Mengapa Hari Besar Islam Adalah Hari Jum’at Bukan Sabtu? Ini Penjelasannya

Diposting pada

Jika Agama Islam Melanjutkan Agama Samawi Terdahulu Mengapa Hari Ibadahnya Hari Jum’at Bukan Sabtu?

Mengapa Hari Besar Islam Adalah Hari Jum'at Bukan Sabtu? Ini Penjelasannya

Orang yang berpotensi untuk mengajukan pertanyaan provokatif seperti pertanyaan diatas besar kemungkinan non-muslim karena umat Islam tahu bila Allah sudah menetapkan sesuatu tentulah berdasarkan ilmu dan hikmah karena Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sebelum kita membahas secara mendalam baiklah kita pahami terlebih dahulu bahwa salah satu rukun iman dalam Islam adalah mengimani Kitab Zabur, Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Ini artinya bila di dalam Kitab Zabur, Taurat, dan Injil terdapat ilmu dan informasi yang sejalan dengan Al Qur’an maka wajib diterima dan bila bertentangan wajib ditolak.

Dan satu poin penting lagi yang harus diingat adalah bahwa jarak rentang waktu antara Nabi Isa ‘alaihissalaam hingga Nabi Muhammad adalah 620 tahun. Bahkan konon jarak antara masa Nabi Adam ‘alaihissalaam hingga Nabi Muhammad Saw. adalah tujuh ribu delapan ratus tahun (7800) lamanya. Dalam jarak ribuan tahun itu bisa saja pernah terjadi pergeseran waktu.

Kita bahkan sesungguhnya tidak tahu sudah berapa tahun persisnya umur bumi dan seberapa kali bumi pernah mengalami percepatan dan pelambatan atau faktor lain yang dikarenakan orbit bumi dan perbandingan posisinya terhadap matahari.

Hal yang menarik adalah dalam semua agama samawi difahami bahwa alam semesta diciptakan dalam enam hari dan hari ke tujuh ditetapkan sebagai hari ibadah, Jadi perlu difahami bahwa hari ibadah adalah hari ke tujuh berdasarkan urutan hari dan bukan berdasarkan nama, karena nama bisa diganti tetapi urutan hari adalah kalkulasi ilmiah.

Dalam kalender modern yang ada sekarang kaum muslim memiliki hari ibadah di hari Jum’at sedangkan kaum Yahudi di hari Sabtu, dan kaum Kristiani di hari Minggu. Yang menjadi pertanyaan adalah yang mana dari ketiga hari tersebut yang merupakan hari ke tujuh berdasarkan kalkulasi ilmiah?

Jawabnya adalah: Demi masa yang sudah berlangsung ribuan tahun maka hanya Allah-lah yang tahu. Maka wajib kita percaya pada pernyataan dari Allah. Bila di dalam Al Qur’an Allah menetapkan hari ibadah adalah hari Jum’at maka setaralah hari Jum’at itu dengan hari ke tujuh.

Dan bila kaum Yahudi dan Nasrani menampik maka cukuplah tangkisannya dari Injil itu sendiri yaitu peristiwa perang yang diceritakan di ayat Yosua 10:13 sebagai berikut:

“Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan terlambat terbenam kira-kira sehari penuh.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa pernah terjadi perlambatan waktu selama kira-kira sehari penuh dan itu berarti perhitungan hari harus dijadwal ulang. Konsekuensinya bila tidak dijadwal ulang maka yang semula dikira hari Sabtu ternyata hari Minggu, yang semula diduga hari Jumat ternyata hari Sabtu. Atau yang semula dikira hari ke enam ternyata sudah menjadi hari ke tujuh.

Sungguh kepada Allah kita kembalikan semua urusan dan Allah Maha Benar lagi Maha Mengetahui.

Baca Juga:

Bila kita bisa percaya kepada analisis dan pernyataan para ilmuwan maka lebih pantas lagi kita percaya pada pernyataan Allah.

Demikianlah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Lilia Syarif

Artikel ini adalah kontribusi dari pembaca, Jika Anda mempunyai gagasan, ide, dan kisah hikmah dalam bentuk tulisan, Silahkan kirim kepada kami melalui email infomakkah@mail.com

Loading...