Ini Sosok Siswi MTS Yang Tabungannya 42 Juta Tidak Diakui Sekolah



Selama mengenyam pendidikan di MTS Negeri 1 Tumpang, Siswi MTS yang diketahui bernama Rosita (15) dipandang sebagai siswi yang biasa, tidak pintar dan tak pula bodoh dalam kemampuan akademis.

Ini Sosok Siswi MTS Yang Tabungannya 42 Juta Tidak Diakui Sekolah
Rosita didampingi ibunya saat bertemu wartawan di rumahnya/Foto: Muhammad Aminudin


"Sepengetahuan saya, anaknya iya begitu. Tidak pintar dan tidak bodoh," jelas Kepala Sekolah MTS Negeri Tumpang, Pono ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/6/2017).

Pono yang baru beberapa bulan menjabat sebagai kepala sekolah MTS ini memang tidak secara langsung mengenal betul Rosita. Karena ada sekitar 563 siswa di MTS Negeri 1 Tumpang yang dipimpinnya ini.

"Kalau di kelas Rosita ada sekitar 30 sampai 32 siswa. Saya tidak persis jumlah siswa di kelas itu," terang Pono.

Sejak duduk di bangku kelas 6 atau 1, Rosita memang tidak banyak berbuat masalah, maupun soal kemampuannya mengenyam pendidikan.

"Tetapi banyak cerita di luar, dan itu bukan sepengatahuan saya, soal Rosita dan keluarganya. Tapi saya harus kroscek dahulu kebenarannya, karena itu saya tak berani sampaikan," tegas Pono.

Ini Sosok Siswi MTS Yang Tabungannya 42 Juta Tidak Diakui Sekolah
Rumah Rosita cukup besar dan bagus di kampungnya/Foto: Muhammad Aminudin


Rosita langsung menjadi perhatian ketika mecoba bunuh diri. Pono menyebut aksi nekat itu benar-benar terjadi. "Saya punya buktinya soal itu," terangnya.

Dia mengaku, tidak dapat berbuat apa-apa untuk membawa persoalan ini hingga tuntas. Hasil pertemuan dihadiri orang tua Rosita, komite, perangkat desa, babinsa dan babinkamtibmas, justru keluarga Rosita meminta dilakukan sumpah pocong.

"Bapaknya Rosita yang meminta, kami terus koordinasi dengan aparat desa untuk mewujudkan keinginan itu. Menurut kami, jika tidak dituruti masalah ini akan terus saja tidak selesai, karena diminta memperkarakan ke jalur hukum tidak mau," jelas Pono.

Tanpa Saksi dan Bukti

Keluarga Rosita tetap menginginkan uang Rp 42 juta yang ditabungkan di sekolah diberikan kepadanya, meski sekolah memiliki catatan tabungan Rosita hanya sebesar Rp 135 ribu.

Kasek MTS Negeri 1 Tumpang, Pono, tidak memungkiri ada dua catatan soal tabungan Rosita, catatan pertama dimiliki orang tua dan sekolah.

"Rosita mengaku pernah memberikan uang tabungan di depan kamar mandi dan kelas. Versi wali kelas, tabungan diberikan di dalam kelas yang nilainya tidak sama dengan catatan orang tua Rosita. Itu hasil keterangan yang saya miliki," terang Pono.

Ini Sosok Siswi MTS Yang Tabungannya 42 Juta Tidak Diakui Sekolah
Kepala sekolah menunjukan buku tabungan Rosita/Foto: Muhammad Aminudin


Sebagai Kasek, Pono memang berpegang kepada catatan yang dimiliki sekolah atau wali kelas. Kendati dirinya tidak pernah menginstruksikan adanya kegiatan menabung siswa di sekolah.

"Wali kelas selalu mencatat berapapun uang tabungan yang disetor siswa. Buku tabungan sengaja tidak diberikan, takut disalahgunakan. Hampir semua siswa di kelas Rosita menabung," jelas Pono.

Munculnya dua catatan tabungan, memang membuat masalah sulit menemukan titik terang. Upaya menguji persoalan ini melalui jalur hukum ditolak keluarga Rosita, bahkan mereka justru menuntut pembuktian dengan sumpah pocong.

"Bapaknya yang minta, ibunya menolak dan tetap ingin uang diberikan. Sudah jadi tradisi di wilayah mereka tinggal, pembuktian sumpah pocong, mereka lebih mempercayai itu. Kami mengikuti saja," terang Pono. Disampaikan juga, sumpah pocong akan dilakukan oleh Rosita dan wali kelas.

Rosita didampingi ibunya mengaku, telah menyetorkan uang tabungan kepada wali kelas. Tanda bukti atau buku tabungan tidak diberikan. Awalnya mereka menyangka tidak akan seperti saat ini.

"Iya kami percaya saja, karena menabung di sekolah," ujar Wijiyati mendampingi Rosita.

Wijiyati tetap bersikukuh, akan menagih uang tabungan sesuai dengan catatan tabungan yang dimilikinya. Menurut dia, catatan itu benar.

Baca Juga: Tabungan Sekolah Rp 42 Juta Tak Diakui Sekolah, Siswi Ini Coba Bunuh Diri

"Anak saya sudah mau bunuh diri, saya tetap akan menagih," ujar Wijiyati.


loading...