Begini Cara Mengobati ‘Derita Cinta’ Yang Tak Kunjung Berakhir

Diposting pada

Asalamualaikum pak ustadz, Jika boleh saya mau sedikit bertanya dan bercerita. Mungkin bukan soal agama, tetapi pak ustad yang lebih berpengalaman dan pernah muda sama seperti saya, saya harap pak ustadz berkenan untuk menjawab beberepa pertanyaan dari saya.

Begini pak ustadz, saya mencintai seorang pria, saya menyayanginya lebih dari diri saya sendiri, akan tetapi yang saya rasakan pria tersebut biasa biasa saja terhadap saya, cuek, dan sebagainya. 
Begini Cara Mengobati ‘Derita Cinta’ Yang Tak Kunjung Berakhir
Mungkin saya juga salah terlalu menghambakan cinta, hingga ahirnya saya jatuh terlalu dalam dan mendalam. Saya sebenarnya tidak tahu dia maunya seperti apa . Kadang datang. Menghilang dan pergi. Setiap waktu terus saja begitu. Saya coba untuk mempertanyakan apa maunya, tapi tak pernah ada jawaban. Saya coba membicarakan semua yang saya rasakan. awalnya saya enjoy aja. 
Tetapi ternyata sebagai perempuan saya butuh kepastian. kesabaran saya tentu terbatas. saya sudah menjabarkan perasaan saya, saya berkata pada pria tersebut, kalau sudah ngga bisa sama saya tolong tinggalkan.
Namun dia malah menanggapinya bahwa dia penghalang saya dengan yang lain. Padahal maksud saya bukan seperti itu .seperti yang saya katakan, saya butuh kepastian. 3 tahun lebih saya sabar menghadapi sikapnya. Namun akhir akhir ini saya sedikit lelah. Hingga akhirnya saya selalu mempertanyakan bagaimana kedepannya? 
Tetapi semuanya sama. Tak pernah di jawab , saya selalu tersiksa oleh perasaan saya sendiri. Lalu saya berpikir jika dia terus begitu saya sendiri yang akan pergi dan menghilang dari kehidupannya. 
Saya merasa hati saya di tarik diulur, Pertanyaan saya pak ustadz, akankah pria tersebut merasa kehilangan jika saya pergi?. Akankah dia sadar bahwa saya begitu menyayanginya dan perduli terhadapnya?. Pak ustad tentu lebih mengenal cinta dari pada saya. Mohon penjelasannya pak ustadz 
AD, Bogor
Jawaban

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Saudariku yang dirahmati Allah,

Perlu kita ketahui bahwa cinta kepada lawan jenis tidak selalu dihiasi ‘bunga-bunga merah jambu’, tidak sedikit yang justru berhias air mata duka. Cinta yang ‘bertepuk sebelah tangan’, cinta yang tumbuh subur kembali padahal sudah terlanjur talak tiga, cinta yang terpisahkan maut, terhalangi keluarga, terbentengi status sosial dan sebagainya, semua itu bisa membuat siapa saja ikut bersedih bahkan tak jarang ikut menitikkan air mata walaupun tidak ikut mengalaminya.

Diantara sahabatpun ada yang tidak lepas dari problem ini. Begitu besarnya cinta Mughits kepara Bariroh hingga setelah berpisahpun Mughits mengikuti kemana saja Barirah pergi dalam rangka mengharapkan belas kasihan Barirah untuk mau kembali. Air matanya mengalir membasahi jenggotnya, hingga Nabi SAW pun turut ‘melobi’ Bariroh agar kembali, namun Bariroh tetap menolak. Nabipun menyampaikan hal ini kepada pamannya:

يَا عَبَّاسُ أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا

“Wahai Abbas, tidakkah engkau heran akan rasa cintanya Mughits kepada Barirah, dan betapa bencinya Barirah kepada Mughits.” (HR. Al Bukhari).

Penyakit dan derita apa saja, Allah telah menyiapkan obatnya. Disamping perasaan, manusia diberikan akal dan logika dan dipandu dengan wahyu untuk menyelesaikan setiap permasalahannya, tak terkecuali masalah cinta. Jika perasaan yang dikedepankan dari wahyu dan akal, maka derita cinta itu tidak akan berakhir, tidak ada yang bisa mengakhirinya, tidak minuman keras, tidak pula narkoba, bahkan kematianpun tidak bisa mengakhiri derita ini. Islam telah memberikan berbagai cara untuk menyelesaikan permasalahan ini, antara lain:

1) Menikah dengan yang dicintai. Jika ada jalan yang syar’i untuk menuju jenjang pernikahan, maka obat ‘derita cinta’ yang paling manjur adalah dengan cara menikahi siapa yang dicintai. Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a , bahwa Rasulullah bersabda:

