Heboh, 'Laa ilaha illallah' Diganti 'Laa ilaha illa Tuhan' di Buku BK Untuk SMP-MTs



Dunia maya ramai membicarakan penggantian kata 'Laa ilaha illallah' menjadi 'Laa ilaha illa Tuhan'. Banyak pihak yang tidak terima akan hal ini. Masalahnya ucapan 'Laa ilaha illallah' tersebut sudah baku di lisan kaum muslimin. Pergantian yang dimaksud bisa ditemukan pada halaman 77 dari Buku Materi Layanan Klasikal Bimbingan Konseling yang diterbitkan oleh Paramitra Publishing.

Heboh, 'Laa ilaha illallah' Diganti 'Laa ilaha illa Tuhan' di Buku BK Untuk SMP-MTs
Buku Memuat Kalimat Subhana Tuhan, La Ilaha Illa Tuhan, Alhamdu Lil Tuhan (Dok Istimewa)


Selain 'Laa ilaha illallah' Diganti 'Laa ilaha illa Tuhan' , di dalam buku yang disusun oleh Drs Slamet Riyadi M.Pd, H Rochmanuddin MM dan Dra Narni ini, lafadz Subhanallah menjadi 'Subhana Tuhan', juga lafadz 'Alhamdulillah' menjadi 'Alhamdu lil Tuhan'.

Ironisnya, Buku tersebut merupakan buku untuk anak yang menginjak masa remaja, kata Mensos Khofifah usai menghadiri Harlah ke-21 Ponpes Syaikh Abdul Qodir al Jailani, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (25/5).

Ia menyatakan ada pihak tertentu yang sengaja memancing masyarakat untuk membuat gaduh.
Setelah dikonfirmasi, Pimpinan Penerbit Paramitra Publishing, Hani Rochmanuddin menyatakan telah terjadi kesalahan penulisan dalam buku itu. Menurutnya hal ini murni ketidak-sengajaan, bukan penulis yang membuatnya, namun terjadi kesalahan dalam proses editing.

"Waktu itu masalahnya saat nge-replace di Microsoft Word-nya. Karena buku ini universal sifatnya, maka kata Allah kemudian diganti menjadi Tuhan. Nah, ternyata pas di kata Subhanallah ikut terganti menjadi SubhanaTuhan," tutur Rochmanuddin ketika dihubungi Kabarmakkah, Jumat (26/5).

Halaman yang bermasalah itu didapati berada pada sub judul 'Bersyukur Dengan Hati yang Ikhlas'. Lafadz Allah diubah menjadi Tuhan dengan alasan universalitas.

Rochmanuddin mengungkapkan bahwa buku tersebut telah tercetak sebanyak 800 eksemplar. Peredarannya untuk seluruh daerah di Indonesia, namun untuk kalangan terbatas, tidak dijual bebas di toko buku.

Polemik ini hendaknya membuat para penerbit untuk melakukan seleksi serta pengecekan secara lebih teliti terhadap buku atau media bacaan lain yang akan naik cetak. Jangan sampai buku yang terdapat konten yang bermasalah serta sensitif di hati umat Islam seperti ini lolos terbit.


Loading...