Belajar Taat Dari Kuda Yang Disebut Dalam Al-Qur'an



Di dalam al-Qur’an, Allah menyebutkan nama beberapa hewan. Bahkan ada yang dijadikan sebagai Nama surat seperti al-Baqarah (Sapi betina), an-Nahl (lebah), an-Naml (Semut), al-‘Ankabut (Laba-laba), al-Fiil (Gajah) dan al-‘Aadiyaat (Kuda perang yang berlari kencang). Semuanya tentu bukan tanpa maksud.

Belajar Taat Dari Kuda Yang Disebut Dalam Al-Qur'an
Ilustrasi


Allah menyebutkan hewan-hewan tersebut agar diambil pelajaran oleh manusia. Akan halnya kuda, Allah menyebutkannya sebagai salah satu hewan yang paling disenangi oleh manusia, sebagaimana dalam Ali Imron ayat 14 yang artinya :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (yang terlatih), binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga). (QS. 3:14).

Kata “al-khail al musawwamah” ditafsirkan sebagai “al-khail al-mu’allamah” atau kuda yang diberi pelajaran oleh tuannya (Shafwatul Bayaan lima’aanil Qur’an, hal 51). Kuda seperti itu bisa memenuhi apa yang diinginkan tuannya, bahkan bisa dijadikan sebagai tunggangan saat berperang. Nah, terkait dengan kuda yang khusus digunakan untuk berperang, Allah mengistimewakannya sendiri dalam satu surat yakni surat al-‘Aadiyaat. Mari kita simak makna surat al-‘Aadiyat berikut,
(1). Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, (2). dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), (3). dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, (4). maka ia menerbangkan debu, (5). dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, (6). sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (7). dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, (8). dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta, (9). Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, (10). dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, (11). sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

Di bagian awal surat ini Allah bersumpah atas nama kuda perang dan mensifatinya dengan beberapa keistimewaan saat berperang. Kuda seperti ini telah terlatih untuk membantu tuan yang menungganginya hingga bisa menggentarkan dan mengalahkan musuh-musuhnya. Mulai ayat keenam, Allah lantas menyebutkan sifat manusia yang ingkar kepada Tuhannya. Mengapa Allah menyebutkan hal ini setelah bersumpah atas nama kuda yang memiliki keistimewaan?

Munasabah atau korelasi antara ayat keenam dengan ayat-ayat sebelumnya adalah Allah ingin mengingatkan manusia bahwa kuda perang sangat taat pada tuannya. Namun, tidak demikian dengan manusia. Kuda yang tidak berakal saja mau patuh pada tuan yang memberi makan dan memeliharanya, namun manusia sebagai hamba yang diberi kemampuan berfikir sering ingkar dan tidak mau berterimakasih pada Allah, Tuan yang senantiasa memberikan kenikmatan. Manusia ditimpa ujian sedikit saja sering mengeluh. Diberi kekayaan materi, malah membuatnya bakhil sangking cintanya pada duniawi tersebut.

Untuk menghadapi manusia dengan sifat seperti ini, Allah lantas mengingatkan akan adanya batas waktu bagi hidup mereka. Allah mengingatkan akan adanya hari kebangkitan dari alam kubur. Saat itu akan ada balasan bagi amal perbuatan mereka karena tidak ada yang lupt dari pengetahuan Allah, Sang Pemilik Alam Semesta ini.

Semoga pelajaran ketaatan dari kuda perang ini mampu membuat kita senantiasa patuh kepada Allah serta pandai mensyukuri segala nikmat yang Dia limpahkan kepada kita.

Wallahu a’lam.



Loading...