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

Kami tidak pernah melihat (kebaikan) bagi dua orang yang saling mencintai seperti (kebaikan cinta dalam) pernikahan.[1]

Ketika menjelaskan hadits ini, Syaikh Mulla Ali al Qari dalam Mirqâtul Mafâtîh (5/2048) menyatakan:

إِذَا نَظَرَ إِلَى الْأَجْنَبِيةِ وَأَخَذَتْ بِمَجَامِعِ قَلْبِهِ فَنِكَاحُهَا يُورِثُ مَزِيدَ الْمَحَبَّةِ، وَسِفَاحُهَا الْبُغْض وَالْعَدَاوَة

“Jika seorang lelaki memandang wanita asing (non mahrom) dan pandangan itu menyebabkan tumbuhnya cinta sepenuh hati, maka menikahi wanita tersebut akan menjadikan bertambahnya cinta tersebut, sedangkan berhubungan dengan wanita tersebut secara tidak syar’i akan memunculkan kebencian dan permusuhan”

Pacaran dengan berdua-duaan tanpa mahrom, perselingkuhan, apalagi kumpul kebo serta dan bentuk-bentuk ‘penyaluran cinta’ yang lain, pada hakikatnya hanya akan mengotori cinta tersebut dan kelak diakhirat akan berujung pada permusuhan. Setiap hubungan yang tidak berlandaskan taqwa, kelak hanya akan jadi musuh diakhirat, Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (Az Zukhruf : 67)

2) Melakukan “Find and Replace”. Jika tidak ketemu jalan syar’i untuk menikahi yang dicintai, maka berusahalah untuk menemukan sosok yang lain yang bisa mengganti kedudukan orang yang dicintai tersebut, ‘dunia tidak selebar daun kelor’, masih banyak orang lain yang lebih baik dari yang dicintai tersebut. Jangan sampai mendatangi dukun untuk melunakkan hati seseorang (kalau mendatangi dealer dalam rangka melunakkan hati boleh saja, asal akad jual beli/kreditnya syar’i).

3) Berusaha Menerima (Ridho) dengan Ketetapan Allah. Jika tidak juga berhasil mereplace ‘sidia’ sehingga hati tetap penuh dengan kecintaan terhadapnya, sementara tidak ketemu jalan untuk menikah dengannya, ya sudahlah, ridho saja dengan ketetapan-Allah ‘Azza wa jalla, karena Dia yang mengatur hidup kita, sementara kita tidak bisa mengatur Dia. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan terbaik untuk kita, pada saat terbaik menurut-Nya, bukan menurut kita.

Lihatlah bagaimana Zulaikha melakukan berbagai macam usaha, bahkan yang tercela pun dilakukan, demi bisa menyatukan cintanya dengan Yusuf as, namun justru Allah jauhkan Yusuf dari dirinya. Namun ketika dia mulai menyadari kesalahannya, justru Allah berikan Yusuf kepadanya. Lihat pula begitu besar cintanya Ya’kub kepada anaknya, Yusuf, hingga kehilangan Yusuf sampai membutakan matanya lantaran kesedihan, berbagai upaya dilakukan untuk mencarinya tidak membuahkan hasil, namun bi’idznillaah, kesabaran hati Ya’kub berakhir dengan bertemunya dia dengan Yusuf dalam kondisi yang terbaik.

Kalaupun tidak kesampaian, sebagaimana kasus Mughits terhadap Bariroh, tetap yakinlah bahwa jika hal yang tidak syar’i kita tinggalkan karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik, entah di dunia, entah di akhirat. Rasulullah bersabda:

من ترك شيئا لله عوضه الله خيرا منه

“Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik darinya” (Musnad Imam Ahmad, 5/78)

Mengenyampingkan perasaan cinta ini memang tidak mudah, dalam hal ini akal dan wahyu harus lebih dominan daripada perasaan, coba fikirkan apa yang bisa dilakukan kalau semua pintu syar’i menuju pernikahan dengan yang dicintai telah tertutup, setidaknya tertutup dalam pandangan manusia?. Mau nekat melakukan yang dilarang Allah? Siapkah menanggung derita yang justru tidak akan berakhir?. Hanya ada dua pilihan dalam hal ini, bersabar dan rela atau binasa.

4) Banyak-banyak mengingat mati. Kalau semua hal itu sudah dicoba dan masih terasa berat juga, maka banyak-banyaklah ingat akan kematian, jika kita tetap taat dalam kondisi sulit ini, yakinlah semuanya pasti berlalu, hidup didunia hanya sebentar. Namun jika kita mencari jalan lain yang tidak syar’i, yakinlah cinta itu juga akan berlalu dalam tempo yang relatif singkat sementara pertanggungjawaban yang berat dan kekal akan menghadang di sana. Allaahu A’lam. (M. Taufik NT)

Loading...