengan keagungan Allah, tanpa dimisalkan dengan makhluk dan tanpa ditolak maknanya. Wallahu a’lam.

Baca Juga:


Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk memperbanyak amalan yang sedang kita kaji ini di penghujung Ramadhan. Aamiin.


loading...