Kisah Umar bin Khattab : 3 Kali Ditusuk Saat Imami Shalat Subuh

Diposting pada

Sayyidina Umar bin Khattab merupakan sahabat Nabi yang menjadi Khalifah kedua setelah Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq. Khalifah Umar termasuk orang yang disegani dan di takuti oleh kaum Quraisy, baik sebelum masuk islam maupun sesudahnya.

Sayyidina Umar mempunyai julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa membedakan antara yang benar dan yang bathil.

Kisah Umar bin Khattab : 3 Kali Ditusuk Saat Imami Shalat Subuh

Namun di akhir hayatnya Sayyidina Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah Fairuz yang beragama Majusi, seorang budak dari sahabat Mughirah bin Syu’bah yang menaruh dendam kepada Sayyidina Umar.

Sebelumnya, Umar pernah menetapkan peraturan yang melarang tawanan dewasa dibawa masuk ke kota Madinah. Hingga

Mughirah meminta izin kepada Umar untuk membawa Abu Lukluk masuk ke Madinah, karena dia memiliki keterampilan membuat senjata, sehingga bisa bermanfaat untuk umat islam. Abu Lukluk seorang pandai besi, ahli pertukangan, dan ukiran. Maka Umar pun mengizinkan.

Abu Lu’lu’ah memendam keinginan untuk membunuh Umar. Diapun menyiapkan sebilah pisau besar bermata dua, dengan pegangan di bagian tengah pisau. Pisau ini diasah tajam dan dilumuri racun.

Ketika waktu subuh tepatnya di hari Rabu. Orang majusi ini bersembunyi di salah satu sudut masjid di penghujung malam menunggu waktu subuh.

Kronologi Pembunuhan Umar

Amr bin Maimun merupakan saksi sejarah kejadian ini. Imam Bukhari dalam shahihnya menyebutkan pengakuan Amr bin Maimun ketika menceritakan peristiwa itu,

“Pada hari tertusuknya Umar, ketika jamaah shalat subuh itu, aku berada di shaf kedua, sementara di depanku ada Abdullah bin Abbas. Subuh itu, Umar memimpin shalat dengan melewati barisan shaf dan memerintahkan, “Luruskanlah shaf.”

Ketika dia sudah tidak melihat lagi celah-celah dalam barisan shaf tersebut, maka Umar maju lalu bertakbir. beliau membaca surat  An-Nahl pada raka’at pertama, sehingga memungkinkan semua orang bergabung dalam shalat jamaah.

Ketika ia mulai melantunkan ayat-ayat  Al-Quran budak tadi keluar dari persembunyiannya, secepat kilat ia menyerang Umar dengan tiga tusukan.

Tusukan pertama mengenai dada, kedua mengenai perut dan terakhir mengenai bagian bawah pusar, Umar menjerit dan roboh ke tanah.

Abu Lu’lu’ah berusaha lari sambil menyabet-nyabetkan belatinya. Hingga ada sekitar 13 orang yang terkena tusukan belatinya, 7 diantaranya meninggal dunia.

Ada salah satu jamaah yang melihat ini, dia langsung melemparkan baju mantelnya dan tepat mengenai si majusi itu. Ketika dia menyadari bahwa dia tak lagi bisa menghindar, dia bunuh diri.

Umar memegang tangan Abdur Rahman bin ‘Auf lalu menariknya ke depan. Siapa saja orang yang berada dekat dengan Umar pasti dapat meilihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berda di sudut-sudut masjid, mereka tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, selain hanya kehilangan suara Umar. Mereka berseru, “Subhanallah, Subhanallah.” Mereka menyangka imam shalat lupa.

Kemudian Abdurrahman bin Auf melanjutkan shalat jamaah subuh dengan ringan (beliau membaca surat yang pendek). Setelah shalat selesai, Umar bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, lihatlah siapa yang telah menikamku.”

Ibnu Abbas berkeliling sesaat lalu kembali, “Budaknya Mughirah.”

Umar bertanya, “Budak yang pandai membuat senjata itu?”

Ibnu Abbas menjawab, “Ya, benar.”

Mendengar jawaban ini, Umar bersyukur, beliau memuji Allah, doanya dikabulkan. Karena beliau dibunuh orang majusi, bukan orang islam.

Umar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan dalam sebuah kalimat yang dicatat para ahli sejarah,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى لَمْ يَجْعَلْ مَنِيَّتِى بِيَدِ رَجُلٍ يَدَّعِى الإِسْلاَمَ

Segala puji bagi Allah, yang tidak meletakkan kematianku di tangan orang yang menyatakan muslim.

Selanjutnya, Umar dibawa pulang. Saat itu, masyarakat madinah seakan tidak pernah mengalami musibah seperti hari itu sebelumnya. Amirul Mukminin Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu menderita luka menganga karena bekas tusukan itu. Ketika diberi minuman rendaman kurma, minuman itu keluar melalui  perutnya. Kemudian diberi susu namun susu itu keluar melalui lukanya.

Akhirnya orang-orang menyadari bahwa nyawa Umar tidak bisa lagi terselamatkan…

(Shahih Bukhari no. 3700)

Kuburan Abu Lu’lu’ah

Bagi orang Syiah Iran dan seantero dunia, Abu Lu’lu’ah dianggap pahlawan. Namanya harum di tengah mereka. Dia dianggap pahlawan karena secara pengecut ‘berani’ membunuh Umar. Karena itulah, dia digelari Abu Lu’lu’ah Baba Syuja ad-Din, artinya Abu Lu’lu’ah sang pemberani dalam agama. Sebagai lambang permusuhan dengan Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu yang telah menaklukkan Persia.

Banyak orang syiah yang main ke kuburannya untuk berdoa di sana. Kuburannya di kota Kasyan di Iran. Sebenarnya sebagian orang syiah sendiri tidak yakin kuburan Abu Lu’lu’ah ada di Iran, sementara dia mati di madinah.

Tapi ada satu tempat yang mereka klaim sebagai kuburan Abu Abu Lu’lu’ah.

Kisah Umar bin Khattab : 3 Kali Ditusuk Saat Imami Shalat Subuh
makam Abu Lu’lu’ah pembunuh umar

Di pintu gerbang kuburan Abu Lu’lu’ah tertulis,

بقعة مبركة بابا شجاع الدين أبو لؤلؤ فيروز

Tempat yang diberkahi, Baba Syuja Abu Lu’lu’ah Fairuz.

Orang syiah memiliki acara itimewa untuk mengenang Abu Lu’lu’ah, mereka beribadah di makamnya,

Kisah Umar bin Khattab : 3 Kali Ditusuk Saat Imami Shalat Subuh
kuburan pembunuh umar

Tahu doa mereka di kuburan Abu Lu’lu’ah?

Mereka mengucapkan doa,

اللهم احشرني مع أبي لؤلؤة

“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama Abu Lu’lu’ah”

Anda bisa lihat rekaman doa mereka di bagian akhir video ini:

Itulah agama syiah…

Loading...